• Breaking News

    Warga Tarbiyah-PERTI Harus Amalkan Pancasila dan Jaga NKRI

    Padang - Nilai-nilai Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus ditanamkan kepada warga negara. Hal yang dikenal dengan Empat Pilar ini dinilai mampu mempersatukan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama ras dan bahasa daerah ini, hingga kini. Empat Pilar pun diyakini mampu menangkal berbagai tantangan, hambatan dan ancaman dari dalam dan luar negeri, asal dipahami, dihayati, diamalkan dan dilestarikan.

    Hal ini terungkap dalam sosialisasi empat pilar yang dilaksanakan Anggota DPD RI - MPR RI, H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah - PERTI) Sumbar, Sabtu (10/2). Kegiatan yang diikuti 150 peserta dari kalangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-PERTI) ini memunculkan diskusi hangat seperti munculnya paham radikal dan serangan mematikan lewat narkoba dan LGBT. Para narasumber seperti H. Leonardy Harmainy (Anggota MPR RI), Kolonel Asep Afandi (Kasiter Rem 032/Wirabraja), Prof. Dr. Sufyarma Marsidin (Akademisi, Guru Besar UNP) dan Desrianto Boy (Badan Pemberdayaan Masyarakat Sumbar) mampu memancing antusiasme peserta mengikuti kegiatan tersebut.

    "Gencarnya paham radikal, derasnya narkoba masuk ke negara kita dan maraknya LGBT harus menyadarkan kita akan besarnya ancaman terhadap negara kita. Mereka berupaya mencegah Indonesia jadi negara besar dan maju. Yakinlah dengan empat pilar yang kembali gencar disosialisasikan ini mampu menyadarkan, menggugah dan memunculkan tekad kuat seluruh warga negara untuk menjaga NKRI," ujar H. Leonardy di hadapan majelis taklim dan mahasiswa dari kalangan Tarbiyah-PERTI Sumbar.

    Leonardy menyatakan bagi warga Tarbiyah-PERTI terutama kalangan tua sudah sangat paham dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan sudah mendarah daging. Semua karena sering mendapat pelatihan hingga sangat memahami, mampu menghayati dan mau mengamalkan dalam kehidupan. Hanya saja pembelajaran empat pilar ini harus terus dilakukan terutama bagi generasi muda Tarbiyah-PERTI.

    Leonardy mengungkapkan kekhawatirannya terhadap generasi muda. Dia pun mengingatkan mereka untuk tidak terpengaruh oleh paham radikal. Paham radikal ini masuk lewat pemaparan contoh keseharian yang sulit dibantah. Mereka berhasil menanamkan pengaruhnya hingga di Sumbar kecenderungan terhadap paham radikal ini cukup tinggi. 

    "Bahkan ada suami yang melarang isterinya bekerja sebagai pegawai negeri (ASN) lantaran melihat pada waktu shalat, sedikit sekali yang melaksanakan shalat. Apalagi berjamaah. Dia pun melarang anak-anaknya sekolah. Sungguh perlu perhatian kita bersama dan tindakan nyata untuk meredamnya," ungkapnya tegas.

    Persoalan LGBT juga mengkhawatirkan. Sumbar kini diberitakan tertinggi LGBT-nya. Ini menyakitkan buat Ranah Minang yang kuat dengan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Orang tua diminta lebih memperhatikan anak-anaknya. Jangan hanya mengandalkan guru di sekolah/madrasah maupun pemerintah.

    Masyarakat pun diminta untuk mengawasi dan melaporkan ke pihak berwajib jika menemukan perilaku menyimpang ini. DPR telah tegas menolak LGBT dan mempersiapkan aturan hukumnya. Perilaku kawin sejenis terkategori pidana. "Ayam saja yang hanya punya nafsu tak mau kawin sejenis. Apalagi manusia yang dibekali dengan akal dan fikiran. Telah banyak yang mengungkap akibat negatif LGBT," ujarnya. 

    Ketua Tarbiyah-PERTI, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin pun mengimbau warga Tarbiyah-PERTI untuk proaktif menyikapi masalah kebangsaan. Mereka diingatkan untuk membangun kesadaran diri untuk tidak terlibat dengan hal-hal yang mengancam kedaulatan bangsa. 

    Dia memaparkan paham radikal, narkoba, LGBT itu seolah disengaja untuk melemahkan bangsa kita. Melemahkan karakter anak bangsa. Dia juga meminta agar tidak menyamakan kebanggaan terhadap minangkabau menjadikan kita menginginkan status istimewa, apalagi mendirikan negara Minangkabau pula.

    "Kebanggaan terhadap daerah jangan menggeser Pancasila. Nilai-nilai empat pilar itu cocok dengan agama kita," tegasnya.

    Kolonel Asep Afandi secara gamblang menyatakan emapt pilar perli terus disosialisasikan. Dia mengibaratkan dengan sosialisasi yang dilakukan kru pesawat. Tiap terbang terus diingatkan seputar keselamatan bagi penumpang pesawat. Saking seringnya mereka hapal, paham bahkan punya gaya sendiri-sendiri untuk mencontohkannya kepada penumpang.

    Desrianto Boy dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Sumbar yang membahas UUD 1945 mengingatkan untuk menyikapi amandemen UUD 1945 secara arif. Ada hal yang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. 

    Perubahan hanya ada di bagian Batang Tubuh. Sementara pembukaan UUD harus tetap dipertahankan. (fad)

    Tidak ada komentar

    Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...