• Breaking News

    3/slider-recent
  • nasional

    4/nasional/post-per-tag

    Sijunjung

    4/sijunjung/feat-tab

    Pasaman Barat

    5/pasaman barat/feat-tab

    Ketua KONI Sijunjung, Rusdianto Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1447 H/ 2026 M.

     

    Ketua KONI Sijunjung, Rusdianto beserta Keluarga. 

    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Dalam suasana penuh kebahagiaan dan keberkahan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sijunjung yang juga merupakan Pengusaha Muda asal Sijunjung, Rusdianto menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat.

    “Atas nama pribadi dan keluarga, kami mengucapkan selamat Idul Fitri 1447 H / 2026 M. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga di hari yang suci ini, kita semua kembali menjadi pribadi yang lebih baik, penuh keikhlasan, dan semangat untuk terus berkarya,” ujarnya. 

    Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Sijunjung. Menurutnya, kemajuan daerah dapat terwujud melalui kerja sama, semangat gotong royong, serta peran aktif generasi muda dalam berbagai bidang.

    Dengan semangat Idul Fitri, diharapkan tercipta kebersamaan dan kepedulian sosial yang semakin kuat demi masa depan Sijunjung yang lebih baik. (Andri)

    Pulang Kampung, Menjemput Rindu

    Oleh : H Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H

    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)

     

    Alhamdulillah, Allah masih memberi kita hati untuk merasakan rindu...
    Rindu kepada kampung halaman...
    Rindu kepada orang-orang yang pernah kita cintai...
    Dan mungkin...rindu kepada diri kita yang dulu.

    Ada sebuah ungkapan yang menyentuh:
    Maksud hati mau pulang kampung untuk menjemput rindu, tetapi adakah rindu tersisa di sana.

    Kalimat ini sederhana...tapi dalam maknanya.

    Kita sering ingin pulang...
    Pulang ketempat kita dibesarkan...
    Pulang untuk mengobati rindu yang lama terpendam.

    Namun pertanyaannya ...
    Apakah yang kita rindukan itu masih ada?

     



    Bisa jadi...
    Orang tua yang dulu menjambut kita di depan pintu...kini sudah tiada.
    Teman-teman masa kecil...kini sibuk dengan kehidupannya masing-masing.
    Rumah yang dulu hangat ...kini terasa asing.

    Lalu kita sadar...
    Bahwa yang kita rindukan bukan sekedar tempat...
    Tetapi waktu yang telah berlalu.

    Di sinilah letak pelajaran penting bagi kita.
    Bahwa hidup ini terus berjalan...
    Dan dunia ini tidak pernah menetap dalam satu keadaan.

    Allha berfirman dalam Al-Qur'an: 

    setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian...
    Artinya, perpisahan adalah bagian dari kehidupan.


    Maka jangan sampai kita terlambat...

    Jangan menunggu rindu menumpuk baru kita pulang.
    Jangan menunggu kehilangan baru kita menghargai.

    Kalau hari ini orang tua kita masih ada... peluklah mereka.
    Kalau hari ini keluarga masih lengkap...
    Luangkan waktu untuk mereka.

    Karena bisa jadi...
    Kesempatan itu tidak akan datang dua kali.

    Namun ada satu rindu yang tidak boleh kita lupakan...
    Yaitu rindu kepada Allah.

    Seringkali kita sibuk merindukan kampung halaman...
    Tapi lupa merindukan tempat asal kita yang sebenarnya...yaitu akhirat.

    Kita ingin pulang ke kampung...
    Tapi apakah kita juga rindu untuk "pulang" kepada Allah?

    Kapan terakhir kita menangis dalam doa?
    Kapan terakhir kita merasa dekat dengan-Nya?

    Jangan sampai...
     Kita jauh dari Allah, tapi merasa baik-baik saja.

    Karena sejatinya...
    Rindu yang hakiki adalah rindu seorang hamba kepada Rabb-nya.

    Maka kitika kita pulang kampung...
    Jangan hanya menjemput kenangan...
    Tetapi jemputlah juga keberkahan.

    Perbaiki hubungan dengan keluarga...
    Minta maaf atas kesalahan...
    Dan yang paling penting...
    Perbaiki hubungan kita dengan Allah.

    Agar ketika kita pulang...
    Kita tidak hanya membawa rindu...
    Tetapi juga membawa perubahan.

    Karena boleh jadi...
    Yang kita cari selama ini bukan kampung halaman...
    Tetapi ketenangan hati.

    Dan ketenangan itu...
    Hanya ada ketika kita dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.


    Salam
    LH

    Ramadan Pergi, Adakah Perubahan?

    Oleh : H Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H

    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)



    Ramadan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun hari ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama:

    Ramadan akan pergi... tetapi adakah kita berubah?


    Selama satu bulan, kita telah menjalani barbagai ibadah: kita menahan lapar dan dahaga kita bangun di sepertiga malam untuk salat, kita membaca Al-Qur'an, kita memperbanyak sedekah.


    Namun ketahuilah, semua itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Allah menetapkan puasa dengan satu tujuan utama, yaitu agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.


    Artinya, ukuran keberhasilan Ramadan bukan pada berapa hari kita berpuasa, tetapi pada seberapa besar perubahan dalam diri kita setelahnya.


    Coba kita tanya pada diri kita masing-masing:

    • Apakah setelah Ramadan kita lebih rajin salat?

    • Apakah lisan kita lebih terjaga dari ghibah dan dusta?

    • Apalah hati kita lebih lembut dan mudah memaafkan?

    • Apakah kita lebih dekat kepada Al-Qur'an?


    Jika jawabannya "iya", maka itu tanda bahwa Ramadan kita berhasil.


    Namun jika setelah Ramadan kita kembali pada kebiasaan lama–lalai dalam salat, ringan dalam maksiat–maka kita perlu khawatir. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa mendapatkan perubahan.


    Rasulullah bersabda:

    "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."


    Na'udzubillah...


    Para ulama mengatakan, tanda diterimanya amal adalah adanya  istiqamah setelahnya.


    Ramadan melatih kita bangun malam–apakah setelah Ramadan kita masih menjaga salat malam walau hanya dua rakaat?

    Ramadan membiasakan kita membaca Al-Qur'an–apakah setelahnya mushaf masih kita buka?

    Ramadan melatih kita bersedekah–apakah setelahnya tangan kita tetap ringan memberi?


    Jika ibadah itu berhenti seiringi berakhirnya Ramadan, maka kita perlu memperbaiki niat kita. Karena sesungguhnya kita tidak menyembah Ramadan, tetapi kita menyembah Allah, Rabb-nya Ramadan.


    Orang-orang saleh terdahulu justru bersedih saat Ramadan berakhir. Mereka menangis, bukan karena lelah berpuasa, tetapi takut amal mereka tidak diterima.


    Mereka bahkan berdoa selama enam bulan setelah Ramadan: "Ya Allah, terimalah amal kami di bulan Ramadan."


    Subhanallah... 


    Sementara kita, terkadang justru merasa lega ketika Ramadan selesai. Ini yang perlu kita renungkan.


    Mari kita jadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan dalam hidup kita. Jangan biarkan ia berlalu tanpa bekas.


    Mulailah dari hal kecil: Jaga salat lima waktu, Luangkan waktu untuk Al-Qur'an, Biasakan sedekah walau sedikit, Jaga hati dan lisan.


    *Ramadan boleh pergi, tetapi ketaatan jangan ikut pergi.*

    *Ramadan boleh berlalu, tetapi kedekatan kepada Allah harus tetap terjaga.*


    Salam

    LH

    Inilah Fakta Komitmen Satker PJN II Menjaga Jalan Nasional


    PADANG (sumbarkini.com) – Di balik liukan aspal yang membelah perbukitan Pesisir Selatan, ruas jalan nasional Padang-Painan-Kambang menjadi urat nadi yang tak ternilai bagi masyarakat Sumatera Barat. Menanggapi riak pemberitaan mengenai penanganan longsoran di jalur tersebut, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah II Provinsi Sumatera Barat, Masudi, ST., MT, hadir memberikan tabir kejelasan demi transparansi publik.


    Bagi Satker PJN II, setiap suara dari masyarakat dan pena awak media adalah cermin untuk menjaga integritas pembangunan. Namun, sebuah fakta teknis perlu diletakkan pada tempatnya agar persepsi tidak bias oleh pandangan kasat mata.


    Terkait celah yang terlihat di antara pondasi struktur dan tanah dasar sebagaimana yang sempat mengundang tanya, Masudi menjelaskan bahwa hal itu bukanlah cacat dari lahirnya sebuah konstruksi.


    "Celah yang berada di belakang pondasi itu merupakan dampak dari aktivitas penanaman kabel optik oleh pihak terkait. Sayangnya, proses penimbunan kembali setelah penggalian kabel tersebut tidak dilakukan secara sempurna," ungkap Masudi. 


    Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut adalah faktor eksternal dan bukan merupakan bagian dari kegagalan konstruksi utama.





    Dinding Penahan Tebing (DPT) yang berdiri tegak di jalur tersebut bukanlah sekadar tumpukan material. Masudi merinci bahwa setiap jengkal pekerjaan telah melewati 'ujian' teknis yang ketat: me ggunakan material pilihan dan kepadatan ya maksimal.

    Timbunan yang digunakan adalah material pilihan yang telah lulus uji laboratorium dan memenuhi standar spesifikasi. Kemudian proses pemadatan dilakukan dengan alat pemadat khusus dan telah divalidasi melalui density test (tes kepadatan) untuk memastikan daya dukung tanah yang stabil.


    Dalam penjelasannya, Masudi menekankan bahwa tembok penahan dari beton bertulang tersebut tidak mengalami kerusakan dini. Tidak ditemukan gejala kegagalan struktural yang dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.


    "Untuk menentukan sebuah bangunan mengalami gejala kegagalan struktural, diperlukan penelitian mendalam, peralatan uji khusus, dan dianalisis oleh para ahli di bidangnya. Hal ini tidak bisa disimpulkan hanya dengan pandangan kasat mata," tegasnya dengan lugas.


    Klarifikasi ini menjadi pesan kuat bahwa infrastruktur nasional dibangun dengan perhitungan matang. Jalur Padang-Painan kini tetap berdiri kokoh, siap menyambut deru kendaraan yang melintas di tengah indahnya bentang alam Sumatera Barat, membawa harapan dan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat luas. (*/nelvi)

    Sastrawan Kebanggaan Sumbar Terbaring Sakit, Irfendi: Sakitnya Cukup Sampai di Sini, Kami Kehabisan Bahan Sastra

    Payakumbuh (sumbarkini.com) - Sastrawan hebat Sumatera Barat, kebanggaan Kota Payakumbuh, Iyut Fitra kini terbaring sakit. Sudah satu tahun lebih penulis Cerpen Wanita Berpayung Hitam dan Wartel itu, kini hanya menghabiskan waktu di pembaringannya, menahan sakit tak terkira. Badannya pun kian kurus menjadi pertanda.

    Apa sakitnya? Pria yang akrab dipanggil Kuyut itu hanya minta doa. ”Doakan saja, mudah-mudahan penyakit ini segera diangkat Allah, dan Kuyut bisa kembali beraktivitas seperti biasanya,” harap pria yang aktif di Sanggar seni Intro Payakumbuh itu.

    Kunjungan rekan-rekan yang mengenalnya, termasuk para jurnalis di Kota Batiahi itu sembari menjadi pelipur lara bagi pemilik nama Zulfitra itu. Apalagi dalam kunjungan tersebut para rekannya itu membawa donasi yang digalang untuk meringankan beban saudara mereka itu. 

    ”Alhamdulillah, sampaikan rasa terima kasih atas donasi/bantuan bapak/ibu dan dermawan semuanya, semoga dibalasi Allah dengan kebaikan,” ucap yang banyak meraih penghargaan tingkat nasional itu, Minggu 15 Maret 2026.

    Irfendi, Bupati Limapuluh Kota periode 2016-2021 juga turut menunjukkan kepeduliannya. Senin, 16 Maret 2026, Irfendi mengunjungi Iyut Fitra di kediamannya di Padang Tangah Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuh Barat.

    ”Pagi ini kami sengaja datang untuk melihat langsung kondisi sastrawan kebanggaan Sumatera Barat, Iyut Fitra yang terbaring sakit sejak tahun lalu, semoga kedatangan kami dapat terus memberikan semangat agar ia kembali sehat,” ungkapnya.

    Dengan berseloroh, Irfendi menyebut bahwa sastrawan tidak boleh lama-lama sakit, sebab karyanya ditunggu oleh masyarakat. ”Sakitnya cukup sampai di sini, sebab kalau sakit terus, kami kehabisan bahan bacaan/sastra untuk dibaca atau dinikmati.”ucap politisi yang dikenal luas kepeduliannya itu.  (nelvi)


    Memperbaiki Hubungan dengan Orang Tua

    Oleh : H Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H

    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)

     

    Dalam perjalanan hidup, tidak semua hubungan berjalan mulus, termasuk hubungan kita dengan orang tua. Kadang terjadi salah paham, perbedaan pendapat, bahkan mungkin ada kata-kata yang pernah melukai hati. Namun sebagai seorang muslim, kita diajarkan bahwa memperbaiki hubungan dengan orang tua adalah salah satu amal yang sangat dicintai oleh Allah.

    Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 23:
    "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya."

    Perhatikan, setelah perintah menyembah Allah, langsung diikuti dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukan betapa tingginya kedudukan mereka dalam islam.

    Sering kali kita lupa betapa besar pengorbanan orang tua kita, ibu yang mengandung kita selama sembilan bulan dengan penuh kesabaran. Ia merasakan sakit saat melahirkan, tetapi tetap tersenyum melihat kita lahir kedunia. Ayah bekerja keras siang dan malam demi memenuhi kebutuhan keluarga.

    Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga mengingatkan kita dalam QS. Luqman ayat 14 bahwa manusia diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah dan juga kepada kedua orang tuanya.

    Namun sayangnya, ketika kita sudah dewasa, kadang kita mudah meninggikan suara kepada orang tua. Kita merasa lebih tahu, lebih benar, bahkan kadang membantah mereka dengan kata-kata yang tidak pantas.

    Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memperingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 23:
    "Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

    Jika kata "ah" saja tidak boleh, apalagi kata-kata kasar yang bisa melukai hati mereka.

    Kalau hari ini hubungan kita dengan orang tua belum baik, jangan menunggu sampai terlambat. Jangan menunggu sampai mereka sudah tiada baru kita menyesal.

    Banyak orang menangis di makam orang tuanya sambil berkata, "Seandainya dulu aku lebih lembut kepada mereka... seandainya dulu aku sering pulang... seandainya dulu aku sempat meminta maaf."

    Tetapi penyesalan itu tidak bisa mengembalikan waktu.

    Rasulullah bersabda bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua. Betapa besar kedudukan mereka di sisi Allah.

    Memperbaiki hubungan dengan orang tua sebenarnya tidak sulit. Kadang cukup dengan hal-hal sederhana: menelepon mereka, menanyakan kabar mereka, membantu mereka, atau sekedar duduk dan mendengarkan cerita mereka.

    Dan jangan lupa untuk selalu mendoakan mereka. Allah mengajarkan doa yang sangat indah dalam QS. Al-Isra ayat 24:
    "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."

    Doa ini mengingatkan kita bahwa kasih sayang orang tua kepada kita sejak kecil tidak akan pernah bisa kita balas sepenuhnya.

    Selagi orang tua kita masih hidup, bahagiakan mereka. Mintalah doa mereka. Karena doa orang tua adalah salah satu doa yang sangat mudah diijabah oleh Allah.

    Jangan sampai kita menjadi anak yang baru menghargai orang tua ketika mereka sudah tidak ada.

    Mari kita pulang ke rumah dengan hati yang lembut. Jika pernah menyakiti hati orang tua, segeralah meminta maaf. Jika hubungan sempat renggang, berusahalah memperbaikinya.

    Kiranya Allah melembutkan hati kita, menjadikan kita Anak-anak yang berbakti kepada orang tua, dan memberikan keberkahan dalam hidup kita.


    Salam
    LH.

    DPP KJI Sambungkan Tali Kasih Donatur kepada 177 Insan Pers dan Warga Kota Padang

    Padang (sumbarkini.com) – Dewan Pimpinan Pusat Kolaborasi Jurnalis Indonesia (DPP KJI) kembali menunjukkan komitmennya sebagai wadah kebersamaan bagi insan pers lewat kegiatan bertajuk ‘Tali Kasih’. Senin, 16 Maret 2026, KJI bagikan 177 paket sembako kepada rekan jurnalis lintas organisasi pers dan masyarakat umum di kantornya Jalan Delima No.77 F Ujung Gurun, Kota Padang, Sumatera Barat .

    Kepedulian sosial ini, menurut Ketua Umum KJI Andarizal menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat solidaritas di kalangan insan pers. Mempererat hubungan antarsesama jurnalis serta masyarakat di sekitar mereka.

    Andarizal menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya ingin menjadi rumah yang nyaman bagi para pekerja media di seluruh Indonesia. “KJI adalah rumah bagi para insan pers. Melalui kegiatan Tali Kasih ini, kami ingin memastikan solidaritas di antara jurnalis tetap terjaga. Ini juga bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap sesama rekan profesi dan masyarakat,” ujar Andarizal.

    Diungkapkannya, kegiatan sosial tersebut bukan hanya program insidentil. DPP-KJI akan menjadikannya sebagai agenda rutin tahunan organisasi.

    Dalam kegiatan itu, DPP KJI membentuk panitia yang bertugas menyalurkan 177 paket Tali Kasih kepada berbagai penerima manfaat. Rinciannya, 100 paket diberikan kepada anggota yang berada di bawah naungan DPP-KJI serta sejumlah jurnalis lainnya dari berbagai organisasi pers. Sementara 77 paket disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan di luar lingkungan pers sebagai bagian dari tanggung jawab sosial profesi jurnalis.

     

    Andarizal tentu saja menyampaikan penghargaan kepada para donatur yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kontribusi para dermawan memungkinkan organisasi untuk berbagi kebahagiaani momen jelang Idul Fitri ini dengan lebih banyak orang.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah mempercayakan amanahnya kepada kami. Semoga kolaborasi semangat kebersamaan dan kepedulian ini terus tumbuh di hati seluruh anggota KJI di mana pun berada,” katanya.

    DPP-KJI berharap aksi “Tali Kasih” dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk memperluas kolaborasi dalam meningkatkan kesejahteraan serta solidaritas di kalangan insan pers di seluruh Indonesia.

    “Jadi, meski berakar di Sumatera Barat, jaringan DPP-KJI kini telah berkembang ke berbagai provinsi serta kabupaten dan kota di Indonesia. Melalui kegiatan sosial seperti ini, organisasi ingin menunjukkan bahwa profesi jurnalis tidak hanya identik dengan ketajaman berita, tetapi juga dengan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat, tegasnya.

     

    Senada dengan itu, Ketua Nasional KJI Irvand turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosial yang dilakukan oleh Kolaborasi Jurnalis Indonesia tersebut. Menurutnya, aksi ‘Tali Kasih’ mencerminkan nilai dasar yang seharusnya dimiliki setiap insan pers, yakni kepedulian sosial dan semangat kebersamaan.

    “Program seperti ini menunjukkan bahwa jurnalis tidak hanya hadir untuk menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosialnya. Saya mengapresiasi langkah DPP-KJI yang terus menjaga semangat solidaritas di antara wartawan sekaligus berbagi dengan masyarakat. Terima kasih juga KJI Kota Padang yang telah turut menyukseskan kegiatan kita ini,” ujar Irvand.

    Ia juga menilai kegiatan tersebut dapat menjadi contoh positif bagi komunitas pers di berbagai daerah agar lebih aktif membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

    “Ketika jurnalis bersatu dalam kegiatan kemanusiaan seperti ini, kehadiran pers akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Saya berharap kegiatan ‘Tali Kasih’ ini terus berlanjut dan dapat menginspirasi organisasi pers lainnya di Indonesia,” tambahnya. (*)

     

    Maxim Sumbar Salurkan Sembako Ramadan untuk Mitra Pengemudi di Tiga Kota

    Padang (sumbarkini.com) - Maxim di wilayah Sumatera Barat menyelenggarakan program berbagi sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan mitra pengemudi. Kegiatan ini dilaksanakan di beberapa kota di Sumatera yaitu Padang, Pariaman, dan Batu Sangkar. Penyaluran bantuan dilakukan di Kantor Maxim di masing masing kota tersebut dan diikuti oleh mitra pengemudi dari berbagai latar belakang. 

    Bantuan berupa paket sembako yang terdiri dari beras, minyak goreng, gula, dan mie instan. Maxim juga membagikan hampers berisi kudapan khas Hari Raya. Ini diharapkan dapat membantu para mitra pengemudi dalam memenuhi kebutuhan Ramadan dan Hari Raya.

    Head of Subdivision Maxim Padang, Rachmat Ari Yarman, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan kepada para mitra pengemudi yang telah berkontribusi dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

    “Kami ingin menjadikan Ramadan sebagai momen untuk berbagi dan  memberikan dukungan kepada para mitra pengemudi. Semoga bantuan yang disalurkan dapat membantu memenuhi kebutuhan selama bulan puasa serta menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para mitra,” ujar Rachmat.

     


    Ia juga menambahkan bahwa perusahaan akan terus menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi mitra pengemudi di berbagai daerah. 

    Maxim Sumbar salurkan paket sembako.

     

    Apresiasi disampaikan oleh salah satu mitra pengemudi Maxim di Batu
    Sangkar, Nurfajri Aini, yang merasakan langsung manfaat dari bantuan
    tersebut. “Bantuan sembako ini sangat berarti bagi kami, terutama selama bulan
    Ramadan dan Lebaran ketika kebutuhan rumah tangga meningkat. Kami merasa senang
    karena perusahaan memberikan perhatian kepada para mitra pengemudi,”
    ujar Nurfajri.

    Program lainnya sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap pengemudi adalah potongan aplikator nol persen bagi mitra pengemudi penyandang disabilitas yang dihadirkan sebagai upaya
    perusahaan dalam menciptakan kesempatan yang lebih inklusif bagi seluruh mitra.

    Di samping itu, perusahaan transportasi online ini juga menyatakan kesiapan untuk menyalurkan Bonus Hari Raya kepada mitra pengemudi. Bonus tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi perusahaan atas kontribusi para mitra pengemudi dalam mendukung operasional layanan Maxim. (*/elsi)


    Wabup Sijunjung Buka Puasa Bersama dan Berbagi Dengan Jamaah Mushollah Nurul Hidayah Pematang Panjang.

     

    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Wakil Bupati Sijunjung, H. Iraddatillah, S. Pt melaksanakan buka puasa bersama sekaligus sholat isya, tarwih, dan witir dengan jamaah Mushollah Nurul Hidayah Jorong Parak Gadang, Nagari Pematang Panjang, Kecamatan Sijunjung pada Jum'at 13 Maret 2026.

    Selain buka puasa bersama, Wabup Iraddatillah juga berbagi paket sembako dan kain sarung dengan jemaah mushollah.

    Wabup Iraddatillah dikesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada semua jemaah Mushollah Nurul Hidayah yang hadir untuk mengikuti buka puasa sekaligus sholat isya, tarwih dan witir secara bersama sama.

    "Kami mengucapkan terima kasih kepada kita semua yang hadir di mushollah ini untuk berbuka puasa bersama. Semoga silaturahmi ini bisa tetap terjaga, dan kita selalu diberikan kesehatan sehingga bisa kembali bertemu dengan bulan suci ramadhan tahun depan, " ujar Wabup.



    Kegiatan buka puasa bersama ini lebih terasa bermakna dengan penyampaian tausyah agama oleh buya Amrizal, S. Ag, MM dengan judul yaitu bagaimana sifat kita kepada petunjuk yang telah diberikan oleh Allah Swt.

    " Apapun yang kita lakukan dan kita ucapkan adalah Ibadah, tetapi dengan niat karena Allah /lillahitaala, dan iklas melaksanakannya, "ucap buya Amrizal. 

    (Andri). 


    PMI Salurkan Bantuan Non-Tunai untuk 858 Keluarga Penyintas Bencana di Sumatera Barat.

    PADANG (Sumbarkini.com) - Selain Huntara, Palang Merah Indonesia (PMI) juga menyalurkan Bantuan Non-Tunai (BNT) untuk masyarakat yang terdampak Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Sumatera Barat. Jum'at (13/3) PMI Provinsi Sumatera Barat menyalurkan secara serentak Bantuan Non-Tunai masyarakat terdampak di dua wilayah yang terdampak cukup parah, yaitu Kabupaten Agam dan Kota Padang.

    Senilai 858 Juta dana disalurkan untuk 858 Keluarga penyintas bencana di dua wilayah tersebut. “Masing-masing keluarga mendapatkan BNT senilai 1 juta rupiah” ucap Ketua PMI Provinsi Sumatera Barat, Aristo Munandar pada saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan BNT untuk warga kota Padang di Palanta Walikota Padang."Sebanyak 544 KK di Kabupaten Agam dan 314 KK di Kota Padang" Terang Aristo. 

    Penyerahan Bantuan Non-Tunai ini, lanjut Aristo, telah melalui proses yang cukup panjang. Dilakukan melalui penilaian bersama antara masyarakat terdampak, pemerintah setempat, kecamatan, PMI, serta IFRC, sehingga data penerima benar-benar valid. Mulai dari assessment dampak bencana terhadap calon penerima manfaat, hingga verifikasi data pemerintah daerah melalui KTP dan Kartu Keluarga, imbuhnya. 

    Beberapa kriteria juga harus dipenuhi oleh calon penerima manfaat, sambungnya adalah masyarakat yang rumahnya rusak berat atau hanyut akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor. PMI juga memastikan rumah tersebut merupakan rumah milik pribadi calon penerima manfaat. 

    Selain itu, calon penerima BNT adalah masyarakat yang belum mendapatkan bantuan Hunian Sementara atau Hunian Tetap dari pemerintah. Terakhir, Tidak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil atau Pejabat Pemerintah, Polisi maupun militer. 

    "Kami juga menilai kerentanan calon penerima manfaat BNT ini. Seperti Lansia, Ibu Hamil, Anak-anak, Disabilitas, dan Perempuan yang sebagai kepala keluarga" Tambah Aristo. Dalam penyaluran bantuan ini, PMI bekerjasama dengan PT. Pos Indonesia

    Walikota Padang, Fadly Amran, yang turut hadir dalam seremonial penyerahan BNT di Palanta Rumah Dinas Walikota Padang, juga menyampaikan apresiasi yang begitu tinggi atas dukungan yang diberikan oleh PMI. Kehadiran PMI saat ini telah meringankan beban ekonomi masyarakat, "apalagi sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H" Ujar Fadly. 

    Bantuan PMI, diakui Fadly sudah dirasakan sejak awal kejadian bencana November tahun lalu. "Mulai dari sembako, kebutuhan rumah lainnya, hingga dukungan membersihkan rumah. Bahkan sampai saat ini bantuan air bersih untuk masyarakat dari PMI juga masih berjalan" Pungkas Fadly

    Ia juga menyampaikan Terimakasih kepada masyarakat Indonesia yang telah berdonasi bersama PMI selama ini. 

    Rasa haru dan syukur juga disampaikan oleh Widya (45) warga Tabiang Banda Gadang, salah satu wilayah terdampak bencana yang cukup parah di Kota Padang. Bantuan yang ia terima hari ini, bagi Widya akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan menyambut  lebaran juga membayar sewa rumah yang ia tempati sementara ini. 

    "Sekarang masih ngontrak, karna rumahnya sudah tidak bisa dihuni. Alhamdulillah bisa nambah bayar uang sewanya" Tutur Widya. 

    (Humas PMI Sumbar) 

    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2