window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Pak Purbaya Di Antara Badai Negeri - Sumbarkini

Header Ads

  • Breaking News

    Pak Purbaya Di Antara Badai Negeri


    Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si
    Dosen Adm Negara Fisipol Unes Padang


    Beliau datang tepat pada saat langit ekonomi Indonesia berada dalam kondisi mendung, Dia datang ketika badai global bertiup kencang, kehadirannya persis disaat kepercayaan publik terhadap kebijakan fiskal sedang lagi diuji. Dialah makhluk ciptaan Allah yang bernama Purbaya Yudhi Sadewa, yang teramat disayangkan bliau datang tidak pada saat cuaca cerah.

    Pelantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto berlangsung pada hari Senin, tanggal 8 September 2025, jabatan yang dipegang beliau adalah menggantikan Sri Mulyani Indrawati, seorang teknokrat yang telah menjadi simbol kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia selama hampir satu dekade. Menggantikan sosok sebesar itu bukan merupakan suatu tugas ringan, akan tetapi adalah merupakan tugas berat yang akan dilaksanakan oleh seorang pengatur aliran kas keuangan Negara untuk seluruh Rakyat Indonesia.

    Latar belakang kehidupan Purbaya bukanlah seorang birokrat murni. Bliau adalah seorang ekonom, mantan Ketua Dewan Komisioner LPS, mantan Staf Khusus di Kemenko Perekonomian, dan seorang trader yang sangat memahami pergerakan pasar dari dalam. Bliau bukanlah penjaga menara gading, akan tetapi bliau adalah seorang anak manusia yang sering beradap tasi dilingkungan pasar.

    Badai pertama yang langsung menyambut kedatangannya adalah badai kepercayaan. Saat ia dilantik, IHSG turun 1,3%, media asing menulis dengan nada khawatir, dan analis bertanya: apakah ia akan mampu sehebat pendahulunya, atau akan lebih lunak terhadap pressure politik yang terjadi…?

    Badai kedua adalah badai fiskal itu sendiri. Eksistensi APBN 2026 didesain defisit sejak awal. Hingga Februari 2026 defisit tercatat Rp135 triliun atau 0,53% PDB. Di tangan Sri Mulyani defisit adalah sesuatu yang harus ditekan, namun berbeda di tangan Purbaya dimana defisit dijelaskan sebagai suatu strategi belanja dipercepat agar ekonomi bergerak sejak awal tahun. Inilah perbedaan filosofi yang paling signifikan terlihat. Jika sebelumnya fiskal dijaga ketat seperti bendungan, Purbaya memilih membuka pintu airnya lebih awal. "Belanjanya merata sepanjang tahun, sehingga dampaknya lebih terasa," katanya. Ia ingin APBN menjadi mesin pendorong, bukan hanya penjaga menara gading.

    Badai ketiga adalah melemahnya nilai tukar rupiah. Rupiah sempat menyentuh angka Rp17.300 pada April 2026, dan bahkan menembus angka Rp18.000 pada Juni 2026. Di media sosial, kata "krisis 98" mulai berdengung dan bergemma kembali. Di sinilah letak kepiawaian seorang Purbaya diuji dan bagaimana kemampuannya dapat menenangkan publik.

    Jawabannya Purbaya sangat tegas dan konsisten: "Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-98 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya saja ada sentimen negatif." Purbaya menyampaikan dengan lugas dan tegas bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih kuat, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Disini jelas terlihat bahwa Purbaya Yudhi Sadewa memberiakan dedikasi terbaik dari apa yang dimiliki dalam proses meraih sebuah tujuan tertentu yang lebih baik

    Ia juga melakukan pergeseran terhadap paradigma, dimana urusan kurs adalah menjadi domain dari Bank Indonesia, sedangkan tugas Kemenkeu adalah menjaga fondasi. Artinya selama fondasi bagus, likuiditas cukup, dan koordinasi dengan BI solid, maka rupiah akan lebih mudah dikendalikan, dan semuanya akan berjalan stabil dan seimbang

    Badai keempat adalah menurunnya daya beli rakyat. Usulan seperti Jepang untuk menurunkan PPN makanan dari 8% ke 1% sempat ramai. Purbaya dengan tegas menolak mentah-mentah. "Tidak ada rencana. Steady. Kalau saya maunya 0, tapi 0 kita nggak punya duit nanti utang semua," ucapnya ceplas-ceplos, Style yang dilakukan oleh Purbaya sangat jauh berbeda dengan gaya diplomatis pendahulunya.

    Purbaya Yudhi Sadewa lebih memilih subsidi langsung terhadap BLT, KIP, dan bantuan ter-target daripada memangkas PPN yang akan menggerogoti penerimaan. Logikanya sederhana: kalau penerimaan turun tanpa efisiensi belanja, defisit akan membengkak dan dapat dipastikan bahwa generasi berikutnya yang membayar, hal ini sangat tidak disukai oleh Purbaya.

    Badai kelima adalah uang daerah yang mengendap. Dalam rapat terakhirnya di DPD RI, ia mengungkap data yang mengejutkan: hingga 31 Agustus 2026, masih ada dana sebesar Rp195,2 triliun dana pemerintah daerah yang masih parkir di bank. Uang APBN tidak berputar di pasar, akan tetapi tapi tidur sebagai bentuk nomor cantik dalam bentuk deposito.

    Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi "Jangan kebanyakan menaruh uang di bank karena dampak ke ekonominya tidak terasa," katanya. Ini adalah kritik terbuka terhadap birokrasi daerah yang takut belanja. Purbaya ingin uang itu menjadi belanja modal, belanja infrastruktur, bukan angka cantik yang tersimpan di rekening dalam bentuk deposito dan sebagainya.

    Badai keenam adalah ekspektasi pertumbuhan. Ia berani memasang target yang oleh banyak ekonom dianggap ambisius: pertumbuhan ekonomi 8% pada masa awal jabatan, lalu direvisi realistis menjadi mendekati 6% di kuartal IV 2026 dan 6% di tahun 2027. "Setahun kemarin semacam eksperimen. Mana yang ganggu, mana yang nggak. Sekarang udah kita tata secara lebih komprehensif.

    Inilah style Purbaya yang pragmatis, blak-blakan, dan berorientasi pasar. Ia tidak banyak bicara dengan jargon teknokratis, ia bicara dengan bahasa trader: likuiditas, sentimen, yield, capital inflow. Ia ingin menaikkan daya tarik imbal hasil agar modal asing kembali masuk.

    Tentu ada risikonya. Pasar khawatir independensi fiskal akan melemah dan intervensi politik akan lebih kuat. Ekonom Indef bahkan menyebut ia "belum memiliki pengalaman langsung mengelola fiskal secara keseluruhan". Kekhawatiran seperti itu tentu saja wajar untuk seorang menteri keuangan baru berada di tengah badai yang menimpa negeri.

    Namun ada pula yang melihatnya sebagai angin segar. Di tengah protes nasional soal pajak yang tidak adil yang bahkan berujung pada perusakan terhadap rumah pejabat di beberapa tempat di IBu Kota, kehadiran sosok Purbaya Yudhi Sadewa yang mau mendengar pasar dan bicara apa adanya dianggap sebagai tokoh dan Negarawan yang dapat menjembatani antara istana dan rakyat.

    Purbaya memahami bahwa krisis hari ini bukan krisis seperti 1998 yang disebabkan utang swasta dan perbankan jebol. Krisis hari ini adalah krisis kepercayaan, krisis narasi, dan krisis kecepatan. Dunia bergerak cepat, sentimen bergerak lebih cepat dari data.

    Maka uapaya dan strateginya bukanlah menahan badai, akan tetapi bagaimana bisa berlayar di tengah badai. Ia tidak berjanji badai akan hilang besok. Ia hanya memastikan kapal besar bernama APBN tetap punya bahan bakar, layar tetap terkembang, dan nahkoda tetap tenang. Purbaya Yudhi Sadewa juga sangat menyadari, bahwa sebagai seorang Menteri Keuangan di Indonesia bukan hanya penjaga kas, akan tetapi juga penjaga harapan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Ketika ia berkata "Fondasi kita bagus", ia tidak sedang berbohong statistik. Ia sedang mencoba memutus rantai kepanikan yang sering kali lebih berbahaya dari data buruk itu sendiri.

    Kisah Purbaya di antara badai negeri pada akhirnya mengingatkan kita pada pelajaran penting Hukum Administrasi Negara: bahwa wewenang fiskal adalah merupakan wewenang yang paling sensitif. Salah kelola sedikit saja, akan berdampak cukup siqnifikan dan dampaknya akan dirasakan oleh 280 juta orang mulai dari Sabang sampai Merauke.

    Atribusi, delegasi, dan mandat yang ia pegang sebagai Menteri Keuangan bukan sekadar tanda tangan di atas kertas APBN. Itu adalah izin untuk menentukan apakah seorang anak di Padang bisa terus mendapat KIP, apakah harga minyak tidak meledak saat Liburan,dan apakah rupiah tetap bisa membeli beras untuk kebutuhan pokok.

    Tepatnya hari Senin, tanggal 14 September 2026, kabar reshuffle kembali berhembus. Ia menerima telepon dari Sekretaris Presiden di saat sedang berlangsungnya rapat dengan DPD-RI dan kemudian digantikan oleh Wakil Kemenkeu Sdr. Suahasil Nazara. Ia pergi dengan kalimat yang sama seperti saat ia datang ekonomi masih baik-baik saja.

    Kepergian seorang Purbaya Yudhi Sadewa yang begitu cepat menimbulkan banyak tafsir dan spekulasi. Ada yang melihatnya sebagai korban politik, ada yang melihatnya sebagai teknokrat yang selesai menjalankan misi jangka pendek, menenangkan pasar setelah protes pajak. Apapun itu, setahunnya penuh tekanan, seperti pengakuannya sendiri yang mengatakan bahwa "Bikin pusing terus-terusan hampir terjadi tiap hari."

    Tapi di situlah letak pelajaran dari Purbaya. Ia mengajarkan bahwa menjadi Menteri Keuangan di era badai bukan soal menjadi yang paling pintar, tapi menjadi yang paling tahan banting. Tahan terhadap tekanan pasar, tahan terhadap tekanan politik, dan tahan terhadap tekanan netizen. Negeri ini memang sedang berada di antara banyak badai: badai geopolitik, badai harga energi, badai utang global, badai disinformasi, dan badai ekspektasi rakyat yang ingin sejahtera dengan cepat. Tidak ada satu menteri pun yang akan mampu menghentikan semua badai itu, kecuali dengan niat baik seluruh pemangku kepentingan dengan ridho Allah SWT.

    Yang hanya bisa dilakukan oleh seorang yang bernama Purbaya Yudhi Sadewa adalah dengan tetap menjaga fondasi yang solid, menjaga likuiditas tetap ada, menjaga belanja tetap berputar, dan menjaga komunikasi tetap jujur. Tidak over-promising, tidak pula untuk menakut-nakuti. Dimasa Sri Mulyani adalah simbol kehati-hatian, maka Purbaya adalah simbol keberanian untuk mencoba. Keberanian untuk mengatakan bahwa APBN boleh defisit asal produktif, bahwa pertumbuhan 6% masih mungkin, bahwa rupiah melemah bukan berarti negara runtuh.

    Sejarah akan mencatat bahwa Purbaya Yudhi Sadewa, bukan sebagai seorang menteri yang paling lama menjabat, tapi sebagai menteri yang berani berdiri di dek kapal pada saat badai paling kencang, sambil berteriak kepada semua penumpang: "Kapal ini masih kuat. Jangan lompat. Kita lewati badai ini bersama."

    Sesungguhnya permulaan itu adalah bagaikan cermin yang memperlihatkan akhir, siapa yang awalnya selalu bersandar pada Allah, pasti akhirnya akan sampai kepada-Nya”

    “Siapa yang yakin bahwa Allah menyuruhnya melakukan Ibadah, pasti ia bersungguh-sungguh menghadap kepada-Nya. Siapa yang mengetahui bahwa segala urusan itu di tangan Allah, pasti bulatlah tawakalnya kepada-Nya. (Ibnu Athaillah) 

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad