• Breaking News

    DPRD Kabupaten Sijunjung Setujui Raperda Tentang APBD TA 2026 Menjadi Perda.

     

    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sijunjung secara resmi menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda).

    Persetujuan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sijunjung dengan agenda “Penyampaian Pendapat Akhir Fraksi dan Persetujuan Bersama terhadap Raperda APBD TA 2026” yang digelar di Ruang Sidang Utama DPRD Kabupaten Sijunjung, di Kandang Baru, pada Jum'at 7 November 2025.

    Rapat paripurna ini dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Sijunjung, Rengga Wana Putra, SM dan dihadiri Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, S. STP, M. Si, Wakil Ketua DPRD, Syahril Syamra dan Kepridaus beserta anggota DPRD lainnya, Kajari Sijunjung, Muhammad Ali, SH. M. Kn, Kapolres Sijunjung diwakili Kasat Lantas, Iptu A. Agung Ngurah Santa Subrata S.T.r.k, Sekdakab, DR. Zefnihan, AP, M. Si beserta Asisten, Kepala OPD dan Kabag dilingkup Pemkab Sijunjung.

    Proses pengambilan keputusan diawali dengan penyampaian laporan hasil pembicaraan tahap I oleh juru bicara DPRD yang disampaikan oleh Bejo Utomo, SE, M. Si

    Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pendapat fraksi terhadap Raperda tentang APBD tahun anggaran 2026 dari 8 fraksi yang ada di DPRD Kabupaten Sijunjung. Seluruh fraksi, melalui juru bicaranya masing-masing menyatakan menerima dan menyetujui Raperda APBD TA 2026 untuk disahkan menjadi Perda, meskipun beberapa fraksi memberikan catatan dan rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan anggaran ke depan.


    Delapan fraksi tersebut diantaranya, dari Fraksi Partai Golongan Karya disampaikan, Yusni Darti, SH, MM, dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disampaikan Gusri Hamizon, Fraksi Persatuan Pembangunan Indonesia (PPI) yang merupakan gabungan dari parti Perindo, Hanura, dan PDI, disampaikan Elky Armen Dinata Putra  dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) disampaikan oleh, Sumiki Kamel, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) disampaikan Nofrialdi Zulka, Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) disampaikan, Aprizal, PB, Fraksi Demokrasi Indonesia yang merupakan gabungan dari partai Nasdem dan Demokrat disampaikan Hadiatulloh Montela, dan dari Fraksi Partai Gerindra disampaikan, Indrawadi.

    Dalam sambutannya, Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi–tingginya terutama kepada Ketua dan seluruh Anggota DPRD serta kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, baik secara langsung, maupun tidak langsung atas disepakatinya rumusan Rancangan APBD Kabupaten Sijunjung Tahun Anggaran 2026.

    "Pada kesempatan ini, izinkan kami menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD yang telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam menghadapi kondisi keuangan daerah yang sedang tidak baik-baik saja".

    "Kami memahami, keputusan untuk mengorbankan pokok-pokok pikiran tahun 2026 bukanlah keputusan yang mudah. Namun langkah ini mencerminkan sikap kenegarawanan dan kedewasaan politik serta keikhlasan dalam menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Mari kita jadikan tahun 2026 sebagai tahun kolaborasi, tahun penguatan partisipasi, dan tahun kebangkitan semangat bersama untuk membangun daerah kita tercinta,"ujar Benny

    Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir


    Dengan kerja sama yang tulus antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat lanjut Bupati Benny, insya Allah akan mampu mewujudkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada angka dan target, tetapi juga pada kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh warga.

    "Setelah mendengar seluruh pendapat akhir fraksi-fraksi DPRD, pada intinya seluruh Fraksi menyetujui Rancangan APBD Tahun Anggaran 2026 yang selanjutnya akan disampaikan kepada Gubernur Sumatera Barat untuk dievaluasi. Sehubungan dengan hal tersebut, atas segala saran, usul maupun harapan yang telah disampaikan, kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengambil langkah-langkah percepatan serta kebijakan lebih lanjut guna efektifnya pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2026 ini", tutup Bupati dua periode tersebut. (Andri) 

    Jerat Merkuri dan Kerusakan Abadi PETI di Ranah Minang

    Kabar yang berhembus kencang di Ranah Minang bukanlah sekadar angin lalu, melainkan ancaman nyata yang menyeruak dari dalam bumi. Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Di balik kilau semu logam mulia, tersembunyi tragedi lingkungan, ekonomi, dan sosial yang menggerogoti Sumatera Barat secara perlahan namun pasti. Jika dibiarkan, aktivitas ilegal ini akan meninggalkan luka abadi di tanah leluhur.


    Isu utama yang paling mengkhawatirkan adalah penggunaan bahan kimia beracun, terutama merkuri dan sianida. Para penambang ilegal memanfaatkan merkuri untuk memisahkan emas dari bijih, sebuah proses yang murah, cepat, namun mematikan. Sungai-sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini menjelma menjadi urat nadi racun.

    Merkuri, polutan paling berbahaya, tidak hanya mencemari ekosistem akuatik hingga memusnahkan biota, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat yang mengonsumsi air dan ikan. Paparan kronis zat ini memicu kerusakan saraf, cacat lahir, dan masalah kesehatan serius lainnya, mengubah ladang emas menjadi ladang penyakit. 

    Dampak PETI tak hanya soal racun, tetapi juga kehancuran struktural. Pembukaan lahan untuk tambang telah menyebabkan deforestasi masif, hilangnya keanekaragaman hayati yang tak ternilai, dan degradasi tanah yang memicu risiko bencana seperti erosi dan tanah longsor. Bentang alam yang indah berganti rupa menjadi lubang-lubang menganga yang dibiarkan tanpa upaya reklamasi.

    Dari sisi ekonomi, Pemerintah Provinsi dan negara menderita kerugian besar. Aktivitas gelap ini menghindari pembayaran pajak, royalti, dan bea ekspor, merampok hak rakyat atas sumber daya alamnya sendiri. Lebih ironis, keuntungan jangka panjang tidak dinikmati masyarakat lokal, melainkan dikuasai oleh pengusaha bermodal dari luar, sering kali dengan membawa pekerja dari daerah lain.

    Menghadapi persoalan yang multidimensi ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tidak bisa hanya mengandalkan penertiban represif. Diperlukan sebuah strategi terintegrasi, komprehensif, dan humanis yang menyentuh akar permasalahan.

    1. Tangan Besi dan Mata Elang (Penegakan Hukum):



    Pemerintah harus berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI, dan kementerian terkait (ESDM, KLHK) untuk melakukan operasi gabungan yang rutin. Penegakan hukum wajib diarahkan tidak hanya kepada pekerja di lapangan, tetapi juga kepada pemodal dan cukong di belakang layar dengan sanksi pidana dan denda yang tegas sesuai UU No. 3 Tahun 2020 tentang Minerba. Pemanfaatan teknologi seperti drone dan remote sensing mutlak diperlukan untuk memonitor dan mendeteksi aktivitas ilegal dari jarak jauh.

    2. Jalan Keluar Ekonomi (Alih Profesi dan Fasilitasi Legal):

    Akar masalah PETI seringkali adalah kesulitan ekonomi dan minimnya lapangan kerja. Solusinya adalah program alih profesi yang didukung pelatihan dan bantuan modal ke sektor yang berkelanjutan, seperti pertanian modern, perikanan, atau pengembangan potensi pariwisata daerah. Di sisi lain, mempermudah dan mempercepat proses pengurusan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) bagi penambang kecil dapat menarik mereka keluar dari zona ilegal, sembari memastikan mereka menggunakan teknik penambangan yang aman dan ramah lingkungan.

    3. Pendekatan Humanis dan Reklamasi Ekologis:

    Pemerintah perlu mendekati masyarakat secara humanis, melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh kuat. Sosialisasi intensif tentang bahaya merkuri harus terus digencarkan. Terakhir, lahan-lahan yang telah rusak parah wajib menjalani reklamasi ekologis dengan menanam kembali vegetasi asli dan memulihkan habitat yang hilang.

    PETI adalah musuh bersama. Upaya penertiban harus dilihat sebagai investasi jangka panjang demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang di Ranah Minang. Menghentikan racun merkuri dan kerusakan abadi adalah pertaruhan yang tidak boleh dimenangkan oleh segelintir kepentingan sesaat. 

    Padang, 1 November 2025
    Oleh: Andarizal,  Ketua Umum KJI "Kolaborasi Jurnalis Indonesia"

    Melalui ASN BAIK, Setdakab Sijunjung Salurkan Bantuan Bagi Keluarga Yang Membutuhkan di Kec. Lubuak Tarok.

    Kabag Prokopim, Admiriska saat menyalurkan bantuan bagi keluarga jaray di Kecamatan Lubuk Tarok didampingi Kasi Ekbang, Tri Aprizal. 

    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Melalui Program ASN BAIK, Sekretariat Daerah Kabupaten Sijunjung dengan program SETDA BERKAH (Sedekah Jum’at Dunia Akhirat Berikan Kami Ampunan-Mu Ya Allah) kembali menyalurkan bantuan berupa sembako kepada keluarga yang membutuhkan.


    Bantuan tersebut disalurkan kepada keluarga Jaray, warga Nagari Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok yang diserahkan Sekretatis Daerah (Sekda), Dr. Zefnihan, AP, M. Si melalui Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, (Prokopim), Admiriska, S. A. P dengan didampingi Kasi Ekbang Kecamatan Lubuk Tarok, Tri Aprizal, S. Pd, Kamis 30 Oktober 2025.

    Program ini merupakan wujud kepedulian bersama yang digagas untuk membantu masyarakat yang membutuhkan melalui sedekah yang dikumpulkan dari ASN maupun Non ASN setiap hari Jum’at pada saat apel pagi di Lingkup Sekretariat Daerah.

    "Alhamdulillah pada hari ini (Kamis-red) kami didampingi Kasi Ekbang telah manyalurkan bantuan bagi keluarga kita yang membutuhkan di Kecamatan Lubuk Tarok, semoga bantuan ini bisa membantu dan meringankan beban saudara kita yang membutuhkan, " Ujar Admiriska. (Jendri)

    Bersama Komunitas Parak Karambia, Departemen Pariwisata FPP UNP Adakan Kegiatan PkM di Geopark Silokek.


    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) -  Diantara riuh gemercik Sungai Batang Kuantan dan tegaknya tebing Ngalau Basurek, sekelompok dosen Departemen Pariwisata Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Parak Karambia larut dalam harmoni yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar kegiatan akademik, bukan pula sekadar pelesiran, melainkan sebuah perjalanan untuk living with nature, hidup berdampingan dengan alam, dan belajar dari kearifan bumi Silokek.

    Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (25–26 Oktober 2025), kawasan Geopark Silokek menjadi ruang belajar terbuka dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang bertemakan "Digitalisasi Cerita Geopark Ranah Minang Silokek: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Konten Kreatif Media Sosial"

    Bagi Hermasyah, dosen Departemen Pariwisata Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP) sekaligus ketua tim pengabdian masyarakat, kunjungan ini terasa istimewa. Ia mengaku baru pertama kali menjejakkan kaki di Silokek, sebuah kawasan yang tengah naik daun sebagai destinasi geowisata unggulan di Sumatera Barat.

    “Sejujurnya ini kali pertama saya ke sini. Dari kegiatan ini saya mendapat banyak pelajaran tentang ekowisata dan kemandirian pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. Kali ini kami ingin hadir tanpa intervensi lembaga besar, tapi tumbuh bersama komunitas lokal,” tutur Hermasyah, yang terlihat antusias memandu sesi diskusi di bawah rindang pepohonan tepi sungai.

    Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana dosen tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk berbagi ilmu, mendengar aspirasi, dan bersama-sama mencari solusi. 

    "Kegiatan ini merupakan Program pengabdian kepada masyarakat yang di danai direktorat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, direktorat jenderal riset dan pengembangan, kementerian pendidikan tinggi, sains, dan teknologi tahun 2025" Tutur yang konsen mengajar dalam dunia Pariwisata UNP

    Program ini menggandeng komunitas Parak Karambia, penggerak wisata muda di Silokek yang selama ini konsisten mengusung konsep eduvoluntourism, perpaduan antara edukasi, relawan, dan petualangan alam.

    Menurut Galang, pendiri Parak Karambia, kolaborasi dengan UNP menjadi momentum penting untuk melangkah lebih jauh.

    “Biasanya kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah atau komunitas pencinta alam. Tapi kali ini bersama kampus, kami ingin menata arah yang lebih strategis, membangun sistem digital, website, dan konten visual yang bisa memperkenalkan Silokek secara global,” ujar Galang dengan semangat.

    Parak Karambia juga tengah merintis platform digital, bak gayung bersambut langsung dibantu pembuatannya oleh Dosen Pariwisata, yang memungkinkan wisatawan melakukan pemesanan langsung tanpa perantara agen perjalanan. Sebuah langkah kecil yang diyakini akan membawa dampak besar bagi kemandirian ekonomi lokal.

    "Alhamdulillah, bak gayuang basambuik para dosen UNP itu, telah membantu kita dalam pembuatan platform digital seperti website untuk memudahkan dalam mengakses Parak Karambia" Tuturnya

    Selama dua hari, para peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan pemuda lokal berkolaborasi membuat konten visual Geopark Silokek, mulai dari video perjalanan hingga dokumentasi atraksi ekstrem seperti climbing di Tebing Ngalau Basurek, canyoning di Air Terjun Bukit Kajai, hingga rafting di aliran Batang Kuantan.

    Bagi Baiki Hakim, mahasiswa Agrobisnis UNP Sijunjung yang ikut terlibat, pengalaman ini terasa jauh dari sekadar kegiatan akademik. Ini lebih dalam dan menyatu dengan alam. 

    “Selama dua hari kami benar-benar hidup berdampingan dengan alam, tanpa gadget, tanpa hiruk pikuk kota. Rasanya luar biasa bisa belajar langsung tentang pariwisata berkelanjutan dari lapangan,” katanya sambil tersenyum.

    Dari tepi tebing Silokek hingga tenda-tenda di bawah langit malam, kolaborasi ini menegaskan satu hal: pariwisata yang berkelanjutan lahir dari kesadaran dan kerja bersama. UNP dan Parak Karambia baru memulai langkah pertama, namun semangat atau taqline dari Parak Karambia “#KaSilokekLah” kini makin menggema sebagai simbol gotong royong, kreativitas, dan cinta terhadap alam Sumatera Barat. (Fadlur) 

    Pemkab Sijunjung Gelar Upacara Bendera Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025.

     


    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 yang dilaksanakan di Lapangan Prof. M Yamin, SH Muaro Sijunjung pada Selasa 28 Oktober 2025.

    Bertindak selaku inspektur pada upacara tersebut adalah Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah,.S.I.K.,M.H serta komandan upacara adalah Ipda. Faisal Jamil dari Polres Sijunjung.

    Upacara yang berlangsung tertib dan hikmad ini dihadiri Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, S. STP, M. Si, Sutan Gumilang, Wakil Bupati, H. Iraddatillah, S. Pt, Anggota DPRD, Nofrialdi Zulka, Unsur Forkopimda, Ketua Pengadilan Agama, Ketua TP PKK, Ny. Nedia Fitri Benny Dwifa, Ketua GOW, Ny. Dona Iraddatillah beserta Ketua Organisasi Wanita lainnya, Asisten, Kepala OPD, Instansi Vertikal, Camat se Kabupaten Sijunjung dan undangan lainnya.


    Pelaksana dalam upacara tersebut diantaranya, Penggerek Bendera, Anggun Septiana, A. Md. Tra, Fani Rezki, A. Md. Tra, dan Alvani Mulyeni dari Dinas Perhubungan. Pembaca Teks Pembukaan UUD 1945 oleh Dio Marhendra dari KNPI Sijunjung, Teks Sumpah Pemuda dibacakan M. Aldo Yendicoal (Ketua KNPI Kabupaten Sijunjung), dan pembawa acara Adry, S. Kom dari Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Sijunjung.

    Upacara ini juga diikuti oleh personil Kodim 0310/SS, Polres Sijunjung, PolPP dan Damkar, BPBD, Kemenag, Instansi Vertikal, BUMN/BUMD, Korpri, Gesang, Korsik SMPN 7 Sijunjung, Pramuka dari SMAN 1 Sijunjung, Siswa SMAN 2 Sijunjung, Mahasiswa, Ormas, KNPI, dan Organisasi Kepemudaan lainnya.


    Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah S.I.K.,M.H dikesempatan itu membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir.

    "Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hari ini kita berdiri di bawah langit merah putih, langit yang dulu menaungi pemuda 1928. Mereka tidak banyak bicara, mereka berani, mereka bersumpah, dan menepatinya dengan darah dan nyawa, "kata Wilian dalam kutipan teks sambutan Menpora. 

    Ia mengatakan, tugas pemuda sekarang berbeda, tidak lagi mengangkat bambu runcing tetapi mengangkat ilmu, kerja keras, dan kejujuran. Namun semangatnya tetap sama, Indonesia harus berdiri tegak, Indonesia tidak boleh kalah.

    Willian mengungkapkan, anak muda hari ini hidup di zaman yang berat, dunia bergerak cepat. Tetapi anak muda tidak boleh takut karena harus percaya, di setiap kampung, di setiap kota, masih ada anak muda Indonesia yang jujur, tangguh dan berani. 

    Sebagai bentuk kekuatan bangsa Indonesia, pemuda yang patriotik, gigih dan empati yang mencintai tanah air dengan tindakan nyata, yang tetap berdiri ketika badai datang.

    "Seperti yang selalu dinyatakan dan dicerminkan oleh bapak Presiden, jangan takut bermimpi, jangan takut gagal, kalian bukan pelengkap sejarah, kalian adalah penentu sejarah berikutnya,” ujarnya.
    (Andri)


    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2