Oleh : Putri Indah Lestari, S.Sn,
(Akademisi dan Praktisi Film)
Saya pertama kali mengenal film “Wong Cilik” setelah mendengar kabar bahwa karya produksi SMK Panca Bhakti Banjarnegara ini meraih Penghargaan Khusus Dewan Juri di Festival Film Purbalingga 2025. Rasa penasaran membuat saya menontonnya, dan sejak itu saya sadar ada potensi besar di balik film sederhana ini. Bagi saya, inilah titik awal yang kemudian mendorong lahirnya sebuah ruang diskusi baru bernama “Literasi Sinema.”
Film “Wong Cilik” disutradarai oleh Danis Adinata Putra dan diproduksi tahun 2025 dengan jumlah kru hanya tujuh orang; dua di antaranya guru pembimbing. Meski dengan keterbatasan tenaga dan peralatan, mereka mampu melahirkan sebuah drama keluarga yang kuat. Film ini telah diputar di Banjarnegara Movie (26 Juli 2025) dan Festival Film Purbalingga (29 Juli–2 Agustus 2025). Tidak berhenti di sana, pada 10 September 2025 Wong Cilik juga mendapat penghargaan dan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Banjarnegara.
Salah satu kekuatan Wong Cilik terletak pada keberaniannya. Film ini mengangkat isu korupsi di tingkat desa, yaitu praktik pemotongan Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang seringkali menekan masyarakat kecil. Setelah banyak perbincangan, saya mengetahui bahwa kisah ini ternyata diangkat dari peristiwa nyata yang saya sebut sebuah langkah berani bagi sineas pemula.
Meski sederhana, cerita film ini mengalir jelas, dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak bertele-tele. Dari sisi teknis, karya ini juga cukup rapi: angle kamera efektif, artistic dan pencahayaan mendukung suasana, serta editing yang halus. Hasil akhirnya mampu menyampaikan pesan sosial yang kuat.
Ada dua hal yang membuat film ini istimewa. Pertama, penggunaan bahasa Jawa yang menegaskan kedekatan dengan realitas lokal dan memperkuat rasa otentik dalam ceritanya. Kedua, kesadaran sinematik dari sang sutradara. Dalam salah satu adegan, ia menggunakan top angle shot untuk memperlihatkan posisi tokoh sebagai “orang kecil.” Saat saya tanyakan alasannya, jawabannya sederhana: “Untuk memperlihatkan bahwa mereka adalah orang kecil.” Sebagai orang film, saya terkesan dengan pernyataan itu. Di balik praktik teknis, tersimpan pemahaman teoritis dan semiotik yang jarang ditemukan di tingkat pelajar. Inilah yang membuat “Wong Cilik” bukan sekadar karya pelajar, tetapi juga sebuah film yang patut diapresiasi dalam kerangka akademis maupun artistik.
Ada juga hal menarik yang patut dicermati: ending film berakhir pada perdebatan antara Sri dan Yatman, sepasang suami istri yang tidak berdaya menghadapi pemotongan BLT di desanya. Pilihan ini membuat film terasa lebih “menggantung.” Konflik rumah tangga memang tergambar, tetapi bobot sosial, terutama dampak terhadap anak menjadi kurang tegas. Film pun kehilangan “pukulan terakhir” yang sebenarnya bisa memperkuat pesan sosialnya. Meski demikian, keputusan ini tetap membuka ruang interpretasi. Jika tujuannya ingin meninggalkan penonton dengan kegelisahan dan pertanyaan, maka ending tersebut menurut saya berhasil.
Ketertarikan saya pada film ini membuat saya membuka percakapan dengan Alfiyan Baharudin, S.Kom, salah seorang tenaga pengajar di SMK Panca Bhakti sekaligus pembimbing produksi film “Wong Cilik” ini. Setelah melalui beberapa diskusi, kami pun sepakat membuka sebuah forum daring bernama “Literasi Sinema,” yang resmi dimulai pada 19 Agustus 2025. Harapannya, forum ini bisa berjalan mingguan sebagai wadah dialog, belajar bersama, dan mengasah bakat para calon sineas dari Banjarnegara.
“Wong Cilik” adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Justru dari ruang-ruang kecil seperti sekolah menengah kejuruan, kita bisa menemukan keberanian, ketulusan, dan kreativitas yang layak diapresiasi. Dari Banjarnegara, kita disadarkan: generasi muda mampu melahirkan karya yang menggugah, asal diberi ruang untuk tumbuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...