Pilihan Kereta Api di Tengah Efisiensi
(Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang)
Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Aktifitas manusia tidak berada di alam hampa yang jauh dari yang namanya perubahan. Perubahan itu suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Apalagi dalam menyikapi situasi mutakhir, dimana saat dunia bergejolak, pilihan transportasipun ikut berubah. Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia dan kawasan Timur Tengah telah berdampak pada banyak sektor, terutama energi. Jalur distribusi minyak global terganggu, harga energi berfluktuasi, dan ketidakpastian ekonomi menjadi bayang-bayang bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Di tengah situasi itu, pemerintah dihadapkan pada dilema: menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengendalikan beban subsidi energi. Kebijakan efisiensi pun mulai digulirkan—pengurangan perjalanan dinas, dorongan kerja fleksibel (WFH/WFA), hingga ajakan menggunakan transportasi umum. Di titik inilah, kereta api kembali menemukan momentumnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat mulai merasakan perubahan nyata diantaranya antrian BBM di sejumlah SPBU, kenaikan biaya transportasi udara, ketidakpastian biaya perjalanan darat berbasis bahan bakar. Sebaliknya, kereta api justru menunjukkan tren sebaliknya tiketnya cepat habis, okupansi meningkat, penumpang semakin beragam—pegawai, mahasiswa, pedagang.
Di Sumatera Barat, khususnya jalur Padang–Pariaman, kereta api bahkan menjadi primadona baru. Tiket sering kali ludes dalam waktu singkat. Jika terlambat memesan, pilihan yang tersisa hanyalah tiket berdiri. Hal ini beberapa kali saya rasakan ketika telat memesan tiketnya. Posisi berdiri tiket yang tersedia. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting dimana kereta api bukan lagi sekadar alternatif, tetapi telah menjadi kebutuhan.
Pemerintah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir mendorong kebijakan efisiensi, antara lain pengurangan perjalanan dinas dalam negeri hingga 50%, pengurangan perjalanan luar negeri hingga 70%, dorongan penggunaan transportasi publik dan penguatan pola kerja fleksibel.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam struktur APBN, subsidi energi selalu menjadi komponen besar. Ketika harga energi global bergejolak, tekanan terhadap anggaran negara ikut meningkat. Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menahan kenaikan harga BBM agar tidak membebani masyarakat secara langsung. Namun konsekuensinya, efisiensi di sektor lain menjadi keharusan. Dalam konteks ini, transportasi publik—terutama kereta api—menjadi bagian penting dari solusi.
Mengapa kereta api semakin diminati? Jawabannya terletak pada kombinasi keunggulan yang sulit ditandingi moda transportasi lain.
Pertama pada efisiensi ekonomi dimana kereta api relatif lebih murah dari sisi biaya dibandingkan pesawat (yang tarifnya cenderung naik), kendaraan pribadi (biaya BBM, tol, dan perawatan) dan travel atau ojek online untuk jarak menengah. Dengan harga yang terjangkau, fasilitas yang didapat bahkan sering kali “melebihi ekspektasi”.
Kedua kereta api memberikan kepastian waktu, dimana kereta api dikenal dengan jadwal yang teratur, tepat waktu, minim gangguan kemacetan. Bagi pekerja, pegawai dan mahasiswa, kepastian ini sangat penting.
Ketiga kereta api memberikan kenyamanan layanan. Hal ini ditandai dengan transformasi layanan kereta api dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan, diantaranya pemesanan tiket online, calon penumpang bisa menentukan pilihan kursi saat memesan tiket secara online. Semua gerbong sudah dilengkapi dengan pendingin AC serta kebersihan yang terjaga. Pengalaman perjalanan menjadi lebih modern dan menyenangkan.
Keempat tentu saja memilih moda kereta api memberikan dampak positif untuk efisiensi energi. Kereta api adalah salah satu moda transportasi paling efisien secara energi. Hal ini ditandai dengan banyaknya penumpang yang bisa diangkut sekaligus. Konsumsi energi per orang menjadi lebih rendah ketika menggunakan moda kereta api. Ketergantungan pada BBM secara individu bisa dikurangi melalui pemanfaatan moda kereta api ini. Dalam konteks krisis energi, ini menjadi keunggulan strategis.
Kelima, penumpang yang memanfaatkan moda kereta api merasakan juga manfaat secara sosial. Kereta api bukan hanya alat transportasi, tetapi juga ruang sosial. Menjadi media tempat bertemunya orang baru di atas kereta api. Bisa menjadi ajang silaturahmi antar sesama penumpang, karena kursi penumpang saling berhadapan. Kereta api juga bisa bermanfaat menjadi ruang interaksi lintas latar belakang.
Dengan demikian diperlukan kajian komprehensif dalam perspektif ekonomi dan sosial tentang perkeretaapian. Antara lain banyaknya peminat pengguna jasa moda kereta api, pertama perlu dianalisis menurut perspektif ekonomi dimana penekananan pada aspek efisiensi dan nilai guna. Dalam teori ekonomi, pilihan rasional masyarakat akan mengarah pada penekanan pada harga, dimana mereka berorientasi pada biaya rendah dengan nilai manfaat yang dirasakan tinggi.
Kereta api memenuhi dua kriteria tersebut dimana biaya yang ditawarkan terjangkau serta manfaat yang dirasakan tinggi (kenyamanan, ketepatan waktu dan keamanan). Perspektif ini dapat menjelaskan mengapa permintaan penumpang kereta api meningkat. Hal ini perlu menjadi perhatian dan atensi bagi pengambil kebijakan bahwa moda kereta api sudah menjadi alternatif yang nyaman bagi banyak penumpang dari berbagai kalangan.
Kemudian bisa dianalisis dengan perspektif manajemen jasa, dimana kereta api kini telah bertransformasi menjadi layanan berbasis pengalaman (experience-based service) bahwa pelanggan tidak hanya “berpindah tempat” tetapi juga “menikmati perjalanan”. Kualitas layanan yang meningkat berkontribusi pada loyalitas pengguna. Jadi yang dibutuhkan konsumen tidak hanya aspek manfaat, juga menginginkan kualitas layanan yang membuat mereka nyaman dan terkesan. Nilai kesan positif dan pengalaman yang baik inilah yang membuat citra dan reputasi moda kereta api menjadi meningkat di mata pengguna jasanya.
Ketiga fenomena itu perlu dianalisis dengan perspektif sosial karena kereta api menciptakan ruang publik yang egaliter. Semua kelas sosial bisa berada dalam satu sistem layanan tanpa ada sekat satu dengan yang lain.
Interaksi sosial antara penumpang terjadi secara alami. Ini memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. Kereta api juga menjadi salah satu alternatif tempat perjumpaan teman dan relasi yang sudah lama tidak bertemu. Ada yang menemukan jodohnya, ada yang terkuatkan kembali relasinya melalui kereta api.
Di balik semua itu, masalah perkeretaapian juga memiliki tantangan tersendiri.
Meski memiliki banyak keunggulan, kereta api juga menghadapi tantangan seperti kapasitas gerbong terbatas, tingginya permintaan tidak selalu diimbangi pasokan dan infrastruktur rel yang belum merata. Di beberapa daerah, termasuk Sumatera Barat, akses masih terbatas pada jalur tertentu. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Pada beberapa kali kesempatan saya menaiki kereta api, padat sekali penumpangnya pada jam-jam tertentu. Hampir lorong menuju tempat duduk sudah diisi oleh penumpang yang berdiri. Suatu kali saya telat pesan tiket, maka saya juga merasakan pengalaman berdiri seperti yang dirasakan oleh pengguna jasa lainnya. Untuk Sumatera Barat (Padang-Padang Pariaman dan Kota Pariaman) rutenya masih dekat dan terbatas.
Dengan demikian diperlukan solusi dan rekomendasi dalam memperkuat peran kereta api dalam melayani kebutuhan mobilitas masyarakat secara cepat dan akurat. Ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi publik.
Pertama penambahan armada dan frekuensi melalui penambahan gerbong dan peningkatan jadwal perjalanan.
Kedua pengembangan infrastruktur diantaranya perluasan jalur rel dan revitalisasi stasiun.
Ketiga integrasi transportasi melalui konektivitas dengan bus, angkutan kota, dan ojek online serta membuat sistem transportasi terpadu.
Keempat yaitu digitalisasi layanan melalui penguatan sistem tiket online dan pemberian nformasi real-time bagi penumpang.
Kelima pentingnya edukasi publik dengan mendorong perubahan gaya hidup dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Tentu semuanya perlu kajian komprehensif dan juga analisis dampak dari kebijakan tersebut pada moda AKDP. Semua stakeholeders harus dilibatkan dan didengarkan. Sebab ada kepala daerah yang meminta PT KAI untuk menambah rute dan lain sebagainya. Ini menunjukan bahwa moda kereta api menjadi alternatif nyaman di tengah gelombang efisiensi.
Kereta api merupakan masa depan mobilitas Indonesia. Kereta api hari ini bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol perubahan—dari gaya hidup boros energi menuju efisiensi, dari ketergantungan individu menuju solusi kolektif.
Di tengah krisis energi global dan tekanan ekonomi, kereta api menawarkan jawaban yang sederhana namun kuat: hemat, nyaman, dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, kereta api tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi masa depan transportasi Indonesia. Hal ini juga akan memberikan infact positif dalam membentuk nilai baru pada perilaku konsumsi masyarakat agar lebih efisien.
Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian dunia, perjalanan dengan kereta api mengajarkan satu hal penting untuk diingat dan dipahami bahwa bergerak maju tidak selalu harus cepat—yang penting adalah tepat, efisien, dan sampai dengan selamat. (*)
