window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); 300 Penari Cilik Meriahkan Festival Seni, Jaga Kesenian Minangkabau - Sumbarkini
  • Breaking News

    300 Penari Cilik Meriahkan Festival Seni, Jaga Kesenian Minangkabau



    PADANG (SUMBARKINI.COM) – Bakat seni anak-anak tidak cukup hanya diasah di ruang latihan. Mereka juga membutuhkan panggung, kesempatan tampil, dan apresiasi agar kepercayaan diri serta kecintaan terhadap budaya terus tumbuh.

    Semangat itulah yang mewarnai Festival Tari Anak 2026 di pelataran parkir Youth Center Kota Padang, Sabtu (31/10/2026). Sebanyak 300 penari anak dari enam sanggar dan sejumlah sanggar binaan Bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dinas Pariwisata Kota Padang tampil mempersembahkan beragam tarian Minangkabau dan Nusantara.

    Mengenakan kostum berwarna-warni, para penari cilik menyuguhkan berbagai pertunjukan yang menarik perhatian pengunjung. Di balik gerakan dan irama yang mereka tampilkan, tersimpan proses latihan, kedisiplinan, keberanian, serta upaya mengenalkan seni budaya kepada generasi muda sejak dini.

    Festival yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, ini menjadi ruang pertemuan antara kreativitas anak, pembinaan sanggar, dan pelestarian kebudayaan daerah.

    Kegiatan tersebut merupakan program Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Padang yang direalisasikan melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Padang, Wahyu Hidayat.

    Wahyu hadir sekaligus membuka secara resmi festival tersebut. Pembukaan ditandai dengan pemukulan Gandang Tambua bersama Kepala Bidang Ekraf Dinas Pariwisata Kota Padang, Yose Rizal.

    Wahyu mengatakan, festival ini berangkat dari aspirasi sanggar-sanggar seni yang membutuhkan ruang lebih luas untuk memperkenalkan kemampuan anak didiknya kepada masyarakat.

    Menurutnya, banyak anak memiliki potensi di bidang seni tari dan musik tradisional, tetapi belum semuanya memperoleh kesempatan tampil di ruang publik.

    "Melalui Pokir ini, kita ingin menghadirkan panggung bagi anak-anak. Ini panggung mereka, panggung anak nagari. Ekonomi kreatif harus tumbuh dari bawah, dari anak-anak kita," ujar Wahyu.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sanggar yang berpartisipasi serta Dinas Pariwisata Kota Padang yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.

    Wahyu menjelaskan, aspirasi yang diperjuangkannya melalui Bidang Ekraf Dinas Pariwisata diarahkan untuk menjawab kebutuhan sanggar-sanggar seni, khususnya di daerah pemilihan Kuranji dan Pauh, sekaligus membuka kesempatan bagi sanggar dari berbagai wilayah Kota Padang.

    Baginya, ruang berekspresi seperti ini penting agar anak-anak tidak hanya mengenal kesenian sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga memiliki pengalaman tampil, berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan di hadapan publik.

    Melestarikan budaya sekaligus membangun ekosistem kreatif

    Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang melalui Kabid Ekraf, Yose Rizal, menyampaikan bahwa Festival Tari Anak merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memberikan apresiasi terhadap potensi seni generasi muda.

    Ia mengatakan, pemerintah ingin memastikan anak-anak memiliki kesempatan untuk berkarya, berkreasi, sekaligus mengenal dan melestarikan kekayaan seni budaya Minangkabau.

    "Melalui kegiatan ini, kita ingin memastikan anak-anak Kota Padang memiliki ruang untuk berkarya, berkreasi, dan melestarikan seni budaya Minang," kata Yose.

    Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan. Karena itu, pengenalan seni sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem kreatif di Kota Padang.

    Festival ini juga diarahkan untuk mendukung penguatan citra Padang sebagai kota kreatif dan destinasi wisata budaya yang ramah anak.

    Yose turut mengapresiasi dukungan Wahyu Hidayat melalui realisasi Pokir yang memungkinkan kegiatan tersebut terlaksana.

    "Melalui Festival Tari Anak ini, kita tidak hanya menggelar pertunjukan, tetapi sedang menyiapkan ekosistem ekonomi kreatif sejak usia dini. Ini sejalan dengan visi Padang Juara dan Padang Kreatif," tuturnya.

    Enam sanggar tampilkan kekayaan seni Minangkabau

    Festival ini melibatkan Sanggar Mutiara Minang, Palito Hati Pauh, Palito Art, Sayak Nan Landai, Parewa Limo Suku, serta sejumlah sanggar binaan Ekraf lainnya.

    Berbagai penampilan disuguhkan, mulai dari tari kolosal, tari kreasi, Tari Galatiak Anak Nagari, Tari Buai-Buai, Silek Pauh, hingga Tari Piring.

    Keberagaman pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa seni tradisi memiliki ruang untuk terus berkembang melalui kreativitas generasi muda tanpa meninggalkan akar kebudayaannya.

    Dentuman Gandang Tambua saat pembukaan yang disambut tepuk tangan penonton menjadi penanda dimulainya rangkaian festival. Orang tua, pembina sanggar, dan masyarakat turut menyaksikan penampilan anak-anak tersebut.

    Lebih dari sekadar pertunjukan, festival ini membawa pesan penting tentang perlunya keberlanjutan pembinaan seni. Anak-anak membutuhkan dukungan keluarga, sanggar, pemerintah, dan masyarakat agar potensi yang dimiliki tidak berhenti pada satu kali penampilan.

    Harapannya, dari panggung Festival Tari Anak 2026 akan tumbuh generasi seniman muda yang mampu membawa nama Kota Padang ke tingkat nasional, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Minangkabau agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

    Sebab, melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga memastikan generasi penerus mengenal, mencintai, dan memiliki keberanian untuk mengembangkannya. (Zul)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad