window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Tetaplah Baik, Meski Sesekali Harus Berani Berkata Tidak - Sumbarkini
  • Breaking News

    Tetaplah Baik, Meski Sesekali Harus Berani Berkata Tidak


    PADANG (SUMBARKINI.COM) — Menjadi orang baik sering kali terasa mudah ketika semua permintaan bisa dipenuhi. Namun, keadaan dapat berubah ketika seseorang mulai mengatakan tidak. Bantuan yang selama ini diberikan seolah terlupakan, sementara satu penolakan justru menjadi alasan untuk mempertanyakan ketulusan dan kepeduliannya.

    Fenomena ini menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa sering seseorang mengabulkan keinginan orang lain.

    Drs. H. Marlis, MM, Ketua Asosiasi Media Pers Nusantara (ASANTARA), mengajak masyarakat untuk memahami bahwa berbuat baik tidak berarti harus selalu mengiyakan setiap permintaan.

    Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki keterbatasan. "Ada waktu yang harus dibagi, tenaga yang perlu dijaga, keluarga yang membutuhkan perhatian, serta tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan," tegasnya.

    Karena itu, ketidakmampuan memenuhi suatu permintaan tidak serta-merta menunjukkan seseorang kehilangan kepedulian.

    "Kebaikan tidak semestinya dinilai hanya dari kesediaan seseorang untuk selalu mengalah," tukuknya .

    Marlis mengatakan, seseorang bisa saja tulus membantu, tetapi pada kesempatan lain harus menolak karena kondisi yang tidak memungkinkan. Penolakan semacam itu tidak otomatis menghapus berbagai kebaikan yang pernah dilakukannya.

    Ketika Satu Penolakan Menghapus Banyak Kebaikan

    Dalam hubungan sosial, tidak semua orang dapat menerima penolakan dengan lapang dada.

    Seseorang yang sebelumnya dianggap peduli bisa dinilai berubah ketika tidak lagi dapat memenuhi harapan. Mereka yang pernah dipuji karena kemurahan hatinya pun berpotensi mendapatkan penilaian berbeda ketika harus membatasi bantuan.

    Padahal, situasi setiap orang tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

    Ada kalanya seseorang ingin membantu, tetapi kemampuannya terbatas. Ada pula keadaan ketika menerima suatu permintaan justru membuatnya mengabaikan kewajiban lain yang lebih mendesak.

    Di sinilah pentingnya membangun hubungan yang dilandasi pengertian, bukan semata-mata harapan untuk selalu mendapatkan apa yang diinginkan.

    Menghargai seseorang berarti memahami bahwa ia juga memiliki kebutuhan, persoalan, dan batas kemampuan yang perlu diperhatikan.

    Kebaikan seharusnya tumbuh dari ketulusan, bukan dari tekanan untuk mempertahankan citra sebagai orang yang selalu bersedia membantu.

    Berani Berkata Tidak Bukan Berarti Berhenti Peduli

    Marlis memaparkan, dalam kehidupan sosial, keberanian menetapkan batas sering kali menjadi bagian penting dari kedewasaan.

    Seseorang perlu mengetahui kapan harus membantu, kapan harus mempertimbangkan keadaan, dan kapan harus menolak dengan cara yang tepat.

    Terus-menerus mengiyakan permintaan demi menghindari penilaian buruk dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Waktu dan tenaga terkuras, tanggung jawab pribadi terbengkalai, bahkan janji yang terlanjur disanggupi belum tentu dapat ditunaikan dengan baik.

    Akibatnya, niat untuk menyenangkan semua orang justru berpotensi melahirkan kekecewaan yang lebih besar.

    Namun, menolak juga bukan berarti seseorang boleh bersikap kasar atau merendahkan orang yang meminta bantuan.

    "Penolakan tetap perlu disampaikan dengan santun, jujur, dan proporsional. Jika memang belum mampu membantu, menjelaskan keadaan secara baik-baik jauh lebih bermanfaat daripada memberikan janji yang tidak dapat dipenuhi," urainya.

    Sebab, menghargai orang lain tidak harus selalu diwujudkan dengan memenuhi seluruh keinginannya.

    Terkadang, kejujuran tentang keterbatasan justru merupakan bentuk tanggung jawab.

    Ketegasan Pemimpin Diuji oleh Keberanian Mengambil Keputusan

    Prinsip ini juga memiliki relevansi dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya dinilai dari banyaknya permintaan yang dapat dipenuhi atau seberapa sering ia menyenangkan orang-orang di sekitarnya.

    Dalam menjalankan amanah, ada keputusan yang menuntut pertimbangan matang, termasuk keputusan yang mungkin tidak disukai sebagian pihak.

    Permintaan yang menguntungkan satu kelompok belum tentu membawa manfaat bagi masyarakat luas. Keputusan yang terlihat menyenangkan dalam jangka pendek juga belum tentu tepat apabila menimbulkan persoalan di kemudian hari.

    "Ketegasan diperlukan agar keputusan tetap berlandaskan tanggung jawab, keadilan, aturan, dan kepentingan bersama," ujar CEO Alinia Grup ini.

    Meski demikian, ketegasan tidak boleh menjadi alasan untuk menutup diri dari kritik.

    Pemimpin tetap perlu mendengarkan aspirasi, memeriksa alasan di balik setiap permintaan, serta menjelaskan pertimbangan keputusannya secara terbuka dan proporsional.

    Penolakan yang disertai alasan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan berbeda dari keputusan yang dibuat tanpa mendengarkan pihak terkait.

    Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan tidak hanya terlihat ketika seseorang memberikan apa yang diminta, tetapi juga ketika ia mampu menjelaskan mengapa suatu permintaan belum dapat dipenuhi.

    Jangan Sampai Kekecewaan Menghapus Penghargaan

    Dalam hubungan antarmanusia, perbedaan harapan merupakan hal yang tidak dapat dihindari.

    Ada orang yang merasa kecewa ketika permintaannya ditolak. Perasaan itu manusiawi dan tidak selalu berarti ia memiliki niat buruk.

    Sebaliknya, orang yang menolak juga belum tentu bersikap egois. Bisa jadi, ia sedang menghadapi keterbatasan atau harus menyelesaikan tanggung jawab lain yang tidak terlihat oleh orang di sekitarnya.

    Karena itu, kedua belah pihak perlu memberikan ruang untuk saling memahami.

    Orang yang meminta bantuan perlu belajar menerima bahwa tidak semua permintaan dapat dipenuhi. Sementara itu, orang yang menolak perlu tetap menjaga kesantunan dan tidak mengabaikan kewajiban yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya.

    Hubungan yang sehat tidak dibangun dengan tuntutan agar satu pihak selalu mengalah, melainkan melalui komunikasi, kejujuran, penghargaan, dan kesediaan memahami keadaan masing-masing.

    Kekecewaan sesaat semestinya tidak langsung menghapus penghargaan terhadap kebaikan yang telah dilakukan seseorang selama ini.

    Tetap Membantu Tanpa Kehilangan Kendali atas Diri Sendiri

    Pada akhirnya, menjadi baik bukanlah perlombaan untuk memenuhi seluruh harapan manusia.

    Kebaikan perlu dijaga agar tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab, kemampuan, dan prinsip yang diyakini benar.

    Membantu orang lain tetap penting. Namun, seseorang juga perlu menjaga agar bantuan yang diberikan tidak membuatnya mengabaikan keluarga, pekerjaan, kesehatan, maupun amanah lain yang harus diselesaikan.

    Demikian pula, keberanian berkata tidak perlu disertai kesediaan untuk mengevaluasi diri. Apakah penolakan itu memang diperlukan? Apakah alasannya dapat dipertanggungjawabkan? Apakah cara menyampaikannya sudah menghormati orang lain?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang membedakan ketegasan yang bertanggung jawab dari sikap mementingkan diri sendiri.

    Sebab, tidak semua penolakan merupakan tindakan yang benar, sebagaimana tidak semua persetujuan merupakan bentuk kebaikan.

    Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap keputusan dibuat dengan pertimbangan yang wajar, disampaikan dengan santun, dan tidak mengabaikan hak maupun tanggung jawab terhadap orang lain.

    Pesan yang patut direnungkan adalah bahwa manusia bertanggung jawab atas sikap dan tindakannya, tetapi tidak selalu dapat mengendalikan penilaian setiap orang.

    Karena itu, tetaplah membantu ketika mampu, tepati janji yang telah dibuat, dengarkan kritik yang beralasan, dan jangan takut menjelaskan keterbatasan ketika memang diperlukan.

    Sebab, menjadi orang baik bukan berarti harus selalu berkata iya. Menjadi baik juga berarti berani bersikap jujur, menjaga tanggung jawab, dan berkata tidak ketika itulah keputusan yang paling tepat. (Zul)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad