Ekosistem yang Hilang dari Gerakan Koperasi
Dr. Yuni Candra, S.E., M.M.
Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang & Komite Organisasi dan Keanggotaan DEKOPINWIL Sumatera Barat
Indonesia sedang berupaya menghidupkan kembali koperasi
sebagai pengejawantahan ekonomi kerakyatan. Di tengah ketidakpastian ekonomi
global, percepatan transformasi digital, dan menguatnya ekonomi platform
digital, koperasi kembali dipandang sebagai tumpuan untuk memperkuat fondasi
ekonomi rakyat.
Optimisme itu patut diapresiasi, tetapi juga perlu
menjadi renungan kita semua. Koperasi tidak cukup hanya dihadirkan kembali
dalam berbagai program dan kebijakan. Yang jauh lebih penting ialah memastikan
gerakan ini mampu menjawab perubahan ekonomi yang berlangsung semakin cepat.
Hingga awal 2026, Kementerian Koperasi mencatat terdapat
222.462 koperasi aktif di Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya modal
kelembagaan yang dimiliki bangsa, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam
kontribusinya terhadap perekonomian nasional maupun kesejahteraan anggotanya.
Karena itu, persoalan koperasi hari ini tampaknya bukan
lagi terletak pada banyaknya lembaga yang berdiri, melainkan pada kemampuan
bertumbuh, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah. Lalu, apa yang
sesungguhnya hilang dari gerakan koperasi Indonesia? Dan mengapa membangun
koperasi saja kini tidak lagi cukup?
Koperasi Berjalan Tanpa Ekosistem
Sejak awal, Bung Hatta memandang koperasi sebagai wujud
demokrasi ekonomi yang bertumpu pada kerja sama dan gotong royong. Jika dahulu
tantangannya adalah membuka akses ekonomi bagi rakyat, kini tantangannya
bergeser: koperasi harus mampu bertahan dalam persaingan yang ditentukan oleh
kekuatan ekosistem.
Di era ekonomi digital, keberhasilan tidak lagi
ditentukan oleh besarnya modal atau banyaknya anggota namun daya saing. Daya
saing bisa lahir dari keterhubungan dengan pembiayaan, teknologi, inovasi,
pasar, dan sumber daya manusia yang saling menguatkan.
Karena itu, membangun koperasi tidak cukup berhenti pada
pembentukan kelembagaan atau peningkatan jumlah anggota. Tanpa ekosistem yang bisa
memperkuat edukasi, kolaborasi, kreatifitas, dan inovasi, koperasi akan sulit
berkembang meskipun memiliki basis anggota yang cukup besar.
Perbedaan itulah yang sekarang nampak jelas. Ketika
perusahaan rintisan berkembang melalui inkubator, mentor, pembiayaan, dan
jejaring investasi, banyak koperasi masih berjalan sendiri. Dengan kondisi
tersebut, sesungguhnya yang tertinggal bukan semangat berkoperasi, melainkan
ekosistem yang bisa menghambat koperasi untuk berkembang, beradaptasi, dan
menciptakan nilai tambah.
Persaingan Kini Antar-Ekosistem, Bukan Antar-Lembaga
Koperasi sesungguhnya mampu berkembang ketika tidak
berjalan sendiri. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa keberhasilan
koperasi lebih ditentukan oleh kuatnya ekosistem yang memberikan edukasi, kreatifitas,
inovasi, pembiayaan, dan akses pasar daripada sekadar besarnya modal atau
jumlah anggota.
Pelajaran itu bisa dilihat pada Koperasi Konsumen Setia
Bhakti Wanita (SBW) di Surabaya. Sejak berdiri pada akhir 1970-an, koperasi ini
berkembang melalui sistem tanggung renteng yang dipadukan dengan pendidikan
anggota, pendampingan usaha, serta tata kelola berbasis teknologi. Dengan adanya
sekitar 10.000 anggota yang tergabung dalam ratusan kelompok, SBW membuktikan
bahwa kepercayaan dan penguatan kapasitas merupakan fondasi pertumbuhan
koperasi.
Gambaran serupa terlihat di daerah lain. Koperasi
Permata Gayo di Aceh memperkuat daya saing kopi melalui kemitraan dengan
lembaga riset, sertifikasi internasional, dan pasar ekspor. Di Jawa Timur,
Koperasi Agro Niaga Jabung membangun produktivitas peternak lewat kolaborasi
dengan industri pengolahan susu, perguruan tinggi, dan lembaga pembiayaan.
Sementara itu, pengembangan koperasi kakao di Sulawesi
menunjukkan bahwa sinergi antara petani, pemerintah, industri, dan mitra
pembangunan mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas akses pasar.
Rangkaian pengalaman tersebut mengajarkan satu hal:
koperasi berkembang bukan karena satu program atau satu sumber pendanaan.
Kekuatan sejatinya lahir ketika anggota, pemerintah, perguruan tinggi, dunia
usaha, lembaga keuangan, komunitas dalam hal ini Dekopin, dan pasar membentuk
ekosistem yang saling menguatkan. Di situlah pekerjaan rumah terbesar gerakan
koperasi Indonesia hari in.
Membangun Ekosistem, Menumbuhkan Masa Depan
Dari berbagai pengalaman yang di torehkan dari berbagai
koperasi yang berhasil tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa keberlanjutan
tidak lahir secara kebetulan. Ia tumbuh karena adanya ekosistem yang
mempertemukan pembiayaan, inovasi, pendidikan, teknologi, dan pasar dalam satu
mata rantai yang saling menguatkan.
Karena itu, pengembangan koperasi perlu melampaui
pendekatan administratif yang selama ini lebih menekankan pembentukan
kelembagaan. Sudah saatnya koperasi ditempatkan sebagai bagian dari strategi
pembangunan ekonomi nasional melalui peta jalan yang menghubungkan transformasi
digital, riset, hilirisasi, pembiayaan, dan perluasan akses pasar.
Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi, lembaga
riset, dunia usaha, perbankan, pemerintah daerah, dan organisasi gerakan
koperasi dalam hal ini Dekopin memiliki peran yang saling melengkapi.
Kolaborasi inilah yang memungkinkan inovasi lahir, usaha bertumbuh, dan
koperasi mampu beradaptasi dengan perubahan.
Indonesia juga memerlukan ukuran baru untuk menilai
kemajuan koperasi. Keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah koperasi atau
besarnya aset, melainkan dari kualitas tata kelola, kapasitas sumber daya
manusia, tingkat digitalisasi, jejaring kolaborasi, dan kemampuan menciptakan
nilai tambah.
Pada akhirnya, masa depan koperasi tidak ditentukan oleh
banyaknya lembaga yang berdiri, tetapi oleh kuatnya ekosistem yang menopangnya.
Jika dahulu gotong royong menjadi fondasi gerakan koperasi, kini semangat itu
perlu diwujudkan dalam ekosistem yang membuat koperasi terus bertumbuh,
berinovasi, dan tetap relevan bagi zaman. Semoga
