Header Ads

  • Breaking News

    Hati yang Hidup Hati yang Tenang


    H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP, M.H
    (Penasehat Jemaah Syattariyah, Sumbar, Riau dan Jambi)


    Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah yang akan menghidupkan hati dan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan kita.

    Allah SWT berfirman:

    "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd ayat 28)

    Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa ketenangan hati bukanlah berasal dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pujian manusia. Hati menjadi tenang karena dekat dengan Allah.

    Hati adalah pusat kehidupan manusia. Jika hati hidup, maka lisan akan berkata baik, tangan akan berbuat baik, dan kaki akan melangkah menuju kebaikan. Namun apabila hati mati, maka maksiat terasa ringan, ibadah terasa berat, nasihat terasa membosankan, dan dosa tidak lagi menimbulkan penyesalan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

    Karena itu, yang paling perlu kita jaga bukan hanya kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan hati.

    Bagaimana tanda hati yang hidup?

    Pertama, hati yang hidup mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allah. Air mata mungkin menetes, atau setidaknya muncul rasa takut dan harap kepada-Nya.

    Kedua, hati yang hidup selalu merasa kurang dalam beribadah. Ia tidak bangga dengan amalnya, tetapi justru khawatir amalnya belum diterima oleh Allah.

    Ketiga, hati yang hidup mudah memaafkan, tidak senang menyimpan dendam, iri, dan dengki. Ia menyadari bahwa kebersihan hati lebih berharga daripada kemenangan dalam perselisihan.

    Banyak orang terlihat tersenyum, tetapi hatinya gelisah. Banyak yang rumahnya megah, tetapi tidurnya tidak nyenyak. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya selalu teduh karena hatinya dipenuhi zikir, syukur, dan tawakal.

    Dalam pandangan para ulama tasawuf, hati itu ibarat cermin. Jika terus dibersihkan dengan taubat, istighfar, zikir, dan membaca Al-Qur'an, maka cahaya hidayah akan memantul di dalamnya. Namun jika dibiarkan dipenuhi dosa, iri hati, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan, maka cermin itu menjadi kusam sehingga sulit menerima cahaya kebenaran.

    Oleh sebab itu, marilah kita memperbanyak istighfar. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk bertaubat, karena justru taubatlah yang menyempurnakan hati kita.

    Mari kita biasakan beberapa amalan sederhana untuk menghidupkan hati: menjaga salat lima waktu, memperbanyak membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, memperbanyak sedekah, memaafkan kesalahan orang lain, dan meluangkan waktu untuk bermunajat kepada Allah, terutama di sepertiga malam.

    Insya Allah, hati yang hidup akan menjadi hati yang tenang. Dan hati yang tenang akan mengantarkan pemiliknya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Semoga Allah menjadikan hati kita sebagai hati yang hidup dengan cahaya iman, hati yang lembut menerima petunjuk, hati yang selalu bersyukur dalam nikmat, bersabar dalam ujian, dan senantiasa tenang karena selalu mengingat-Nya.


    Salam

    LH

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad