Bersama Seribu Santri di Padang, Wakapolda Sumbar Tekankan Bahaya Narkoba hingga Tawuran
PADANG, SUMBARKINI.COM — Masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi cita-cita yang mereka bangun, tetapi juga oleh kemampuan menjaga diri, menghormati sesama, dan berani menolak perilaku yang merusak.
Pesan itulah yang disampaikan Wakapolda Sumatera Barat, Brigjen Pol Solihin, S.I.K., M.H., CSPHR, saat berdialog dengan sekitar seribu santri dari sejumlah pesantren di Sumatera Barat di Gedung Aula Kampus III UIN Imam Bonjol, Sungai Bangek, Kota Padang, Kamis (29/10/2026).
Pertemuan yang berlangsung dalam rangka Dies Natalis ke-60 UIN Imam Bonjol Padang sekaligus peringatan Hari Santri 2026 tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk mendapatkan pesan tentang pendidikan karakter, keselamatan diri, dan tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan.
Di hadapan para santri, Solihin mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bangsa. Karena itu, mereka perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, akhlak, serta kemampuan memilah pengaruh yang datang dari lingkungan maupun ruang digital.
Ia mengajak para santri menjauhi narkoba, perjudian daring atau judi online (judol), perundungan, kekerasan, serta penyebaran informasi bohong atau hoaks.
Menurutnya, cita-cita besar harus disertai usaha yang sungguh-sungguh, kesediaan untuk terus belajar, dan doa.
“Bermimpilah setinggi langit, berusahalah sekuat tenaga, tuntutlah ilmu dengan sebaik-baiknya, jangan lupa berdoa dan berikhtiar. Bergantunglah pada Allah SWT. Yakinlah Allah akan menolong kita,” kata Solihin.
Mencegah Tawuran, Tanggung Jawab Bersama
Selain memberikan motivasi, Wakapolda Sumbar juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah tawuran, penganiayaan, dan berbagai bentuk perilaku yang dapat mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Menurut Solihin, upaya menjaga lingkungan tetap aman bukan semata-mata tugas kepolisian. Keluarga, lembaga pendidikan, pesantren, dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Pencegahan, kata dia, perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan karakter, pengawasan yang proporsional, komunikasi yang baik, dan kepedulian terhadap perubahan perilaku anak.
Ia menegaskan, tindakan kekerasan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele, terlebih apabila menimbulkan korban dan kerugian bagi orang lain.
“Kalau sudah mengarah pada tindakan kekerasan, penganiayaan, maupun pengeroyokan, tentu proses hukum pidana harus berjalan. Tidak ada kompromi terhadap tindakan kekerasan yang merugikan orang lain,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam tawuran ataupun aksi kelompok yang mengganggu ketertiban. Apabila suatu perbuatan memenuhi unsur tindak pidana, penanganannya dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Pesantren Harus Menjadi Ruang Aman
Solihin juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Sekolah, madrasah, dan pesantren, menurutnya, harus menjadi tempat bagi para pelajar untuk menimba ilmu, membangun karakter, serta belajar menghargai perbedaan.
Perbedaan latar belakang, pandangan, maupun pendapat tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan, mengintimidasi, atau menyakiti orang lain.
Karena itu, para santri didorong untuk berani menolak perundungan dan kekerasan, tidak ikut menyebarkan hoaks, serta melaporkan kepada pihak yang berwenang apabila menemukan situasi yang berpotensi membahayakan orang lain.
Pesan tersebut menempatkan santri bukan sekadar sebagai penerima pendidikan, melainkan juga sebagai bagian dari masyarakat yang dapat ikut membangun budaya saling menghormati dan menjaga keselamatan bersama.
Dialog Membuka Ruang bagi Santri
Pertemuan berlangsung dengan perhatian para peserta yang mengikuti arahan Wakapolda Sumbar. Kegiatan juga diisi sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada sejumlah santri untuk berdialog langsung dengan Solihin.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, para wakil rektor, sejumlah pejabat di lingkungan kampus, serta beberapa pejabat utama Polda Sumbar turut hadir dalam kegiatan tersebut. Para santri yang mengikuti pertemuan berasal dari sejumlah pesantren di Sumatera Barat.
Momentum Dies Natalis ke-60 UIN Imam Bonjol Padang dan peringatan Hari Santri 2026 ini menjadi pengingat bahwa pendidikan generasi muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak, sedangkan semangat meraih cita-cita harus disertai kemampuan menjaga diri dan menghargai orang lain.
Bagi para santri, pesan tersebut menjadi bekal untuk melangkah menuju masa depan. Bagi keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat, hal itu sekaligus menegaskan pentingnya menghadirkan lingkungan yang membantu anak-anak tumbuh tanpa ancaman narkoba, perundungan, kekerasan, maupun pengaruh negatif lainnya. (Nelvi/Elsi)
