Perjalanan Tak Kenal Lelah Pedagang Sayur ke Ka'bah
PADANG (SUMBARKINI.COM) - Seorang pedagang sayur asal Tanah Datar, Nurlena (64), harus berkutat selama bertahun-tahun dalam tumpukan sayur antara Sumatera Barat dan Riau. Saat banyak orang masih terlelap, Nurlena sudah berada di Pasar Padang Lua, Kabupaten Agam. Di pasar tersebut, ia membeli berbagai jenis sayuran untuk kemudian dibawa ke Pekanbaru dan dijual kembali.
Nurlena bolak-balik melintasi dua provinsi demi mencari nafkah. Perjalanan yang memakan waktu, cuaca yang tak menentu, serta lelah yang menguras tenaga menjadi bagian dari kesehariannya. Namun tak banyak yang tahu, di balik rutinitas yang dijalani berulang kali itu, tersimpan sebuah kerinduan mendalam. Bahkan jadi mimpi yang tak pernah ia lepaskan, suatu hari dia harus bisa menunaikan ibadah haji.
"Ada keinginan kuat agar bisa pula pergi ke Makkah. Pergi ke baitullah memenuhi panggilan Allah, bertemu Rasulullah. Ini yang menjadi penyemangat," ungkapnya.
Bagi Nurlena yang tidak punya penghasilan tetap, ongkos menuju Tanah Suci ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil berdagang sayur. Setiap kali memperoleh keuntungan, sebagian uang disisihkannya. Terkadang hanya sejumlah kecil setelah kebutuhan keluarga terpenuhi.
Meski tidak banyak. Namun Nurlena tidak pernah menganggapnya terlalu sedikit. Yang penting ada yang dia sisihkan untuk ditabung.
Satu keyakinan yang selalu dia tanamkan. Uang yang dikumpulkan dari hasil kerja keras itu suatu saat akan membawanya ke tempat yang selama ini hanya ia lihat dalam foto dan siaran televisi.
Kesebaran terus dipupuknya. Bulan berganti tahun, hingga tak terasa sudah 13 tahun tabungan untuk haji itu terus ia kumpulkan dengan sabar.
Bagi sebagian orang, 13 tahun mungkin hanya angka. Namun dalam pandangan Nurlena, itu adalah ribuan hari bekerja, ratusan perjalanan membawa dagangan dengan berbagai pengorbanan yang harus dijalani demi menjaga impian tetap hidup.
Pada 2013, Nurlena mendaftarkan diri dan memperoleh nomor porsi haji. Namun penantian belum berakhir. Ia masih harus menunggu giliran keberangkatan seperti jutaan calon jemaah lainnya di Indonesia.
Hanya saja, Nurlena bersyukur satu langkah besar telah berhasil ia lalui. Mimpi yang selama ini hanya tersimpan dalam hati kini semakin dekat menjadi kenyataan.
Dan tahun ini, tahun 2026 atau 1447 hijriyah, penantian panjang itu akhirnya terbayar. Di usia 64 tahun, Nurlena berangkat ke Tanah Suci guna menunaikan rukun Islam kelima yang telah lama ia dambakan.
Ia begitu semangat menapaki puncak perjuangan panjang yang telah dia lakukan puluhan tahun lamanya. Setiap langkah di Tanah Suci terasa begitu berharga. Dia ingin memenuhi dengan segenap kemampuan raga dan dengan penghayatan sepenuh jiwa
Sayangnya, usia yang tidak lagi muda membuat kondisi fisiknya memiliki keterbatasan. Saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari kedua dan ketiga, kondisi kesehatan membuatnya harus membadalkan atau mewakilkan kepada orang lain.
Syukurnya tak berkurang. “Walaupun melontar jumrah hari kedua dan ketiga dibadalkan karena kondisi, saya tetap sangat bersyukur. Bisa sampai ke Tanah Suci dan menyelesaikan ibadah haji merupakan nikmat yang luar biasa,” ungkapnya penuh haru.
Menurut Nurlena, keterbatasan fisik bukan alasan untuk mengurangi makna perjalanan yang telah lama diimpikannya. Justru ia bersyukur karena tetap dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan baik dan aman. Dan kini, ia telah kembali ke Ranah Minang dengan menyandang gelar hajjah.
Lapak sayur yang selama ini menjadi sumber penghidupannya masih tetap ada. Siap menantinya kapan saja dia siap melakoni kembali jalan panjang yang menghubungkan Padang Lua dan Pekanbaru.
Ceritanya tentu sedikit berbeda. Mimpi telah jadi nyata, tentu semangat Nurlena semakin membara. Menjadi teladan bagi kita semua bahwa harapan yang dijaga dengan kesabaran tidak pernah sia-sia. (*)
