• Breaking News

    Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

    Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Luncurkan Program WAWASAN Nusantara

    Karawang (sumbarkini.com) – Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) hari ini meluncurkan Program WAWASAN Nusantara (WASH Management, WasteManagement, and Nutrition for Nusantara), di Desa Kutamaneuh, Karawang, Jawa Barat. Program ini merupakan kelanjutan dari program WASH+ (Water Access, Sanitation and Hygiene +) yang sukses menunjukkan upaya pengelolaan air berbasis masyarakat, sekaligus menjadi dasar pendekatan komprehensif program ini.


    WAWASAN Nusantara merupakan program WASH+ yang diperluas cakupannya pada pengelolaan sampah padat dan cair, peningkatan nutrisi masyarakat melalui pengembangan pertanian skala rumah tangga, dan pemberdayaan usaha mikro yang berbasis pada pengelolaan sampah dan produk pertanian. Pendekatan yang holistik ini berpusat pada hubungan antara air, sanitasi, pengelolaan sampah, dan nutrisi dalam mendorong pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Melalui pengentasan permasalahan ini secara terintegrasi, WAWASAN Nusantara bertujuan untuk menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
     

    Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan dalam hal akses terhadap sanitasi yang layak. Berdasarkan data dari Bank Dunia pada tahun 2020, sekitar 100 juta penduduk di Indonesia masih kekurangan akses ke fasilitas sanitasi yang layak, dan sekitar 60 juta penduduk Indonesia tidak memiliki pilihan selain buang air besar di tempat terbuka, yang sering kali dilakukan di tanah atau di sungai. Kondisi ini berkontribusi pada tingginya tingkat kontaminasi sumber air minum rumah tangga, yang mengarah pada penyebaran penyakit diare, salah satu penyebab utama kematian balita seperti yang dilaporkan oleh Portal Air Indonesia (2022). Borgen Project (2020) mencatat bahwa setidaknya terdapat 120 juta kasus penyakit dan 50.000 kematian dini di Indonesia setiap tahunnya dan menyebabkan kerugian sebesar $3,3 miliar per tahun bagi negara akibat sanitasi yang buruk.


    Melalui program WASH+, CCEP Indonesia, bersama dengan mitra pelaksana Water Stewardship Indonesia (WSI) dan Safe Water Gardens (SWG), telah melakukan serangkaian intervensi di Desa Kutamaneuh. Inisiatif ini dimulai dengan sensus desa untuk melakukan pendekatan berbasis data dalam merancang penyediaan akses air bersih, fasilitas sanitasi, dan fasilitas pengelolaan sampah; pembangunan fasilitas air dan sanitasi dengan system penggunaan kembali air untuk pertanian skala rumah tangga; serta serangkaian pelatihan bagi masyarakat dan aparat desa guna meningkatkan pemahaman tentang pentingnya sanitasi dan nutrisi serta membekali mereka dengan keterampilan usaha, pengelolaan sampah, dan pengembangan proposal untuk meningkatkan sumber pendanaan desa untuk pengadaan fasilitas air bersih, sanitasi dan pengelolaan sampah.
     

    “Melalui peluncuran WAWASAN Nusantara, kami bermaksud memperluas pendekatan WASH+ yang merupakan program pengelolaan air berbasis masyarakat dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah dan nutrisi berkelanjutan. Pengembangan program ini tidak hanya akan meningkatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan yang lebih baik melalui perbaikan gizi dan menciptakan peluang ekonomi melalui 2Classification: Internal usaha mikro berbasis sampah dan pertanian; sehingga dapat menjadi salah satu solusi permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini. Dengan para pemangku kepentingan terkait, kami berkolaborasi dalam aksi yang mendorong pembangunan masyarakat dan lingkungan yang berkelanjutan, sehingga juga dapat mempercepat pencapaian target Pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030.” jelas Lucia Karina, Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia.


     

    Sebagai bagian dari acara peluncuran, CCEP Indonesia menyelenggarakan diskusi panel bertajuk “Pendekatan Terpadu dalam Menyediakan Akses Air Bersih, Sanitasi, dan Higienitas: Sebuah Telaah dari Proyek Berbasis Masyarakat.”


    Fany Wedahuditama dari Water Stewardship Indonesia menyoroti pentingnya proses sensus desa dalam program WASH+, dengan menyatakan, “Sensus ini memungkinkan kami untuk mengukur indikator utama dan merancang intervensi berbasis data. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam akses air bersih dan fasilitas sanitasi, yang secara positif berkontribusi terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.” 


    Di kesempatan yang sama, Kepala Bidang Ekonomi & Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat, Eka Jatnika Sundana, ST., M.Sc menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. 

    “Program-program seperti WAWASAN Nusantara, yang menggunakan pendekatan komprehensif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sangat penting dalam mempercepat pencapaian target pembangunan. Kami mengapresiasi inisiatif CCEP Indonesia dan berharap dapat melihat lebih banyak kemitraan seperti ini di masa depan.”


    Perkembangan ini juga disambut baik oleh Camat Tegalwaru, Bunawan, “Program WASH+ telah membawa perubahan positif bagi masyarakat Kutamaneuh. Kami optimis bahwa WAWASAN Nusantara akan memperluas manfaat ini dan berkontribusi pada peningkatan ketahanan dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.”


    Karina menambahkan, “Kami berharap pengembangan program WASH+ menjadi WAWASAN Nusantara dapat memberikan dampak yang komprehensif dan positif. Pendekatan terpaduyang menghubungkan pengelolaan air, sanitasi, sampah, dan nutrisi sangat penting untuk menciptakan dampak berkelanjutan dan mendukung target pembangunan nasional. Dengan kolaborasi dan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, kami berharap program ini dapat menjadi model untuk diimplementasikan di daerah lain.” (*)

    CCEP Indonesia Perkuat Komitmen Ekonomi Sirkular

    Jakarta - Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) menegaskan komitmennya terhadap penanganan persoalan sampah di Indonesia dengan mendukung terwujudnya pendekatan ekonomi sirkular melalui transformasi Bank Sampah. Komitmen ini disampaikan pada acara Rapat Koordinasi Nasional Bank Sampah 2024 di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Rabu (3/7).

    Lucia Karina, Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia menyampaikan pentingnya peran Bank Sampah dalam mencapai target pengelolaan sampah yang dicanangkan Pemerintah Indonesia. "Bank Sampah bukan sekadar wadah pengumpulan sampah, melainkan katalis perubahan pola pikir masyarakat tentang pengelolaan sumber daya. Melalui Bank Sampah, kita dapat mengubah paradigma sampah dari masalah menjadi sumber daya ekonomi dan sosial," ujar Karina. 

    Lebih lanjut, Karina menjelaskan bahwa Bank Sampah memiliki peran penting dalam mendorong perilaku pemilahan sampah, menciptakan nilai ekonomi, memberdayakan perempuan, hingga menciptakan tatanan sosial yang berkeadilan gender. Mengingat peran krusial tersebut, CCEP Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung transformasi Bank Sampah di Indonesia.Karina mengungkapkan bahwa Bank Sampah menghadapi berbagai tantangan dalam keberlangsungan operasionalnya. Berdasarkan temuan di lapangan, tantangan tersebut meliputi kurangnya pembeli tetap bahan daur ulang, keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah dan keterampilan bisnis, fluktuasi harga material daur ulang, hingga hambatan peningkatan skala operasional dan kurangnya dukungan infrastruktur pengelolaan sampah di berbagai daerah. Karena banyak Bank Sampah yang tidak berumur panjang dan tidak dapat beroperasi secara optimal.

    Menanggapi tantangan-tantangan tersebut, katanya, CCEP Indonesia menghadirkan beberapa inisiatif inovatif untuk mendukung transformasi Bank Sampah. Inisiatif-inisiatif ini mencakup pelatihan manajemen dan keterampilan bisnis, pendampingan teknis untuk meningkatkan efisiensi operasional, pengembangan produk daur ulang bernilai tambah, pembukaan pasar baru untuk produk daur ulang, serta kolaborasi multi-pemangku kepentingan. CCEP Indonesia juga melibatkan kemajuan teknologi dan digitalisasi dalam upaya mendukung transformasi Bank Sampah. 

    Salah satu contoh keberhasilan dukungan CCEP Indonesia terhadap Bank Sampah dapat dilihat di Kota Metro, Provinsi Lampung. Melalui kolaborasi sinergis, Bank Sampah Metro Lampung saat ini telah berhasil menerapkan tata kelola persampahan tingkat kota yang berkelanjutan. Program- program yang diterapkan meliputi jaminan kerja sama tetap pembelian kemasan plastik PET, pelatihan intensif manajemen dan kewirausahaan, pengembangan produk daur ulang bernilai tambah, digitalisasi bank sampah, serta pendampingan akses ke insitusi keuangan dan pendidikan.

    Diungkapkannya, hasil yang dicapai dari program ini cukup signifikan. Bank Sampah Metro Lampung kini menaungi sekitar 22 unit bank sampah dan melayani kurang lebih 1.600 rumah tangga di Kota Metro, Lampung. Selain itu, terjadi peningkatan volume sampah yang terkumpul dan didaur ulang, pertumbuhan pendapatan Bank Sampah dan anggotanya, perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta peningkatan partisipasi dan pemberdayaan kaum perempuan setempat.
     

    Selanjutnya, Karina menyebutkan, sebagai produsen minuman kemasan, CCEP Indonesia berkomitmen menjadi katalis perubahan sistem pengelolaan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular yang menyeluruh. Pendekatan ini mencakup seluruh rantai nilai, dari hulu hingga hilir. Di hulu, perusahaan fokus pada desain kemasan berkelanjutan, transisi dari botol berwarna menjadi transparan, peningkatan penggunaan bahan baku daur ulang (recycled PET/rPET) pada kemasan, efisiensi sumber daya air dan energi, minimalisasi limbah produksi, serta peningkatan penggunaan energi terbarukan dalam proses operasi.
     

    Sementara di hilir, lanjut Karina CCEP Indonesia memberikan dukungan pada sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi yang bertanggung jawab melalui fasilitas daur ulang Amandina Bumi Nusantara dan yayasan Mahija Parahita Nusantara, serta edukasi dan kampanye kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
     

    "Kami percaya bahwa pendekatan ekonomi sirkular adalah kunci menuju masa depan yang
    berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Sampah, kami optimis
    dapat menciptakan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat," ujarnya.
    (*/elsi)

    Membangun Kesadaran Lingkungan di Bulan Ramadan, CCEP Indonesia Berkolaborasi dengan Lima Belas Pesantren di Indonesia

    Padang - Dalam rangka memperkuat komitmen sosial dan lingkungan di Bulan Ramadan, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) menggelar serangkaian kegiatan bersama lima belas pesantren terpilih di seluruh Indonesia dari tanggal 26 hingga 28 Maret 2024. Program ini, bertajuk "Ramadan Bersih, Ramadan Suci", dirancang untuk menyatukan nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan lingkungan.

    Pesantren, sebagai institusi pendidikan yang menggabungkan pembelajaran fisik dan spiritual, dipilih karena peranannya yang krusial dalam membentuk karakter dan meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan santri. 

    "Melalui 'Ramadan Bersih, Ramadan Suci', kami ingin mendorong para santri untuk menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka, memahami pentingnya dan mengadopsi nilai-nilai penting tentang kebersihan dan keberlanjutan lingkungan melalui pentingnya pengumpulan sampah yang bertanggung jawab" kata Lucia Karina, PACS Director di CCEP Indonesia.

    Program ini mencakup workshop pengelolaan sampah untuk mengedukasi para santri tentang pentingnya pemilahan sampah dan pembentukan bank sampah, serta buka puasa bersama yang menghangatkan hati, memperkuat ikatan antara santri dan staf pesantren. Kegiatan ini sendiri melibatkan lima belas pondok pesantren yang tersebar mulai dari Medan, Padang, Lampung, Bandung, Magelang, hingga Pasuruan. 


    Secara total, 4.950 santri turut serta dalam program pelatihan ini. Tidak hanya itu, pada kegiatan kali ini turut diserahterimakan sebanyak 23 tempat sampah, yang merupakan cerminan dari upaya bersama untuk mengedukasi dan mendorong praktik pengelolaan lingkungan yang lebih baik. 

    Program ini mendapatkan sambutan yang positif dari pesantren-pesantren yang terlibat. Salah satu peserta program, Pesantren Bustanul Yaqin, yang dipimpin DR. H. Zainal Tk Mudo, M.Ag  menyambut baik kegiatan pelatihan pengelolaan sampah kali ini. Menurutnya, salah satu persoalan yang terkadang luput dari perhatian di lingkungan pesantren adalah pengelolaan sampah. Oleh karena itu, dirinya berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara berkelanjutan. 

    Santriwati membersihkan halaman Pondok Pesantren.

     “Saya pribadi berharap kegiatan seperti pelatihan pengelolaan sampah ini bisa dilakukan secara berkelanjutan guna mewujudkan pengelolaan sampah yang ideal di lingkungan pesantren. Akan lebih baik jika pesantren bisa mengelola sampahnya secara mandiri,” ujar DR. H. Zainal Tk Mudo, M.Ag , Pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Yaqin, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

    Hadir dalam kesempatan ini dan turut berbagi inspirasi dalam workshop terkait penanganan sampah, Rektor Universitas Tamansiswa Padang  Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, M.S., Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Sumatera Barat Dr. Rahmat Tuanku Sulaiman, S.Sos, M.M, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Padang Pariaman Syafrion S.E., M.Si di damping NGO Yayasan Andalas Bumi Lestari sebagai mitra pendampingan dalam kegiatan ini.

    Buka bersama CCEP dengan santri Bustanul Yakin.

    Workshop pengelolaan sampah sejalan dengan fokus CCEP Indonesia terkait rencana aksi keberlanjutan yang tertuang dalam komitmen global ”This is Forward”. Sebagai perusahaan pembotolan dan distribusi minuman kemasan, CCEP Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan praktik ekonomi sirkular. Ada beberapa komponen utama dalam strategi ekonomi sirkular perusahaan, termasuk mencapai 100% kemasan yang dapat didaur ulang dan meningkatkan penggunaan plastik daur ulang menjadi 50% pada tahun 2025, serta mengeliminasi penggunaan plastik murni berbasis minyak dalam kemasan botol dan mendaur ulang setiap botol atau kaleng produk yang dijual pada tahun 2030.

    Di samping itu, pada tanggal 26 Maret, CCEP Indonesia juga turut menggelar buka puasa bersama karyawan dan panti asuhan di 11 area operasional di seluruh Indonesia, menunjukkan komitmen mereka terhadap kebersamaan dan dukungan komunitas di bulan Ramadan yang penuh berkah. (*/elsi)

    COCA-COLA LUNCURKAN BOTOL 100% rPET DI INDONESIA

    Jakarta – Coca-Cola Indonesia hari ini mengumumkan peluncuran nasional untuk kemasan botol yang terbuat dari 100% plastik PET daur ulang (rPET), tidak termasuk tutup dan label  – yang pertama untuk produk minuman perusahaan di Indonesia. Kemasan rPET sekarang tersedia untuk merek Coca-Cola Trademark, Fanta, Sprite dalam kemasan 390ml, dan Sprite Waterlymon dalam kemasan 425ml. 

    "Hari ini, kami dengan bangga menyatakan bahwa satu dari setiap tiga botol yang ada di pasar Indonesia sekarang terbuat dari 100% plastik rPET (daur ulang), dibuat secara lokal di Amandina Bumi Nusantara, pabrik daur ulang yang didirikan oleh mitra pembotolan kami Coca-Cola Europacific Partners Indonesia bersama Dynapack Asia," kata *Julio Lopez, Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia*. "Botol kami memiliki nilai lebih dari penggunaan pertama karena dapat digunakan berulang kali, sehingga membantu mendukung ekonomi sirkular loop tertutup.”

    Tonggak penting dari Coca-Cola di Indonesia dalam menghidupkan ekonomi sirkular loop tertutup  ini  menggarisbawahi komitmen perusahaan terhadap visi World Without Waste, yang mencakup tujuan  untuk menggunakan setidaknya 50% plastik daur ulang dalam kemasannya pada tahun 2030, dan ambisi untuk membantu mengumpulkan setara dengan setiap kaleng dan botol yang dijual pada tahun 2030. Dengan diperkenalkannya botol yang terbuat dari 100% rPET baru, Coca-Cola memberikan kontribusi besar terhadap tujuan ini di Indonesia dengan mengurangi ketergantungan pada plastik baru dan menurunkan emisi karbon dalam proses produksi.  

    The Coca-Cola Company saat ini menawarkan setidaknya satu merek yang terbuat dari 100% rPET (daur ulang) di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

    "Di Coca-Cola, kami menyadari urgensi dan kompleksitas tantangan sampah plastik di Indonesia. Tidak ada entitas tunggal yang dapat mengatasi tantangan ini sendirian. Kami berkomitmen untuk menawarkan desain kemasan, pengumpulan, dan sistem daur ulang yang inovatif serta menjalin aliansi strategis dengan para pemangku kepentingan—termasuk lembaga pemerintah, mitra industri, dan organisasi lokal—untuk mendorong ekonomi sirkular di Indonesia. Kami juga memanfaatkan kekuatan serta jangkauan merek Coca-Cola untuk secara aktif melibatkan konsumen dalam inisiatif daur ulang dan membangun kesadaran tentang potensi luar biasa mengubah botol plastik menjadi baru," lanjut Lopez.

    Melalui usaha patungan lokal dan perjanjian pemasok jangka panjang, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia melakukan investasi strategis untuk meningkatkan kapasitas daur ulang di Indonesia, membuka pasokan plastik daur ulang, dan meningkatkan teknologi baru. Botol 100% rPET Coca-Cola diproduksi di fasilitas daur ulang baru di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Amandina Bumi Nusantara, yang didirikan dalam kemitraan antara Coca-Cola Europacific Partner Indonesia dan Dynapack Asia. Fasilitas canggih ini memproses botol PET bekas pakai (pascakonsumsi) yang bersumber dari pasokan lokal dan mengubahnya menjadi botol baru untuk merek Coca-Cola.

    Pabrik daur ulang ini juga berkolaborasi dengan Mahija Parahita Nusantara, yayasan sosial nirlaba yang didirikan oleh kedua organisasi tersebut. Yayasan ini mendukung penciptaan infrastruktur pengumpulan melalui pengembangan usaha mikro pengumpulan dan berpusat pada usaha sosial serta dukungan masyarakat. Mahija Parahita Nusantara menyediakan bahan baku untuk fasilitas daur ulang dan, yang terpenting, juga mendukung komunitas pemulung informal dengan pekerjaan yang stabil serta membuka akses terhadap layanan sosial.   



    Bersama-sama, Coca-Cola dan mitra lokalnya di Indonesia membantu membangun infrastruktur rantai pasokan loop tertutup untuk meningkatkan daur ulang dan pengumpulan PET, serta membantu memastikan bahan baku untuk botol plastik Coca-Cola sehingga dapat digunakan berulang kali.

    "Di Coca-Cola Europacific Partners, sistem ekonomi sirkular loop tertutup yang kami inisiasi  merupakan bagian integral dari strategi keberlanjutan kami,  karena kami bertujuan untuk mengumpulkan 100% kemasan kami pada tahun 2030 dan untuk memastikan 50% kemasan kami berasal dari rPET (daur ulang). Komitmen ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah sebesar 30% dan mengurangi sampah laut sebesar 70% pada tahun 2025 dalam mengatasi polusi plastik," kata *Xavi Selga, Presiden Direktur Coca-Cola Europacific Partners Indonesia dan Papua Nugini*.  "Pendekatan kolaboratif dari semua pemangku kepentingan sangat penting untuk mencapai tujuan ini, dengan fasilitas daur ulang Amandina Bumi Nusantara kami yang baru, kami akan mengubah botol lama menjadi yang baru karena kami membantu mempercepat sistem pengemasan loop tertutup di Indonesia."

    Botol 100% rPET Coca-Cola mempertahankan standar kualitas tinggi yang biasa diharapkan oleh konsumen dari perusahaan, serta keamanan kemasan plastik rPET yang sesuai dengan peraturan Indonesia dan standar global The Coca-Cola Company yang ketat untuk kemasan rPET food grade. 

    Dalam  peluncuran Coca-Cola botol 100% rPET  di Indonesia, Coca-Cola  mengadakan acara selama dua hari di Piazza, Gandaria City Mall, Lantai Dasar, dari tanggal 16 - 17 Juni 2023. Acara yang menarik dan informatif ini akan menampilkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk menginspirasi tindakan  publik  yang  lebih luas menuju ekonomi sirkular dan kehidupan berkelanjutan. (*) 

    Gubernur Sumbar, Revitalisasi Danau Maninjau Harus Sejahterakan Masyarakat Sekitar

    Padang - Revitalisasi Danau Maninjau merupakan program nasional dalam upaya mengembalikan keasrian lingkungan danau. Diharapkan tidak lagi terjadi pencemaran di masa-masa mendatang.  

    "Pengurangan karamba tentu sebuah hal yang wajar, karena diketahui sudah melampau ambang batas yang dapat menimbulkan pencemaran dan kematian ribuan ikan yang setiap tahunnya yang tentunya merugikan masyarakat dan merusak lingkungan sekitarnya," ungkap Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat menerima kunjungan tokoh masyarakat pemilik karamba Danau Maninjau di ruang rapat Gubernuran Sumbar, Selasa 29 Juni 2021.

    Mahyeldi menegaskan kebijakan pemerintah pasti tidak akan mempersulit masyarakat. Bahkan akan mencarikan solusi guna meningkatkan kesejahterakan masyarakat sekitar dengan bantuan usaha, peralatan dan program-program keahlian. Pemberdayaan yang dilakukan bakal meningkatkan potensi masyarakat agar mampu mengembangkan usahanya lebih baik lagi tanpa mencemari danau Maninjau lagi.

    "Pengurangan karamba yang ada, tidak akan menghabiskan seluruh keramba apalagi milik penduduk asli sekitar danau tersebut. Kita meminta keramba yang sudah usang tidak dipakai untuk di angkat agar tidak mencemari. Lalu ikan-ikan yang mati juga diangkat, dikeluarkan dari danau, supaya tidak mencemari lingkungan yang ada," ajak Mahyeldi.

    Kepala Dinas Kelautan Perikanan Sumbar Ir. Yosmeri mengatakan kehadiran masyarakat pemilik karamba di Danau Maninjau meminta perhatian pemerintah sebelum program revitalisasi  Maninjau dilaksanakan.

    Pemilik keramba meminta pemerintah menyelamatkan usaha rakyat, keramba yang dimiliki penduduk asli, yang sudah turun temurun mendiami Maninjau. Karena usaha karamba merupakan sumber penghidupan utama bagi masyarakat. Keramba menghidupi keluarga, mengkuliahi anak-anak dan membantu kehidupan masyarakat sekitarnya.

    "Kita berharap masyarakat sekitar danau Maninjau dan sekitarnya dapat berperan aktif dalam mengembalikan keasrian danau Maninjau yang indah dan potensi alamnya yang luar biasa," himbau Yosmeri. (*)

    CCEP Indonesia Bersama Forum Pendidik Sukanegara: Menjaga Ketahanan Pangan Berbasis Pendidikan

    Lampung - Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia bersama Sekolah Alam Lampung mendorong lembaga pendidikan sekolah di Desa Sukanegara, Lampung Selatan, menuju sekolah yang berwawasan lingkungan dalam kegiatan seri Coca-Cola Forest Fun Learning untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 5 Juni. Dalam kesempatan ini dilakukan diskusi tentang restorasi pemanfaatan ruang halaman sekolah dan pekarangan rumah menjadi lahan hijau produktif untuk mendukung program ketahan pangan. 

    Direktur Sekolah Alam Lampung, Hesti Kusumarini, mengatakan bahwa sekolah sudah sepatutnya berupaya memasukkan konsep sekolah hijau berwawasan lingkungandalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian, sekolah mempunyai kontribusi membangun generasi masa depan yang mampu mengelola alam dengan baik. Selain itu, menyiapkan generasi penerus yang diharapkan menjadi pemimpin yang baik dan bermanfaat bagi alam semesta.

    “Mewujudkan keinginan sekolah hijau tidak sulit, bisa dilakukan di sekolah atau di mana saja. Namun, butuh kemauan dan kekuatan, mulai dari hal kecil seperti, pengelolaan sampah dan belajar dari alam sekitar kita,” kata Hesti kepada guru-guru yang tergabung dalam Forum Pendidik Sukanegara.

    Hesti menambahkansekolahhijaumenerapkanbeberapakonsepgo green, antara lain:green building, green energy, green lifestyle, green economy, dan green media.


    “Banyak sekali manfaat dari penerapan sekolah hijau. Sekolah Alam Lampung ini merupakan salah satu contoh komunitas hijau. Green lifestyle menjadi salah satu karakter yang ingin dibangun kepada para siswa kami,” tambahnya.

    Corporate Affair Regional Manager West Indonesia CCEP, Yayan Sopian, mengatakan kolaborasi dengan Sekolah Alam Lampung dapat menjadi penyemangat guru-guru untuk membangun sekolah yang ramah lingkungan di Desa Sukanegara.

    “Mudah-mudahan para dewan guru yang tergabung dalam forum pendidik dapat mengambil manfaat dari kolaborasi ini. Selanjutnya dapat mewujudkan generasi-generasi penerus yang memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan membangun ketahanan pangan di zona 1 melalui sekolah hijau,” ujarnya. (*)

    Olah Sampah Jadi Energi, Wagub Sumbar Kunjungi TPST RDF Cilacap

    CILACAP - Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy menilai pengolahan sampah menjadi energi, merupakan hal yang baik untuk lingkungan di perkotaan. Apalagi dengan banyaknya sampah akibat kepadatan penduduk. 

    "Paradigma yang menganggap sampah sepenuhnya tak berguna harus dibuang jauh-jauh. Ini kita buktikan di Cilacap bisa mengubah sampah jadi berkah. Dengan teknologi, sampah menjadi pengganti batu bara," kata Audy Joinaldy saat meninjau tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis 10 Juni 2021.

    Teknologi pengolahan sampah yang menggunakan proses homogenizers untuk mengubah ukuran sampah menjadi lebih kecil atau sistem Refused Derived Fuel (RDF). Hasilnya akan menjadi sumber energi dalam proses pembakaran, yaitu sebagai pengganti batu bara. Dengan memproses menjadi RDF bisa mengurangi pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). 

    "Adanya RDF sampah dapat diolah menjadi energi dan bisa mengurangi sampah, maka dari itu pengolahan sampah terus menjadi perhatian di Sumbar, termasuk dalam pengolaan menjadi energi," jelasnya.


    Sementara itu Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji mengatakan, di daerahnya telah terdapat aplikasi pengelolaan sampah yang dibuat warga, maupun Sistem Informasi Pengelolaan Sampah. Mereka meminta warga agar mengolah sampah di tingkat rumah tangga, sebelum nantinya dibuang. 

    "Nantinya masyarakat bisa menjual sampahnya sesuai aplikasi yang telah kami buat. Saat ini kami sudah punya pelanggan sampah rumah tangga," ungkap Tatto.

    Menurutnya, biaya produksi olahan sampah dengan sistem RDF membutuhkan Rp300 ribu/ton setiap harinya atau sekitar 20 US dollar. Sedangkan untuk batu bara, dalam satu ton mencapai 40-50 US dollar. Padahal nilai kalorinya sampai 3.000 kalori per ton. 

    "Sejak dulu sampah Cilacap memang jadi permasalahan, saat ini TPST RDF Jeruklegi mampu mengolah sampah sebanyak 120 ton setiap harinya. Kalau setiap bulan berarti mencapai 3.600 ton. Sementara untuk kapasitas mesin RDF mampu mengolah sampah sebanyak 150 ton setiap harinya," sebutnya.

    "Karena ini masih uji coba, maka kami secara operasional tetap pada 120 ton sampah. Kebanyakan sampah yang kelolah dari sampah perkotaan di Cilacap," imbuhnya. (*)

    Kunjungi TPST RDF Cilacap, Audy Joinaldy Berharap Bisa Diterapkan di Sumbar

    CILACAP - Pengolahan sampah menjadi energi terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Ke depan masyarakat agar mengolah sampah di tingkat rumah tangga, sebelum nantinya dibuang seperti yang didapat dari study lapangan di Cilacap, Jawa Tengah dimana ada aplikasi pengelolaan sampah yang dibuat warga, maupun Sistem Informasi Pengelolaan Sampah.

    Bahkan ada rencana pengolahan sampah di Sumbar difasilitasi Deputi IV Kemenko Marves RI. Hal ini diungkap Wakil Gubernur Wagub Sumatera Barat Sumbar Audy Joinaldy di sela-sela kunjungan kerja ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang menerapkan teknologi refuse-derived fuel (RDF) di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis 10 Juni 2021.

    Audy mengatakan, Pemprov Sumbar akan mengadopsi teknologi pengolahan sampah ini dan akan dilakukan kerjasama. PT Semen Padang dan PT. PLN pada prinsipnya juga menerima dan mendukung pemanfaatkan energi hasil pengolahan sampah tersebut.

    Menurutnya Refused Derived Fuel (RDF) sebagai teknologi pengolahan sampah yang menggunakan proses homogenizers untuk mengubah ukuran sampah menjadi lebih kecil atau sesuatu yang bermanfaat. Hasilnya akan menjadi sumber energi dalam proses pembakaran, yaitu sebagai pengganti batu bara.

    "Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pengelolaan sampah saat ini masih menjadi permasalahan utama, ini akan menjadi PR kita bersama," sebut Audy.

    Ia mengatakan seiring dengan kemajuan teknologi, pengelolaan sampah yang lebih baik dan mampu meminimalisasi efek samping sampah, bahkan menghasilkan output yang bermanfaat secara ekonomis sudah semakin berkembang.

    "Semoga ini bisa terlaksana di Sumbar, kita apresiasi Kabupaten Cilacap. Hal ini akan kita terapkan di Sumbar nantinya," ujarnya. (*)

    Dishut Giatkan Penanaman di Puncak Gunung Singgalang dan Pantai Pasir Jambak


    Padang - Semarakkan peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2021, di Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kehutanan Sumbar selain melaksanakan penanaman pohon Mangrove di Pantai Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah Kota Padang juga berdiskusi tentang pengembangan tanaman Taxus Sumatrana. Sekaligus, melakukan penanaman bibit Taxus di puncak Gunung Singgalang.

    Kepala Dishut Sumbar, Yozarwardi, S.Hut.Msi kepada media ini, Selasa 23 Maret 2021 melaporkan, Hari bakti Rimbawan merupakan momen yang dapat membangkitkan semangat, inspirasi, inovasi, dan motivasi kerja di bidang kehutanan. Untuk itu pada 16 Maret 2021, bertepatan dengan Hari Bakti Rimbawan ke-38 Rimbawan Sumbar melaksanakan penanaman pohon Mangrove. Bertempat di Pantai Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Seribu pohon mangrove jenis Rhizophora sp ditanam di lokasi itu. 

    Mengapa memilih Pantai Pasir Jambak? Dikatakan Yozarwardi, karena lokasinya yang cukup indah dan punya prospek untuk dikembangkan nantinya menjadi ekowisata. 

    "Menanam penting, namun memelihara pohon setelah ditanam lebih penting lagi. Oleh karena itu kolaborasi dengan Forum DAS Kota Padang, Pokmaswas Pasir Jambak dan BPDAS HL Agam Kuantan perlu dilakukan, untuk memastikan keberlanjutan hidup pohon Rhizophora yang ditanam," terangnya.

    Sementara itu di sela-sela penanaman bincang ringan Yozarwardi juga terjadi dengan anak muda Pati Hariyose Ketua Pokmaswas,  Prof Isril Berd, Ketua Forum DAS Kota Padang dan Dr. Nursidah, Kepala BPDAS HL Agam Kuantan. 

    "Meski aksinya kecil namun bisa memberikan manfaat yang besar. Itulah doanya. Begitulah harapan, setiap kali menanam pohon menjadi sumbangsih Rimbawan Sumatera Barat untuk Indonesia,"ungkapnya.

    Usai itu, Kadishut Sumbar dalam rangka Hari bakti Rimbawan melaksanakan penanaman pohon di ketinggian. Pada tahun 2021 ini dipilih di puncak Gunung Singgalang. Di ketinggian 1550 M DPL, Yozarwardi sampai di Posko KTH Taxus Singgalang, Jorong Tanjuang Nagari Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar. Para pendaki gunung menyebut tempat ini "Pesanggrahan". 

    "Saya perhatikan di sekitar posko KTH, tampak hamparan kebun sayuran dan cabe, menghijau. Udara sejuk dan cuaca cerah. Sangat menyenangkan. Lalu saya pandangi ke arah barat, terlihat kabut menyelimuti Gunung Merapi. Berdiri tegak sebagai pasak, dengan ketinggian 2.891 m dpl," ungkapnya.

    Dikatakan Yozarwadi bahwa dia berkunjung ke KTH Taxus Singgalang adalah memenuhi undangan untuk berdiskusi tentang pengembangan tanaman Taxus Sumatrana. Sekaligus, melakukan penanaman bibit Taxus," paparnya.

    Taxus sumatrana, termasuk dalam tanaman yang dilindungi. Menurut Kepala Balai Penelitian Tanaman Serat Kuok bahwa Taxus  bermanfaat untuk obat kanker. Taxus juga mempunyai potensi sebagai anticonsulvant dan antipyretic serta juga sebagai analgesic.

    Niat baik KTH Taxus Singgalang untuk mengembangkan tanaman Taxus, perlu diapresiasi, karena telah melakukan penyelamatan keanekaragaman hayati Sumatera Barat. Begitupula telah melakukan upaya perlindungan terhadap tanaman Taxus yang terdapat di TWA Gunung Singgalang.

    "Saya mengawali melakukan penanaman bibit Taxus. Lalu diikuti oleh teman-teman lainnya. Penanaman sebanyak 500 batang bibit," tegasnya.

    Dia oun berharap, semoga bibit Taxus yang ditanam hari ini tumbuh subur dan tetap dipelihara dengan baik, sehingga akan memberikan manfaat yang banyak bagi kelompok tani hutan. (AG)

    Fun Walk Untuk Keberlanjutan Pelestarian Lingkungan dan Ekonomi

    Lampung (sumbarkini.com) — Coca-Cola Amatil Indonesia, PERSAKI  bersama Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menggelar kegiatan di tengah hamparan Tahura Wan Abdul Rachman Gunung Betung. Kegiatanter batas yang mengacu pada protokol kesehatan dengan terus mengkampanyekan kesadaran menggunakan masker, jagajarak dan cuci tangan telah mengkolaborasikan unsur edukasi, konservasi lingkungan, olah rasa dan olah raga menjadi paket wisata menarik yang dikemas dalam Lampung Green Fun Walk 2020.

    Kegiatan yang dimulai tepat pukul 09.00 dibuka oleh PLT Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan diikuti oleh berbagai perwakilan komunitas penggiat lingkungan, masyarakat pariwisata, NGO, Akademisi, Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia ( PERSAKI ) dan forum pendidik sukanegara.


    “Lampung Green Fun Walk 2020, dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Oktober 2020  di Youth Camp Tahura Wan Abdul Rahman. Kegiatan terbatas dengan protokol kesehatan ketat terdiri dari penanaman, 400 batang pohon buah produktif, serah terima bantuan tempat sampah edukasi untuk Tahura Wan Abdul Rachman dan fasilitas sarana komputer sebagai bentuk dukungan dan apresiasi bagi 7 sekolah binaan di Desa Sukanegara serta 3 komunitas lingkungan binaan Coca-Cola Amatil Indonesia di Lampung, dengan harapan dapat meningkatan peran kemanfaatannya bagi masyarakat yang lebih luas, di tengah pandemi covid 19,” ujar Yayan Sopian CA Regional Manager – West Indonesia di sela-sela kegiatan menanamnya. 

    Ditambahkan Yayan tentang pentingnya dukungan sektor industry swasta (misalnya dengan investasi yang dilakukan oleh Amatil Indonesia) terhadap inisiatif green economy pemerintah.


    Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Ir. Y.
    Ruchyansah, M.Si dalam sambutannya menyampaikan semangat untuk terus menjaga dan melestarikan hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintahan, melainkan tanggung jawab kita bersama, melalui Lampung Green Fun Walk kita buat kegiatan ini lebih diminati dan menyenangkan karena kita memadukan kegiatan edukasi, penghijauan lingkungan, olah raga menjadi kegiatan wisata alam. Menurut Y. Ruchyansah Lampung sangat kaya dengan potensi sumberdaya alamnya. Selain kita lestarikan dan jaga bersama alamnya kita harus mampu membangkitkan juga nilai ekonominya sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan penyangga akan merasakan manfaat ekonomi langsung dari kegiatan ini.

    Kepala UPTD KPHK Tahura Wan Abdul Rachman Eny Puspasari, S.Hut., M.Si. , dalam keterangan persnya menambahkan kepatuhan protokol kesehatan di tengah pandemic covid 19 di tempat kami menjadi keharusan yang wajib kita lakukan dan awasi dalam pelaksanaanya. Kami coba memperkenalkan aktifitas healing forest sebagai salah satu alternatif wisata edukasi di tengah alam Tahura Wan Abdul Rachman banyak memiliki fasilitas wisata alam yang bisa dikunjungi untuk mengangkat kesadaran masyarakatakan pentingnya menjaga lingkungan untuk hari ini dan masa depan. (*)

    Nasrul Abit Tegaskan, Pembangunan Harus Berwawasan Lingkungan

    Bukittinggi (sumbarkini.com) - Kini media masa sering memberitakan tentang bencana banjir, longsor di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat dengan 39 persen wilayahnya secara  geomorfologi terdiri atas  pergunungan dan perbukitan dengan kemiringan di atas 40 persen. Daerah ini rentan mengalami bencana alam. Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan sumber daya alam mesti dikedepankan. Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan serta tahap opersional aktifitas pembangunan harus sudah berwawasan lingkungan. 

    Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit pada pembukaan acara Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, di Tri Arga Bukitinggi, Selasa 3  Maret 2020.

    Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan dan Sektor Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan KLHK Erik Teguh Primiantoro, S.Hut, MES, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3, Limbah Non B3 Ditjen Pengelolaan Sampah, limbah dan B3 Ir. Ahmad Gunawan Widjaksono, MAS, Kepala Dinas LH, Bappeda dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Kepala Dinas LH, Bappeda dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota se Sumatera Barat . Dan narasumber kita dari KLHK yaitu (Bpk. Erik dan Bpk Gunawan yang berkenan hadir untuk memberikan materi sekaligus pencerahan terhadap berbagai persoalan lingkungan hidup di Sumatera Barat.

    Wagub Sumbar lebih lanjut sampaikan, selain faktor alami geomorfologi Sumatera Barat yang menyebabkan daerah kita retan terhadap banjir dan longsor, terdapat beberapa persoalan lingkungan yang kita hadapi. 

    “Secara terus menerus kita berupaya bersama-sama mencarikan solusinya. Salah satu persoalan yang Alhamdulillah akan segera teratasi adalah masalah pengelolaan limbah B3 medis. Sejumlah 5,2 ton/hari atau 1.900 ton/tahun timbulan limbah B3 medis yang pengelolaannya dibawa ke pulau Jawa," ujar Nasrul Abit.  

    Dikatakannya, apabila semuanya dikelola sesuai Permen LHK 56 tahun 2015 tentang Tatacara dan persyaratan teknis pengelolaan Limbah B3 Fasilitas Pelayanan  Kesehatan  (FASYANKES) maka senilai  Rp 42,75 Milyar/tahun pembiayaan yang harus dikeluarkan untuk mengangkut dan memusnahkan limbah B3 tersebut di Pulau Jawa

    Nasrul Abit juga menyampaikan persoalan lain yang juga menjadi perhatian bersama yaitu masalah persampahan dan illegal mining serta illegal logging. Pertambahan jumlah penduduk akan menyebabkan meningkatnya timbulan sampah. Di sisi lain tingkat layanan penanganan sampah di Kab/Kota tidak jauh berubah. 

    Menuarutnya, hal ini dipahami karena keterbatasan anggaran untuk urusan lingkungan hidup di Kabupaten/Kota hanya 0,01 sampai 0,1% dari APBD kab/kota. Dengan anggaran tersebut kemampuan daerah untuk melakukan pengawasan terhadap izin lingkungan yang diterbitkannya tidak lebih dari 25%. Oleh karena itu maka perlu terobosan yang harus dilakukan selain berupaya memperbesar alokasi anggaran.  

    “Banyak penghargaan lingkungan diperoleh oleh Provinsi dan  Kab/Kota di Sumatera Barat baik itu penghargaan Adipura, Adiwiyata, kampung iklim sampai green leadership menunjukkan pengelolaan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya anggaran tetapi justru bagaimana fungsi koordinasi dan sinergitas antar sektor diciptakan, sehingga lingkungan menjadi mainstream yang diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan  sektor terkait. Disamping itu kemampuan untuk meningkatkan kelompok-kelompok masyarakat termasuk petugas penyuluh yang ada seperti penyuluh pertanian, kesehatan, peternakan dsb sebagai agent of environment harus ditingkatkan karena mereka juga sangat berarti dalam perbaikan lingkungan”, ungkapnya.

    Nasrul Abit juga sebutkan, selain itu saat ini adanya semangat  omnibus law yang akan meniadakan AMDAL pada kawasan yang RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) telah dilengkapi dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), secara aturan hal ini dimungkinkan karena termuat pada pasal 13 PP no 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. 

    “Satu sisi kita menyambut baik karena hal tersebut dapat mempercepat perizinan dalam berinvestasi tetapi di sisi lain  berkonsekwensi semakin besarnya peluang terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu kehadiran narasumber dari KLHK saat ini perlu kita optimalkan untuk menggali tentang mekanisme dan hal-hal apa saja yang patut dipertimbangkan dalam penyusunan KLHS sehingga kita tidak salah langkah”, ingatnya.

    Informasi mengejutkan dinyatakan Wagub Sumbar. Katanya tidak satupun fasilitas incenerator di Rumah  Sakit dan Peskusmas yang memiliki izin karena rata-rata FASYANKES di Sumatera Barat berada pada dekat pemukiman sehingga tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Selain hal tersebut menyebabkan pembiayaan yang tinggi, juga beresiko terhadap lingkungan karena tidak tertup kemungkinan sebagian limbah  B3 medis tersebut dibuang tengah jalan, di laut dan di hutan atau bercampur dengan limbah domestik. 

    “Oleh karena itu adanya rencana pembangunan fasilitas Incenerator oleh KLHK yang akan dihibahkan ke Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2020 sangat kita sambut baik. Untuk itu baik Dinas Lingkungan Hidup maupun Dinas Kesehatan Kab/kota se Sumatera Barat dapat menyikapi dengan meningkatkan pembinaan agar FASYANKES di daerahnya memperbaiki manajemen-nya dalam mengelola limbah medis. Untuk puskesmaspuskemas yang lokasinya tersebar dan jauh untuk dilakukan pengangkutan maka kiranya dapat difasilitasi membangun sistim transfer Depo (Depo Pemindahan/Penyimpan Sementara Bersama)  sehingga seluruh limbah B3 medis ini dapat dikelola dengan baik”, ajak Nasrul Abit.

    Nasrul Abit mengharapkan, manfaatkan rapat koordinasi ini untuk,  meningkatkan  kesinergian dan sinkronisasi perencanaan program dan kegiatan antara kabupaten/kota dengan provinsi serta Pusat terutama dalam kaitanya pengelolaan persampahan dan penanganan limbah B3 medis serta KLHS sesuai tema rapat koordinasi ini. Dan melahirkan  kesepakatan dan kerjasama yang saling memperkuat pengelolaan lingkungan hidup antara Pemerintah Pusat, Dinas LH Provinsi, dan Dinas LH Kab/Kota. (zrd)

    Padang Cleanup Day 2019 Ajang Kolaborasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

    Padang (sumbarkini.com) - Coca-Cola Amatil Indonesia (Amatil Indonesia) bersama dengan Sea Turtle Camp Pantai Pasir Jambak, Politeknik Negeri Padang, CSR Forum Kesos Sumbar, HIPMI BPC Padang dan Komunitas Lasuang mengadakan Padang Cleanup Day 2019 di sekitar
    Pantai Muaro Anai Pasir Jambak. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 250 peserta.

    Padang Cleanup Day dimulai pukul 09.00 dengan diskusi lingkungan bersama Pati
    Haryose, Inisiator Konservasi Sea Turtle Camp Pasir Jambak dan Nova Dilastri SE, MM selaku Dosen Politeknik Negeri Padang.

    Pati Haryose dalam diskusi kali ini menyampaikan tentang pentingnya kolaborasi dalam
    mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kembali sampah plastik dalam mencegah sampah-sampah tersebut bermuara ke laut dan merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

    Dia juga menyatakan bahwa melalui pelatihan Eco Brick yang mengajarkan proses pembuatan barang-barang yang dapat digunakan sehari-hari atau dijual kembali dari sampah-sampah plastik maka setiap orang dapat menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan lingkungannya.

    Dalam kesempatan yang sama Nova Dilastri. SE, MM menyampaikan pentingnya membangun kesadaran dan pola pikir masyarakat untuk mengolah sampah plastik dengan lebih bijaksana.

    Melalui kegiatan seperti hari ini, masyarakat diajarkan tentang pentingnya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga lingkungan dan bahwa sampah plastik juga bisa menjadi materi yang memberikan nilai ekonomi. Setelah kegiatan diskusi acara kemudian dilanjutkan dengan aksi penanaman pohon cemara dan bersih-bersih pantai.

    Yayan Sopian, Corporate Affairs Regional Manager Amatil Indonesia yang hadir sebagai
    moderator dalam kegiatan diskusi menyampaikan apresiasinya terhadap semua ide dan inisiatif yang disampaikan oleh tiap peserta dalam rangka mendorong lingkungan yang lebih bersih.

    “Isu tentang sampah merupakan suatu masalah yang harus dipecahkan bersama, oleh karena itu kami bangga dapat menjadi bagian dari program hari ini yang dapat mendorong dan mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kinerja pengelolaan sampah yang
    berkelanjutan,” lanjutnya.
    Dukungan Amatil Indonesia terhadap Lingkungan
    Keberlanjutan di CCAI diatur dalam empat pilar terintegrasi, yaitu: People, Wellbeing,
    Environment dan Community, CCAI telah menjalankan berbagai inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai berikut: program Water Stewardship untuk mengembalikan jumlah air yang terpakai dalam proses produksi kembali ke alam dan masyarakat, Coke Kicks, City Clean-ups (termasuk kegiatan Bali Beach Clean Up yang sering mendapatkan
    penghargaan), dan Coca-Cola Forest. Program Coca-Cola Forest menggabungkan kegiatan penanaman pohon dengan pelayanan pendidikan, dan program pemberdayaan masyarakat.

    Inisiatif tersebut pertama kali berjalan di Lampung pada tahun 2014, disusul dengan wilayah Jawa Barat pada tahun 2015, dan Jawa Tengah pada tahun 2017. Melalui program Coca-Cola Forest, CCAI telah menanam lebih dari 6.200 pohon dan menyumbangkan lebih dari 300.000 pohon pada masyarakat.

    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2