Golongan yang Tidak Ditolak Doanya
Oleh: H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi, dan Bengkulu)
Setiap manusia pasti pernah berdoa. Ada doa yang terasa cepat dikabulkan, ada yang harus menunggu, bahkan ada yang Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Seorang mukmin tidak pernah rugi ketika berdoa, karena doa adalah bentuk ibadah dan bukti ketergantungan kita kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku akan Ku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir ayat 60)
Ayat ini memberi harapan bahwa Allah selalu membuka pintu doa bagi setiap hamba-Nya. Namun, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ada beberapa golongan yang memiliki keistimewaan sehingga doa mereka sangat mustajab.
Rasulullah SAW bersabda:
Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa musafir. (HR. Abu Dawud, At-Tarmizi)
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah." (HR. Sahih Bukhari dan Muslim)
Pertama, doa orang tua kepada anaknya
Betapa besar kedudukan orang tua di sisi Allah. Restu mereka adalah pintu keberkahan. Sebaliknya, jangan sampai kita menyakiti hati ayah dan ibu.
Karena doa mereka, baik berupa kebaikan maupun keburukan, sangat diperhatikan oleh Allah.
Maka, jangan bosan meminta doa kepada kedua orang tua. Telepon mereka, kunjungi mereka, hormati mereka, dan bahagiakan mereka selama diberi kesempatan.
Kedua, doa orang yang bepuasa ketika berbuka
Menjelang berbuka adalah saat yang penuh keberkahan. Ketika tubuh menahan lapar dan dahaga demi ketaatan kepada Allah, hati menjadi lembut dan lebih dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, jangan sibuk hanya menyiapkan hidangan berbuka hingga melupakan kesempatan emas untuk berdoa.
Bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga ketika kita melaksanakan puasa sunnah.
Ketiga, doa seorang musafir
Perjalanan sering kali penuh dengan kelelahan, pengorbanan, dan ketidakpastian. Karena itulah Allah memberikan keutamaan kepada musafir. Ketika perjalanan yang di benarkan syariat, perbanyaklah doa kepada Allah. Jangan hanya menikmati perjalanan, tetapi jadikan perjalanan sebagai kesempatan mendekatkan diri kepada-Nya.
Keempat, doa orang yang dizalimi
Inilah yang harus kita renungkan bersama. Jangan pernah meremehkan kezaliman sekecil apa pun. Mungkin kita merasa memiliki jabatan, kekuasaan, atau harta, tetapi ketika seseorang teraniaya lalu mengangkat tangan memohon keadilan kepada Allah, maka doa itu tidak terhalang. Karena itu, berhati-hatilah dalam berbicara, dalam bermuamalah, dalam memimpin, dan dalam menggunakan media sosial. Jangan kita sampai menyakiti memfitnah, atau mengambil hak orang lain. Sebab bisa jadi doa orang yang kita zalimi menjadi sebab datangnya musibah kepada kita.
Selain mengetahui golongan yang doanya mustajab, kita juga harus menjaga adab berdoa. Mulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW, berdoalah dengan penuh keyakinan, memilih waktu-waktu yang utama seperti sepertiga malam yang terakhir, antara azan dan ikamah, saat sujud, ketika hujan turun, serta memohon dengan hati yang ikhlas. Yang tidak kalah pentingnya, jagalah makanan, minuman, dan rezeki agar berasal dari yang halal, karena rezeki yang haram dapat menjadi penghalang terkabulnya doa.
Marilah kita menjadi hamba yang tidak pernah putus asa dalam berdoa. Jangan bosan mengetuk pintu langit. Allah mendengar setiap doa. Jika belum dikabulkan hari ini, mungkin Allah sedang menyiapkan waktu yang terbaik. Jika tidak diberikan sesuai permitaan kita, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih bermafaat, atau menyimpanya sebagai pahala di akhirat.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu berdoa, menjaga diri dari menzalimi orang lain, berbakti kepada kedua orang tua, dan memperoleh keberkahan dari doa yang dikabulkan.
Salam
LH
