• Breaking News

    Ramadan Pergi, Adakah Perubahan?

    Oleh : H Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H

    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)



    Ramadan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun hari ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama:

    Ramadan akan pergi... tetapi adakah kita berubah?


    Selama satu bulan, kita telah menjalani barbagai ibadah: kita menahan lapar dan dahaga kita bangun di sepertiga malam untuk salat, kita membaca Al-Qur'an, kita memperbanyak sedekah.


    Namun ketahuilah, semua itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Allah menetapkan puasa dengan satu tujuan utama, yaitu agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.


    Artinya, ukuran keberhasilan Ramadan bukan pada berapa hari kita berpuasa, tetapi pada seberapa besar perubahan dalam diri kita setelahnya.


    Coba kita tanya pada diri kita masing-masing:

    • Apakah setelah Ramadan kita lebih rajin salat?

    • Apakah lisan kita lebih terjaga dari ghibah dan dusta?

    • Apalah hati kita lebih lembut dan mudah memaafkan?

    • Apakah kita lebih dekat kepada Al-Qur'an?


    Jika jawabannya "iya", maka itu tanda bahwa Ramadan kita berhasil.


    Namun jika setelah Ramadan kita kembali pada kebiasaan lama–lalai dalam salat, ringan dalam maksiat–maka kita perlu khawatir. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa mendapatkan perubahan.


    Rasulullah bersabda:

    "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."


    Na'udzubillah...


    Para ulama mengatakan, tanda diterimanya amal adalah adanya  istiqamah setelahnya.


    Ramadan melatih kita bangun malam–apakah setelah Ramadan kita masih menjaga salat malam walau hanya dua rakaat?

    Ramadan membiasakan kita membaca Al-Qur'an–apakah setelahnya mushaf masih kita buka?

    Ramadan melatih kita bersedekah–apakah setelahnya tangan kita tetap ringan memberi?


    Jika ibadah itu berhenti seiringi berakhirnya Ramadan, maka kita perlu memperbaiki niat kita. Karena sesungguhnya kita tidak menyembah Ramadan, tetapi kita menyembah Allah, Rabb-nya Ramadan.


    Orang-orang saleh terdahulu justru bersedih saat Ramadan berakhir. Mereka menangis, bukan karena lelah berpuasa, tetapi takut amal mereka tidak diterima.


    Mereka bahkan berdoa selama enam bulan setelah Ramadan: "Ya Allah, terimalah amal kami di bulan Ramadan."


    Subhanallah... 


    Sementara kita, terkadang justru merasa lega ketika Ramadan selesai. Ini yang perlu kita renungkan.


    Mari kita jadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan dalam hidup kita. Jangan biarkan ia berlalu tanpa bekas.


    Mulailah dari hal kecil: Jaga salat lima waktu, Luangkan waktu untuk Al-Qur'an, Biasakan sedekah walau sedikit, Jaga hati dan lisan.


    *Ramadan boleh pergi, tetapi ketaatan jangan ikut pergi.*

    *Ramadan boleh berlalu, tetapi kedekatan kepada Allah harus tetap terjaga.*


    Salam

    LH

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...

    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2