Enam Indikator Ekonomi Sumbar Terungkap: Harga Naik, Petani Bertahan, Pariwisata Diuji

PADANG (SUMBARKINI.COM) – Perkembangan ekonomi Sumatera Barat sepanjang Oktober 2026 memperlihatkan dinamika yang perlu dicermati. Di satu sisi, aktivitas perdagangan luar negeri dan produksi padi menunjukkan potensi positif. Namun, tekanan harga kebutuhan masyarakat masih terasa, sementara sejumlah indikator pariwisata dan transportasi udara memperlihatkan tantangan tersendiri.
Gambaran tersebut tercermin dalam enam indikator strategis yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat pada 2 November 2026. Data tersebut meliputi perkembangan inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), pariwisata, transportasi, ekspor-impor, serta luas panen dan produksi padi.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendapatan petani, keberlangsungan usaha pariwisata, hingga peluang ekonomi dari perdagangan internasional.
Inflasi 3,97 Persen, Stabilitas Harga Tetap Menjadi Perhatian
Salah satu indikator yang patut mendapat perhatian adalah inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Sumatera Barat pada Oktober 2026 yang mencapai 3,97 persen.
Bagi masyarakat berpenghasilan tetap, kenaikan harga dapat mempersempit ruang pengeluaran. Sementara bagi kelompok berpendapatan rendah, perubahan harga pangan dan kebutuhan dasar berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap anggaran keluarga.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilihat dari angka agregat. Ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta pengawasan terhadap komoditas strategis perlu menjadi perhatian bersama.
Pemerintah daerah, pelaku distribusi, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan agar kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang wajar.
NTP 133,63, Kesejahteraan Petani Masih Perlu Dijaga
Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Barat pada Oktober 2026 mencapai 133,63, meningkat 0,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan tipis pada perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayarkan petani," ujar Nurul Huda.
Meski demikian, peningkatan tersebut relatif kecil. Artinya, perkembangan NTP masih perlu dibaca secara hati-hati dan tidak serta-merta menjadi gambaran bahwa seluruh petani telah mengalami peningkatan kesejahteraan.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi yang dibutuhkan petani.
Perhatian terhadap harga hasil panen, biaya pupuk, benih, pestisida, tenaga kerja, serta akses pasar tetap penting. Sebab, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan petani memperoleh pendapatan yang layak dari hasil kerjanya.
Bagi Sumatera Barat, menjaga keberlanjutan usaha pertanian berarti sekaligus menjaga sumber penghidupan masyarakat perdesaan dan ketahanan pangan daerah.
![]() |
| Foto bersama usai rilis Berita REsmi Statistik. |
Pariwisata: Okupansi Hotel Menurun, Potensi Kunjungan Wisata Perlu Diperkuat
Sektor pariwisata juga memperlihatkan perkembangan yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan pelaku industri perjalanan.
Nurul Huda menjelaskan, September 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Barat tercatat sebesar 48,44 persen. Angka ini turun 1,64 poin persentase dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 50,08 persen.
Sementara itu, TPK hotel nonbintang berada pada angka 16,22 persen, turun 0,65 poin persentase dari bulan sebelumnya.
Penurunan tingkat hunian tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati, terutama karena sektor pariwisata memiliki keterkaitan dengan banyak mata pencaharian masyarakat.
Pergerakan wisatawan tidak hanya berdampak pada hotel dan penginapan. Pengusaha rumah makan, pedagang oleh-oleh, sopir angkutan, pemandu wisata, pelaku ekonomi kreatif, hingga usaha kecil di sekitar destinasi juga ikut merasakan perubahan aktivitas wisata.
Data BPS juga mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada September 2026 sebanyak 7.488 kunjungan. Jumlah tersebut turun 26,71 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 10.217 kunjungan.
Adapun perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan kabupaten/kota di Sumatera Barat mencapai sekitar 1,77 juta perjalanan, turun 7,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, secara kumulatif Januari-September 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 17,96 juta perjalanan atau meningkat 3,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data kumulatif ini menunjukkan bahwa pasar wisata domestik masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan kunjungan wisatawan lebih berkualitas, memperpanjang lama tinggal, memperluas persebaran destinasi, serta meningkatkan belanja wisatawan kepada pelaku usaha lokal.
Penumpang BIM Menurun, Konektivitas Daerah Perlu Diperhatikan
Penurunan aktivitas juga terlihat pada sektor transportasi udara.
Berdasarkan data BPS, jumlah penumpang pesawat yang berangkat maupun datang melalui Bandara Internasional Minangkabau pada September 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Dalam perkembangan tersebut, BPS mencatat penurunan penumpang angkutan udara yang berangkat sebesar 13,30 persen dan penumpang yang datang sebesar 16,56 persen.
Pergerakan penumpang merupakan salah satu indikator aktivitas mobilitas masyarakat. Namun, penurunannya tidak bisa langsung diartikan sebagai melemahnya perekonomian secara keseluruhan karena dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk musim perjalanan, jadwal penerbangan, harga tiket, dan kebutuhan mobilitas masyarakat.
Bagi Sumatera Barat, konektivitas udara mempunyai arti penting. Selain mendukung perjalanan masyarakat, transportasi udara juga berkaitan dengan kunjungan wisatawan, aktivitas bisnis, investasi, dan hubungan ekonomi dengan daerah lain.
Karena itu, penguatan konektivitas, kemudahan akses transportasi, serta promosi destinasi perlu berjalan beriringan agar Sumatera Barat semakin kompetitif sebagai tujuan perjalanan dan investasi.
Ekspor US$357,81 Juta, Peluang Perdagangan Sumbar Terus Terbuka
Di tengah sejumlah tantangan tersebut, perdagangan luar negeri Sumatera Barat menunjukkan perkembangan yang positif.
BPS mencatat nilai ekspor Sumatera Barat pada September 2026 mencapai US$357,81 juta, sedangkan nilai impor sebesar US$115,44 juta.
Dengan demikian, Sumatera Barat masih mencatatkan surplus perdagangan pada bulan tersebut.
Secara kumulatif Januari-September 2026, nilai ekspor mencapai US$2.648,83 juta atau meningkat 26,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara nilai impor mencapai US$899,92 juta, meningkat 115,05 persen dibandingkan periode Januari-September 2025.
Kenaikan impor tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong, yang secara kumulatif naik 107,50 persen.
Dari sisi ekspor, sektor industri pengolahan menjadi salah satu pendorong penting dengan pertumbuhan 27,52 persen.
Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati masih mendominasi ekspor Sumatera Barat, dengan kontribusi 86,72 persen terhadap total ekspor Januari-September 2026.
India, Pakistan, Tiongkok, Bangladesh, dan Mesir menjadi lima negara tujuan utama ekspor Sumatera Barat.
Sementara itu, impor didominasi bahan bakar mineral, ampas atau sisa industri makanan, serta pupuk.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Sumatera Barat Januari-September 2026 mencatat surplus US$1.748,92 juta. Angka ini meningkat US$68,51 juta dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Perkembangan tersebut membuka peluang bagi daerah untuk memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas pasar ekspor, serta memastikan manfaat perdagangan luar negeri dapat dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat.
Peningkatan ekspor akan semakin bermakna apabila diikuti tumbuhnya industri pengolahan, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya keterlibatan usaha lokal dalam rantai pasok.
Produksi Padi Diperkirakan Naik, Ketahanan Pangan Tetap Menjadi Prioritas
Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, juga memberikan gambaran penting bagi masa depan ketahanan pangan Sumatera Barat.
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dengan amatan September 2026, luas panen padi Sumatera Barat sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 284.130 hektare.
Angka tersebut meningkat 55 hektare atau 0,02 persen dibandingkan luas panen 2025 yang tercatat 284.076 hektare.
Sementara produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) diperkirakan mencapai 1.626.979 ton, meningkat 35.096 ton atau 2,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG), produksi diperkirakan mencapai 1.413.181 ton, naik 30.484 ton atau 2,20 persen dibandingkan 2025.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, produksi beras Sumatera Barat pada 2026 diperkirakan mencapai 818.264 ton, meningkat 17.651 ton atau 2,20 persen dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 800.613 ton.
Meski proyeksi tahunan menunjukkan peningkatan, terdapat catatan yang tidak boleh diabaikan.
Realisasi luas panen Januari-September 2026 tercatat 220.724 hektare, turun 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi GKG pada periode Januari-September juga turun 2,62 persen menjadi sekitar 1.098.307 ton.
Dengan demikian, proyeksi peningkatan produksi tahunan masih bergantung pada realisasi potensi panen Oktober-Desember 2026.
BPS memperkirakan potensi produksi pada periode tersebut mencapai 314.874 ton GKG.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga produktivitas pertanian melalui ketersediaan air, perbaikan irigasi, perlindungan lahan pertanian, akses pupuk, benih berkualitas, serta pendampingan kepada petani.
Peningkatan produksi harus diikuti kepastian pasar dan harga jual yang menguntungkan petani. Sebab, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan beras, tetapi juga keberlanjutan kehidupan masyarakat yang memproduksinya.
Membaca Data, Menentukan Arah Pembangunan
Enam indikator yang dirilis BPS Sumatera Barat memberikan gambaran bahwa pembangunan ekonomi daerah membutuhkan perhatian yang seimbang.
Pengendalian inflasi harus berjalan seiring dengan perlindungan daya beli masyarakat. Peningkatan kesejahteraan petani harus menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan. Sementara itu, penguatan pariwisata, konektivitas transportasi, dan perdagangan luar negeri perlu diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Data statistik juga penting menjadi dasar evaluasi kebijakan. Pemerintah daerah, DPRD, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dapat menggunakannya untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus mengukur perkembangan pembangunan.
Bagi masyarakat, angka-angka tersebut menjadi informasi penting untuk memahami kondisi ekonomi daerah, termasuk perkembangan harga kebutuhan, peluang usaha, dan keberlanjutan sektor-sektor yang menjadi sumber penghidupan.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari meningkatnya angka produksi atau nilai perdagangan. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat semakin mudah memenuhi kebutuhan hidup, petani memperoleh pendapatan yang layak, pelaku usaha berkembang, dan kesempatan kerja semakin terbuka.
Sebab, pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya harus terasa dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya tercatat dalam laporan statistik. (Zul)
