Indonesia Darurat Attitude, Benahi Pendidikan dan Tegakkan Aturan
PADANG (Sumbarkini.com) - Maraknya Pelecehan, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga,berkata kasar di ruang publik, LGBT dan masalah yang menabrak tataran etika, social dan agama di Sumatera barat khususnya dan Indonesia pada umumnya, membuat praktisi Pendidikan di Kota Padang ikut angkat suara. Dia menilai semua itu terjadi karena Sumatera Barat bahkan Indonesia darurat attitude.
"Mental/attitude orang kita itu benar yang lagi krisis. Tekanan ekonomi, sikap dan didikan permisif, sulit mengendalikan emosi, sikap mau menang sendiri bahkan cenderung arogan, sulit introspeksi, toxic, dan banyak contoh negatif dari orang-orang penting di negeri ini," ujar Ninna Ramayenda M.Pd, Kepala PAUD Hauriyah Halum Padang.
Dia mengatakan, kita semua tentu menyadari tekanan ekonomi saat ini membuat orang mudah emosi, lebih mementingkan diri sendiri. Belum lagi informasi yang bersileweran di sekitar kita.
Ada yang bertindak reaktif Ketika persoalan terjadi, bahkan banyak juga yang menyarankan untuk membuat aturan-aturan sebagai payung hukum dalam mengambil tindakan. Dengan adanya payung hukum, aparat bisa mengambil angkah preemptif dan preventif
"Boleh saja membuat aturan-aturan untuk menanggulangi dampaknya. Namun akan lebih baik jika akar permasalahannya betul yang coba kita benahi bersama. Pemerintah, tokoh Pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, niniak mamak, bundo kanduang, parik paga merapatkan barisan," ujarnya.
Dia menegaskan, Indonesia sudah kebanyakan aturan, namun lemah dalam penerapannya. Alih-alih membuat masyarakat mematuhinya, malah membuat mereka antipati.
Alangkah lebih baiknya jika kita mampu melakukan hal-hal yang bisa mencegahnya sembari mencabut akar permasalahan tersebut. Benahilah pendidikan. Pendidikan anak usia dini benar-benar jadi perhatian.
Bagi kita yang berada di lingkup pendidikan, mari kita terapkan saja regulasi inti yaitu Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Dimana dalam Pasal 28 berbunyi PAUD itu buat anak 0-6 tahun. Bentuknya TK, RA, KB, TPA, SPS. Prinsip: Bermain sambil belajar, bukan calistung yang dipaksakan. Juga Permendikbud No. 137 Tahun 2014 - Standar Nasional PAUD.
"Golden age atau usia emas untuk membentuk seorang anak itu adalah di usia dini. Untuk itu kurikulumnya yang mendukung tumbuh kembang anak tersebut. Muatan lokalnya pun dipilih yang benar-benar memberikan dampak positif bagi anak," tegasnya.
Ninna tidak asal bicara, dia telah melakukannya di Lembaga Pendidikan yang dia pimpin. Di Hauriyah Halum, katanya, untuk muatan lokal dia dan para guru lebih memilih makan bajamba dibanding mengenalkan acara babako.
Muatan lokalnya disesuaikan dengan kebutuhan dan usianya. #Makan bajamaba lebih dekat dengan kebutuhan anak dan dapat diterapkan langsung baik sehari hari anak atau pun dalam kebersamaan. Mereka akan kenal dan memahami bagaimana cara makan bersama, duduk bersama, mengambil makan yang lebih dekat dengan tempat duduk dan sebagainya.
Ninna mengungkapkan sisi positif lainnya dari makan bajamba. Kegiatan ini dilakukan di dalam ruangan, lebih dekat dengaan kegiatan sehari-hari, sarat muatan pendidikan moral, kerjasama dan saling menghargai. Anak-anak dikenalkan bagaimana mempersiapkan dan melaksanakan acara bajamba tersebut.
"Filosopi di dalam kegiatan adat itu yang kita kenalkan. Dan makan bajamba jauh dari membiarkan anak bersikap intim terhadap teman-temannya," pungkasnya. (zul)
