• Breaking News

    Mulai HUT ke-15, Solsel Harus Lepas Dari Ketertinggalan

    Padang Aro – Solok Selatan harus bertekad bulat untuk keluar dari ketertinggalan. Warga

    daerah ini diingatkan untuk berupaya sekuat tenaga, mulai dari HUT ke-15 untuk tidak mau lagi daerahnya mendapatkan sebutan daerah tertinggal.

    Hal itu diungkapkan oleh Anggota DPD RI H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH, saat memberikan sambutan di Resepsi HUT ke-15 Kabupaten Solok Selatan. Resepsi dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Solok Selatan dan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan.

    “Saya mengikuti sekali perkembangan Kabupaten Solok Selatan sejak daerah ini menjadi daerah persiapan untuk dimekarkan dari Kabupaten Solok. Sejak Bapak Aliman Salim memimpinnya. Dia hebat, bersama tokoh-tokoh setempat bisa mengantarkan daerah ini menjadi kabupaten baru yang tanpa terasa kini sudah berumur 15 tahun saja. Kedepan, jangan mau disebut daerah tertinggal lagi,” ujar Anggota Komite III DPD RI itu, Senin 7 Januari 2018.

    Dia mengungkapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 tahun 2003 Solok Selatan ditetapkan menjadi daerah baru bersamaan dengan dua Kabupaten lainnya di Sumbar yaitu Dharmasraya dan Pasaman Barat. Kini tinggal bagaimana semua elemen bisa pula seperti Dharmasraya yang telah melepas sebutan Daerah Tertinggal.

    Semangat membentuk kabupaten baru hendaknya ditiru saat mengupayakan daerah ini bebas dari ketertinggalan. Dia menegaskan harus ada upaya-upaya terstruktur untuk melepas titel ketertinggalan dari Nagari Saribu Rumah Gadang ini.

    Semua pihak dimintanya bersatu padu. Mengumpulkan kekuatan untuk membuat program dan kegiatan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah ini. Infrastruktur jalan, teknologi dan informasi, komunikasi dan sektor perekonomian harus dikembangkan dengan lebih baik ke depannya.

    Menurut Leonardy, predikat wajar tanpa pengecualian terhadap audit laporan keuangan daerah ini dicapai berkat satunya visi dan aksi dari lembaga eksekutif yakni pemerintah kabupaten dan jajarannya dengan lembaga legislatif. Pasti sulit mengupayakan laporan keuangan daerah dari disclaimer, menjadi wajar dengan pengecualian dan kini bisa mendapat predikat wajar tanpa pengecualian.

    “Yakinlah dengan bersatunya anak nagari Solok Selatan ditunjang dengan sumber daya alam yang baik dari daerah ini, Solok Selatan bisa secepatnya keluar dari ketertinggalan,” ujarnya.

    Leonardy menilai prestasi yang dicapai pada 2018, diharapkan menjadi motivasi untuk lebih baik lagi pada 2019. Manfaatkan penghargaan sebagai Kampung Adat Terpopuler dan terpilihnya Rumah Adat Panjang Abai sebagai Situs Sejarah Terpopuler sebagai asset yang bisa dikonversikan menjadi pendapatan asli daerah.

    Artinya Solok Selatan memiliki andalan dalam mendongkrak sektor pariwisata. Tinggal bagaimana pemerintah, swasta dan masyarakat daerah ini menjadikannya aset yang bisa dikonversikan menjadi rupiah.

    Persoalan kekurangan dana dalam membangun menjadikan program yang telah dirancang lambat terealisasi diminta tidak dijadikan penghambat kemajuan. Cari solusi cerdas secara bersama-sama demi kesejahteraan bagi masyarakat khususnya.

    Bupati Solsel H. Muzni Zakaria, M.Eng dan Ketua DPRD Solok Selatan, Sidik Ilyas S.Ag menyebutkan di usia Solsel memasuki 15 tahun ini adalah momentum untuk mengevaluasi segala pencapaian daerah selama ini. Dikatakannya, hal itu sebagai wadah untuk dan rujukan untuk berbuat yang lebih baik lagi ke depannya.

    "Harapan kami ke depan pemerintah pusat lebih memprioritaskan pembangunan jalan nasional Lubuk Selasih-Kerinci yang melewati Solok Selatan. Juga mengabulkan pembangunan Jalan Kambang Muaro Labuh,” ujarnya.

    Mereka juga mengungkapkan untuk APBD 2018 Solok Selatan merupakan yang tercepat di Sumbar. Ini sejarah buat pertama kali membuktikan daerah ini bisa jadi yang terbaik. (*)

    Tidak ada komentar

    Masukan dan informasinya sangat penting bagi pengembangan situs kita ini...

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2