Tour de Singkarak Kembali, Pembuktian Wisata Sumbar
Dr. Yuni Candra, S.E., M.M
Tour de Singkarak akan kembali pada 2027. Kabar ini terdengar seperti lonceng kebangkitan pariwisata Sumatera Barat. Tetapi di balik euforia itu, muncul pertanyaan yang tajam: apakah Sumbar benar-benar siap menyelenggarakan event tersebut, atau sekedar nostalgia yang ingin di ulang? Sebab event internasional yang diselenggarakan ini bukan sekadar panggung olahraga, melainkan menjadi panggung pembuktian bagi Sumbar. Dunia bukan hanya melihat siapa yang tercepat mengayuh sepeda, tetapi akan menilai siapa yang paling siap dalam mengelola destinasi,
Tour de Singkarak (TdS) bukan event biasa. Ia pernah menjadi “promosi” yang mempertontonkan wajah Sumbar kepada masyarakat global: danau-danaunya yang tenang, lembah yang megah, jalan berliku yang memacu adrenalin, serta budaya yang khas. Para Kameramen internasional pernah membuat Sumbar terlihat seperti negeri postcard. Namun, pariwisata modern tidak cukup datang dari visual. Keindahan alam menjadi pintu masuk; yang membuat wisatawan kembali adalah pengalaman yang memuaskan dan tata kelola yang profesional.
Namun, kembalinya TdS harus dimaknai sebagai ujian pariwisata: apakah Sumatera Barat mampu naik kelas dari destinasi mempesona menjadi destinasi yang dikelola secara profesional. Jika ini berhasil, TdS menjadi game changer. Jika kita gagal, ini akan menjadi panggung yang memperbesar kelemahan dalam pengelolaan destinasi.
TdS: Promosi Kelas Dunia yang Tak Tergantikan
Di tengah persaingan antar daerah, promosi pariwisata tidak lagi cukup mengandalkan brosur, slogan, atau baliho. Wisatawan global hari ini memilih destinasi berdasarkan pengalaman visual yang viral, ulasan digital, dan citra destinasi yang kuat. Dalam konteks itu, Tour de Singkarak memiliki keunggulan strategis: ia menampilkan Sumbar dalam format yang paling disukai masyarakat dunia: atraktif, kompetitif, dan sinematik.TdS bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga menarik perhatian media internasional, komunitas olahraga, serta jejaring sponsor global. Dampaknya tidak berhenti pada hotel yang penuh atau restoran yang ramai. Event semacam ini menciptakan efek domino: menggerakkan UMKM, memperluas pasar produk lokal, membuka peluang ekonomi kreatif, hingga memperkuat citra Sumbar sebagai destinasi sport tourism.
Namun, peluang itu hanya akan menjadi keuntungan jika event dikelola sebagai strategi, bukan sekadar kegiatan tahunan. TdS harus diposisikan sebagai bagian dari branding pariwisata Sumbar secara terpadu, bukan acara yang berdiri sendiri lalu hilang tanpa jejak.
Menjadi Game Changer atau Kegiatan Seremoni?
Kembalinya TdS juga menjadi ujian kesiapan daerah. Event internasional bukan panggung yang bisa ditangani dengan pola kerja biasa. Ia menuntut standar global: keamanan rute, kesiapan infrastruktur jalan, sistem kesehatan darurat, manajemen lalu lintas, pelayanan wisata, hingga kebersihan kota dan destinasi.Jika aspek-aspek dasar ini lemah, TdS justru berpotensi menjadi bumerang. Dunia tidak hanya melihat keindahan Danau Singkarak, tetapi juga melihat bagaimana Sumbar mengelola keramaian, bagaimana masyarakat memperlakukan tamu, bagaimana fasilitas publik bekerja, serta bagaimana pemerintah daerah mengantisipasi persoalan teknis. Dalam era media sosial, satu insiden kecil dapat berubah menjadi citra buruk yang meluas.
Karena itu, TdS tidak boleh hanya dipahami sebagai ajang olahraga, tetapi sebagai audit publik internasional atas kualitas tata kelola pariwisata Sumbar. Dunia akan menilai apakah Sumbar layak menjadi tuan rumah event global berikutnya atau tidak.
Lebih jauh, TdS harus memberi dampak nyata bagi masyarakat lokal. Jangan sampai event hanya dinikmati oleh segelintir pelaku industri besar, sementara warga di sekitar rute hanya menjadi penonton. Jika TdS ingin menjadi game changer, maka ia harus menjadi event yang menghadirkan kesejahteraan, bukan sekadar kebanggaan simbolik.
Sumbar Harus Mengubah Pola Pikir
Untuk menjadikan TdS sebagai titik balik, Sumbar harus membangun ekosistem yang kuat. Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa TdS terintegrasi dengan agenda ekonomi kreatif: festival kuliner, pameran UMKM, pertunjukan budaya, serta promosi desa wisata. Dengan begitu, TdS tidak hanya menjual olahraga, tetapi menjual pengalaman Minangkabau secara utuh.Kedua, tata kelola destinasi harus dibenahi secara serius. Masalah klasik seperti pungutan liar, tarif parkir tidak jelas, pelayanan yang tidak ramah, dan fasilitas umum yang kurang layak tidak boleh muncul saat TdS berlangsung. Event internasional harus menjadi momentum untuk disiplin kolektif: bahwa pariwisata berkualitas hanya lahir dari keteraturan.
Ketiga, strategi promosi digital harus diperkuat. TdS harus menjadi konten global yang dikelola secara profesional melalui media sosial, video dokumenter, dan kampanye internasional yang konsisten. Jangan sampai Sumbar hanya menjadi latar belakang lomba, sementara narasi besarnya diambil oleh pihak luar.
Kembalinya Tour de Singkarak adalah peluang emas. Ia dapat menjadi mesin percepatan pariwisata Sumbar, sekaligus jembatan menuju reputasi global. Tetapi peluang tidak otomatis menjadi kemajuan. Ia hanya akan menjadi game changer jika Sumbar berani memperbaiki sistem, memperkuat pelayanan, dan membangun pariwisata sebagai peradaban, bukan sekadar keramaian.
Jika TdS hanya dihidupkan sebagai nostalgia, maka ia akan berlalu seperti festival musiman. Tetapi jika TdS dijadikan strategi besar, maka dunia tidak hanya akan mengenal Singkarak sebagai danau yang indah, melainkan sebagai simbol kebangkitan Sumatera Barat yang benar-benar siap menjadi tuan rumah pariwisata kelas dunia. (*)
PENULIS ADALAH: Sekretaris Prospektf Riset Indonesia, Komunitas Penulis Produktif-Insan Cita, & Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang)
