Tahun 2004 dicatat dalam tinta sejarah sebagai tahun dimulainya Pesantren Ramadhan. Ini adalah sebuah keberanian kebijakan yang mendisrupsi sistem pendidikan formal. Fauzi Bahar menyadari bahwa papan tulis di sekolah mungkin cukup untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun lantai-lantai masjid adalah tempat yang lebih suci untuk menempa karakter.
Kebijakan ini memindahkan seluruh aktivitas belajar siswa ke masjid dan mushalla selama bulan suci. Tujuannya bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebuah misi penyelamatan generasi. Di bawah naungan kubah masjid, siswa tidak hanya belajar menghafal ayat, tetapi mereka belajar tentang akhlakul karimah, sebuah kompas moral yang akan memandu mereka di tengah badai godaan narkoba dan pergaulan bebas.
Narasi yang dibangun Fauzi Bahar sangat fundamental, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ia ingin memastikan bahwa identitas anak muda Padang tidak tercerabut dari akarnya. Pesantren Ramadhan menjadi laboratorium sosial di mana empati ditumbuhkan melalui zakat dan infak, serta kebersamaan dirajut tanpa memandang status sosial.
Menariknya, visi ini tidak terjebak dalam eksklusivitas. Di saat siswa Muslim memenuhi masjid, siswa non-Muslim pun diberikan ruang untuk penguatan iman sesuai keyakinan masing-masing. Ini adalah bukti nyata bahwa Fauzi Bahar sedang membangun peradaban kota yang religius sekaligus inklusif, sebuah miniatur Indonesia yang harmonis dari gerbang Sumatra.
Kini, obor itu tidak padam. Di bawah kepemimpinan para penerusnya, termasuk inovasi yang dilanjutkan oleh sosok seperti Fadly Amran, Pesantren Ramadhan terus bertransformasi. Program ini tak lagi kaku, ia kini terintegrasi dengan teknologi, kompetisi sains, hingga bantuan sosial seperti seragam gratis. Warisan ini telah bermetamorfosis menjadi institusi pendidikan non-formal yang paling dinanti setiap tahunnya.
Apa yang dimulai Fauzi Bahar dua dekade lalu bukanlah sekadar program musiman. Ia adalah peletakan batu pertama dari bangunan peradaban. Berkat keberanian visioner di tahun 2004 itu, ribuan "generasi hebat" telah lahir dari rahim masjid-masjid di Kota Padang.
Kita diingatkan kembali bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang mencetak otak yang cerdas, tapi juga hati yang teguh. Seperti yang sering ia gaungkan. "Kita tidak hanya sedang mengajar, kita sedang membangun benteng masa depan bangsa." Dan benteng itu, hingga hari ini masih berdiri kokoh di sudut-sudut masjid Kota Padang.
Padang, 28 Februari 2026
Oleh Andarizal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...