window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Ekonomi Sumbar Bergerak, Apa Kabar Masyarakat di Ultah Daerahnya? - Sumbarkini

Header Ads

  • Breaking News

    Ekonomi Sumbar Bergerak, Apa Kabar Masyarakat di Ultah Daerahnya?

    PADANG, SUMBARKINI.COM — Angka statistik sering kali terlihat dingin. Namun di balik persentase inflasi, nilai tukar petani, tingkat hunian hotel, pergerakan penumpang pesawat hingga nilai ekspor-impor, terdapat cerita tentang kehidupan ekonomi masyarakat Sumatera Barat.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Baratm Nurul Hasanudin, S.ST., M.Stat saar rilis  Berita Resmi Statistik (BRS) BPS pada 1 Oktober 2026 memberikan gambaran mengenai sejumlah indikator penting perekonomian daerah. Data tersebut mencakup perkembangan harga konsumen September 2026, kondisi petani, pariwisata dan transportasi Agustus 2026, serta aktivitas perdagangan luar negeri.

    Salah satu perhatian utama berada pada perkembangan harga.

    Menurut Nurul Hasanuddin, BPS mencatat inflasi year on year (y-on-y) Sumatera Barat pada September 2026 sebesar 3,50 persen. Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,60 persen dibandingkan Agustus 2026.

    Angka tersebut penting karena inflasi pada akhirnya berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Ketika harga barang dan jasa meningkat, rumah tangga perlu menyesuaikan pengeluaran, sementara pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mencermati komoditas yang menjadi penyumbang perubahan harga.

    Dijelaskannya, pada September, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan inflasi Sumatera Barat. Sejumlah komoditas pangan, termasuk ayam ras dan cabai merah, disebut menjadi pendorong kenaikan harga.

    Artinya, pengendalian harga pangan tetap menjadi bagian penting dari menjaga daya beli masyarakat. Bagi konsumen, perubahan harga bukan sekadar angka statistik, melainkan dapat terasa ketika berbelanja untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

    Petani: NTP Menyentuh 133,58

    Nurul mengingatkan kabar yang perlu dicermati dari sektor pertanian. Berdasarkan BRS BPS Sumatera Barat yang dirilis 1 Oktober 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) September 2026 tercatat 133,58 atau meningkat 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

    NTP merupakan salah satu indikator yang menggambarkan perkembangan daya tukar atau kemampuan relatif petani terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun kebutuhan produksi pertaniannya.

    Kenaikan NTP, kata Nurul Nasnuddin menjadi bagian penting dalam membaca kondisi ekonomi masyarakat perdesaan. Namun, angka tersebut tetap perlu dilihat bersama perkembangan harga yang diterima petani dan harga yang harus dibayar petani untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi.

    Dengan kata lain, kenaikan NTP tidak seharusnya dibaca hanya sebagai angka, tetapi sebagai salah satu petunjuk mengenai dinamika ekonomi rumah tangga petani.

    Hotel: Ada Aktivitas Wisata, Ada Tantangan Okupansi

    Dari sektor pariwisata, BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sumatera Barat pada Agustus 2026 sebesar 50,08 persen. Sementara itu, TPK hotel nonbintang tercatat 16,87 persen.

    Data ini memberikan gambaran bahwa aktivitas akomodasi wisata dan perjalanan di Sumatera Barat terus bergerak, tetapi karakteristik tingkat hunian antara hotel bintang dan nonbintang menunjukkan perbedaan yang cukup besar.

    Bagi industri pariwisata, angka tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagaimana kunjungan wisatawan diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi bagi hotel, restoran, transportasi, pelaku UMKM, pekerja pariwisata hingga masyarakat di destinasi.

    Sebab, dampak pariwisata tidak berhenti di pintu hotel. Ketika wisatawan datang dan tinggal lebih lama, terdapat peluang perputaran ekonomi yang lebih luas di berbagai sektor.

    BIM: Mobilitas Masyarakat Kembali Terlihat

    Pergerakan manusia juga menjadi indikator penting dalam membaca aktivitas ekonomi. BPS mencatat penumpang angkutan udara yang berangkat dari Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) pada Agustus 2026 meningkat 0,62 persen, sementara penumpang yang datang meningkat 1,01 persen. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perubahan mobilitas melalui jalur udara.

    Bagi Sumatera Barat, konektivitas udara memiliki arti strategis karena tidak hanya berkaitan dengan perjalanan masyarakat, tetapi juga mendukung kegiatan bisnis, pemerintahan, pendidikan, pariwisata serta mobilitas berbagai kelompok masyarakat.

    Pergerakan penumpang juga dapat menjadi salah satu indikator yang dibaca bersama data pariwisata. Semakin terbuka mobilitas, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi lintas daerah.

    Ekspor Tembus USD353,95 Juta

    Dari perdagangan internasional, nilai ekspor Sumatera Barat pada Agustus 2026 tercatat USD353,95 juta. Sementara nilai impor mencapai USD89,33 juta.

    Data tersebut menunjukkan adanya aktivitas perdagangan luar negeri yang cukup besar. Ekspor menjadi salah satu jalur penting bagi produk Sumatera Barat untuk masuk ke pasar internasional, sekaligus menjadi bagian dari perputaran ekonomi daerah.

    Namun, nilai ekspor tidak cukup dibaca hanya dari besarnya angka. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana aktivitas perdagangan tersebut memberikan dampak terhadap produksi daerah, petani, pelaku usaha, tenaga kerja, industri pengolahan dan rantai pasok.

    Dengan demikian, statistik perdagangan luar negeri dapat menjadi bahan untuk melihat sejauh mana aktivitas ekonomi daerah terhubung dengan pasar global.

    Lima Angka, Satu Cerita Ekonomi

    Jika kelima indikator tersebut dibaca secara bersamaan, terlihat sebuah gambaran ekonomi Sumatera Barat yang cukup beragam.

    Harga konsumen masih mengalami kenaikan, NTP petani meningkat, aktivitas hotel tercatat, mobilitas udara bergerak, dan perdagangan luar negeri menunjukkan nilai ekspor-impor yang signifikan.

    Tidak ada satu angka yang dapat menggambarkan seluruh kondisi ekonomi masyarakat.

    Inflasi berbicara mengenai perubahan harga. NTP memberikan gambaran mengenai daya tukar petani. TPK menunjukkan aktivitas akomodasi. Transportasi menggambarkan mobilitas. Sementara ekspor-impor memperlihatkan hubungan ekonomi Sumatera Barat dengan pasar internasional.

    Karena itu, data BPS menjadi penting bukan hanya bagi pemerintah atau pelaku usaha, tetapi juga bagi masyarakat.

    Membaca statistik berarti memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita—mulai dari harga bahan pangan di pasar, kondisi ekonomi petani, ramainya aktivitas wisata, pergerakan orang melalui bandara, hingga produk Sumatera Barat yang menembus pasar luar negeri.

    Pada akhirnya, angka-angka tersebut akan memiliki arti ketika diterjemahkan menjadi kebijakan dan aktivitas ekonomi yang berdampak nyata bagi masyarakat. (Zul)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad