Kafir Setelah Beriman
Oleh: Zulhendri Zulkifli Imam Said
Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri kepada Allah).”(QS. Ali ‘Imran: 102)
Suatu ketika, ada seorang tunawisma yang sering singgah dari masjid ke masjid,
menasehati pengurus masjid tentang amanah.
Ia melihat orang memanfaatkan masjid,
namun tidak menjaga fasilitasnya.
Membiarkan air tetap hidup,
membiarkan lampu menyala,
membiarkan AC berjalan tanpa kebutuhan—
padahal itu semua adalah amanah.
bahkan tunawisma itu mengatakan orang yang memahami kebenaran kemudian tidak mengamalkannya sama dengan kafir setelah beriman
Kita tahu, mubazir itu kawannya setan.
Mubazir bukan ciri orang beriman. Jika kita membiarkan kemubaziran yang kita ketahui,
maka kita patut khawatir terhadap iman kita sendiri.
Ucapan itu membuat kita merenung.Bukan pada orang lain,
tetapi pada diri sendiri.
Jangan sampai kita tahu kebenaran,
namun tidak mengamalkannya.
Kita sudah mendengar adzan,
sudah mengenal shalat,
sudah memahami amanah—
namun lalai dalam menjalankannya.
Inilah yang harus kita takutkan.
Bukan sibuk menilai orang lain,
tetapi menjaga diri agar tetap dalam iman.
Karena ilmu tanpa amal
bisa menyeret pada kerugian.
Maka jagalah akhir hidup kita.
Jangan sampai berawal dari iman,
namun berakhir tanpa iman.
Ya Allah, tetapkan kami dalam iman, jauhkan kami dari kelalaian, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.
Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri kepada Allah).”(QS. Ali ‘Imran: 102)
Suatu ketika, ada seorang tunawisma yang sering singgah dari masjid ke masjid,
menasehati pengurus masjid tentang amanah.
Ia melihat orang memanfaatkan masjid,
namun tidak menjaga fasilitasnya.
Membiarkan air tetap hidup,
membiarkan lampu menyala,
membiarkan AC berjalan tanpa kebutuhan—
padahal itu semua adalah amanah.
bahkan tunawisma itu mengatakan orang yang memahami kebenaran kemudian tidak mengamalkannya sama dengan kafir setelah beriman
Kita tahu, mubazir itu kawannya setan.
Mubazir bukan ciri orang beriman. Jika kita membiarkan kemubaziran yang kita ketahui,
maka kita patut khawatir terhadap iman kita sendiri.
Ucapan itu membuat kita merenung.Bukan pada orang lain,
tetapi pada diri sendiri.
Jangan sampai kita tahu kebenaran,
namun tidak mengamalkannya.
Kita sudah mendengar adzan,
sudah mengenal shalat,
sudah memahami amanah—
namun lalai dalam menjalankannya.
Inilah yang harus kita takutkan.
Bukan sibuk menilai orang lain,
tetapi menjaga diri agar tetap dalam iman.
Karena ilmu tanpa amal
bisa menyeret pada kerugian.
Maka jagalah akhir hidup kita.
Jangan sampai berawal dari iman,
namun berakhir tanpa iman.
Ya Allah, tetapkan kami dalam iman, jauhkan kami dari kelalaian, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.
