Makna Idul Fitri
Oleh : H Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)
Sering kali kita memahami Idul Fitri hanya sebagai hari raya, hari untuk bergembira, berkumpul dengan keluarga, memakai pakaian baru. Semua itu tidak salah. Namun, ada makna yang lebih dalam dari sekadar perayaan.
Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Kembali kepada kesucian, kembali kepada keadaan hati yang bersih, sebagaimana kita dilahirkan ke dunia.
Rasulullah mengajarkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah–bersih, suci, tanpa dosa. Maka Ramadan yang telah kita lalui adalah proses penyucian jiwa. Kita menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Kita memperbanyak ibadah, istighfar, dan doa.
Lalu Idul Fitri datang sebagai tanda: Apakah kita benar-benar kembali menjadi hamba yang bersih?
Kemenangan hari ini bukanlah kemenangan karena kita telah menyelesaikan puasa. Tetapi kemenangan yang sejati adalah:
* Ketika kita mampu menahan amarah
* Ketika kita mampu meninggalkan dosa
* Ketika hati kita menjadi lebih lembut
* Dan ketika kita merasa lebih dekat kepada Allah
Oleh karena itu, di hari Idul Fitri, kita saling memaafkan. Kita datang kepada orang tua, keluarga, sahabat, bahkan orang yang pernah kita sakiti, lalu kita berkata: "Mohon maaf lahir dan batin."
Mengapa? Karena kita ingin kembali kepada Allah dengan hati yang bersih–bukan hanya dari dosa kepada-Nya, tetapi juga dari kesalahan kepada sesama manusia.
Namun ada satu hal penting yang perlu kita renungkan: Apakah setelah Ramadan ini kita berubah?
Jangan sampai Ramadan berlalu, tetapi kita kembali kepada kebiasaan lama. Jangan sampai kita rajin beribadah hanya di bulan Ramadan, lalu setelah itu kita kembali lalai.
Idul Fitri adalah awal, bukan akhir
Awal untuk:
* Menjaga salat kita
* Menjaga lisan kita
* menjaga hati kita
* dan terus mendekat kepada Allah
Kalau setelah Ramadan kita menjadi lebih baik, maka itulah tanda bahwa ibadah kita diterima.
Sebaliknya, jika kita kembali seperti sebelum Ramadan, maka kita perlu khawatir–jangan-jangan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum perubahan. Bukan hanya mengganti pakaian baru, tetapi mengganti hati yang baru. Hati yang lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah.
Salam
LH.

Tidak ada komentar
Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...