Ramadan Tamu Agung yang Dirindukan
oleh H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)
RAMADHAN bukan sekadar bulan dalam hitungan kalender hijriah. Ia adalah tamu agung yang setiap tahun mengetuk pintu hati orang-orang beriman. Tamu yang membawa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Tamu yang menghadirkan suasana berbeda–lebih tenang, lebih khusyuk, lebih dekat kepada Allah.
Sebagai mana tamu mulia, Ramadan tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa hadiah terbesar: kesempatan memperbaiki diri.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."
(QS.Al-Baqarah ayat 183)
Tujuan Ramadan jelas: takwa. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih jiwa agar tunduk dan patuh kepada Allah.
1. Ramadan Datang untuk Membersihkan Hati
Selama sebelas bulan, hati kita sering dipenuhi debu dosa–lalai dalam shalat, mudah marah, gemar menggunjing, berat bersedekah. Maka Ramadan hadir seperti hujan yang membersihkan bumi yang kering.
Puasa mengajarkan kita keikhlasan. Tidak ada yang tahu kita benar-benar berpuasa kecuali Allah. Di situlah latihan kejujuran dimulai.
Ketika kita menahan diri dari yang halal (makan dan minum), makan seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari yang haram: lisan yang menyakiti, mata yang memandang maksiat, dan hati yang penuh iri.
2. Ramadan Menghidupkan Hubungan dengan Al-Qur'an
Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur'an. Karena itu, orang beriman merindukan tilawah, tadabbur, dan air mata yang jatuh saat ayat-ayat Allah menyentuh relung hati.
Rumah-rumah yang biasanya sunyi dari bacaan Al-Qur'an mendadak hidup. Masjid-masjid yang biasanya lenggang menjadi penuh oleh jamaah tarawih.
Ini pertanda bahwa jiwa kita sebenarnya rindu pada cahaya, hanya saja sering tertutup oleh kesibukan dunia.
3. Ramadan Melatih Kepedulian
Ketika kita merasakan lapar, kita belajar memahami saudara-saudara kita yang kekurangan. Maka zakat, infak, dan sedekah menjadi ringan dilakukan.
Ramadan mendidik kita agar tidak agois. Bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang kenyang sendiri, tetapi tentang berbagi dengan yang lain.
4. Sambut Ramadan dengan Kerinduan
Para sahabat dahulu menyambut Ramadan dengan doa berbulan-bulan sebelumnya agar dipertemukan dengannya. Mengapa?
Karena mereka tahu, tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadan berikutnya.
Ramadan adalah tamu yang tidak pernah lama tinggal. Ia hanya singgah sebentar, lalu pergi. Jika kita tidak memuliakannya, bisa jadi ia datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas dalam jiwa kita.
Ramadan adalah tamu agung yang dirindukan. Ia datang membawa rahmat. Ia mengetuk hati yang ingin kembali kepada Allah.
Salam LH

Tidak ada komentar
Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...