• Breaking News

    Tampilkan postingan dengan label Roehana Koeddoes. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Roehana Koeddoes. Tampilkan semua postingan

    Akankah Rohana Kudus Jadi Pahlawan Nasional

    Rumah yang pernah didiami Rohana Kudus, wartawan dan pemimpin redaksi perempuan pertama Indonesia itu masih sepi. Kediamannya yang nomor tiga dari simpang tiga Labuah Gadang, Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam itu terlihat sepi. Sama halnya dengan nagari asal kaum cerdik pandai  yang kini tak lagi ramai.

    Rumah dengan empat kamar yang dibuat seolah mengelilingi ruang tamu itu terlihat terkunci. Hanya saja sudah kelihatan bersih, sudah sedikit tacelak kata orang-orang yang diperlihatkan foto rumah Rohana Kudus.

    “Kebetulan yang memegang kuncinya sedang keluar. Kabarnya pergi ke Pasaman,” ujar Nurmalayati, warga yang  tinggal berdekatan dengan rumah Rohana Kudus, awal pekan ini.

    Nurmalayati yang akrab dipanggil Eti itu tengah membersihkan kebun pisangnya yang bersebelahan langsung dengan rumah salah satu pendiri Yayasan Amai Setia tersebut.

    “Iko sadang mamotong dan mambuangi daun pisang nan cabiak-cabiak ko ha (Ini lagi memotong dan membuang daun pisang yang koyak-koyak akibat angin),” ujarnya.

    Dari Eti didapatkan kabar,  rumah tersebut selama ini dibersihkan Zanidar alias ni Awak. Ni Awak biasanya memberikan kesempatan luas kepada orang-orang berkompeten yang ingin melihat seisi rumah itu.  Eti yang awalnya agak tertutup dalam menanggapi pertanyaan akhirnya mau berbincang lepas setelah disebutkan ada kaitannya kedatangan itu dengan Ketua KAN Nagari Koto Gadang, H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa yang pulang kampung bersama para datuk lainnya untuk menggelar rapat sekaitan rencana perkembangan Nagari Koto Gadang dan ada dua kaum yang datuknya meninggal beberapa waktu lalu dan mengembang bidai (menyelenggarakan proses pengangkatan datuk baru mereka).

    Dari mulut Eti-lah didapatkan cerita biasanya rumah selalu sepi. Keluarga terdekat dari Rohana Kudus yang bersuku Sikumbang itu kebanyakan berada di Jakarta. Ada juga yang di Bukittinggi. Makanya rumah dititipkan kepada Ni Awak.

    Eti mengungkapkan, Kamis lalu ada serombongan orang datang ke rumah tersebut. Mereka melakukan sejumlah aktivitas di sana, melihat-lihat ke seluruh sisi rumah, memotret, mengukur dan lainnya.

    Janeydi Juni, cucu tertua Rohana dari anak laki-laki satu-satunya itu pun membenarkan bahwa ada perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Agam yang datang ke rumah ibu kandung ayahnya (Djasma Juni) itu. Dia pun tak tahu ikhwal kedatangan tersebut, kebetulan dia bersama adiknya Nuridayati sekeluarga pulang kampung untuk urusan mengembang bidai dan rapat nagari Koto Gadang di balai adat.

    “Untung kami datang dan bisa mengikuti sedikit perkembangannya. Kami pun sudah memberi tahu keluarga Tuo Rohana yang di Jakarta untuk pulang dan bisa ikut acara pada 6 Februari nanti,” ujar pria yang akrab dipanggil Edi Juni itu.

    Pencanangan renovasi bagi Tuo Rohana itu disambut gembira oleh Edi Juni. Ada terus perhatian terhadap nenek ayahnya itu. “Semoga status pahlawan nasional bisa segera diberikan kepada Rohana Kudus. Semoga dorongan dari berbagai pihak khususnya Anggota DPD RI yang juga Ketua KAN Koto Gadang H. Leonardy Harmainy lewat media maupun jalur DPD, ini segera terealisasi,” ujarnya.

    Dalam rapat Nagari Koto Gadang di Balai Adat, Senin (29/1), perjuangan menjadikan Rohana Kudus pahlawan nasional juga mengemuka. Anak nagari dari berbagai kota di Indonesia datang dan menyatakan dukungan penuh mereka.

    “Alhamdulilah, jelang HPN 2018, Rohana Kudus kembali bergema. Semoga perjuangan berbagai elemen ini berhasil menjadikan Rohana Kudus sebagai pahlawan nasional. Dalam rapat di DPD pun, hal ini mendapat dukungan,” ujar Anggota Komite IV H. Leonardy Harmainy.

    Dikatakannya, Rohana Kudus wanita pertama yang tak hanya jadi wartawati tapi pemimpin redaksi pertama. Ia sezaman dengan Kartini, tapi nasib baik sebagai pahlawan singgah lebih awal pada Raden Ajeng.
    Rohana Kudus, untuk masa yang lama di Ranah Minang tak tergantikan. Dalam buku 111 Wartawan Sumbar yang segera akan terbit, ada satu wartawati yang jadi pemred,  Vinna Melwanti yaitu di Padang TV.

    Bagi hampir semua wartawan Rohana Kudus adalah inspirasi yang menyertai langkah mereka sampai hari ini. Ketika HPN, bukunya yang ditulis wartawati Fitriani akan dibagikan kepada para peserta HPN. (z01)

    Rumah Roehana Koeddoes Bakal Direnovasi

    Lubuk Basung - Seiring dengan pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018 yang bakal digelar di Sumbar, Pemkab Agam berencana merenovasi rumah kelahiran tokoh pers dan wartawati Roehana Koeddoes di Jorong Koto Gadang, Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

    Hal itu disebutkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Isra, S.Pd, M.Pd., Kamis (25/1) kepada wartawan di Lubuk Basung.

    Renovasi rumah kelahiran wartawati pertama itu, kalau tidak ada aral melintang, dimulai Februari mendatang ini.

    “Secara resmi, renovasi ini akan ditandai dengan kehadiran salah satu menteri, disaksikan para wartawan pada peringatan HPN yang tidak lama lagi akan datang,” sebut Isra.

    Renovasi itu diakui tidak dilakukan sekaligus, tetapi bertahap, mengingat pembiayaannya cukup besar buat ukuran Kabupaten Agam. Tahap I dilakukan 2018 dan tahap II dilanjutkan pada tahun 2019. Tahap pertama dinggarkan dana sebesar Rp200 juta, berasal dari APBD Kabupaten Agam 2018.

    Untuk tahap ini, perbaikan hanya untuk perbaikan atap dan dinding. Sedangkan tahap II nanti akan dilakukan perbaikan terhadap bagian lainnya. “Saat ini pihak konsultan tengah menyusun perencanaan dan menghitung pembiayaan yang dibutuhkan untuk renovasi tahap II,” ujar Isra.

    Isra menyebutkan, dana yang dibutuhkan untuk renovasi rumah wartawan nasional ini cukup besar, karena rumah kelahiran beliau Roehana Koeddoes itu bangunan lama yang elit. Selain itu rumah tersebut juga merupakan cagar budaya yang mesti dilestarikan.

    Apabila rumah tersebut sudah selesai direnovasi, dalam ruangan tersebut akan dilengkapi dengan hasil karya beliau yang masih ada, juga dipasang plang merek dan memajang foto berikut karya yang dilahirkan Roehana Koeddoes.

    Kabupaten Agam dikenal dengan objek wisata yang menawan, apabila rumah kelahiran wartawati Roehana Koeddoes tersebut sudah selesai direnovasi, rumah tersebut juga akan jadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Agam. “Lokasi itu akan ramai dikunjungi wisatawan nusantara mau pun mancanegara,” jelas Isra.

    Dijelaskan Isra, sebelumnya Pemkab Agam juga telah mengusulkan Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional ke Kementerian Sosial tahun 2017 lalu.

    Walinagari Koto Gadang, Budi Zulfikar membenarkan bahwa rumah Roehana Koeddoes di Koto Gadang bakal direnovasi. Menurut dia, tim dari kabupaten telah melihat ke lokasi dan memberi tahukan bahwa tim dari kementerian akan melakukan visitasi dan survey lapangan.

    Ketua KAN Koto Gadang, H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa jelas menyambut baik hal ini. Ketua KAN yang juga Anggota DPD RI itu telah membawa hal ini ke rapat paripurna DPD. (z01)

    Manfaatkan HPN 2018 untuk Roehana Koeddoes

    Oleh H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP, MH
    (Anggota Komite IV DPD RI -  MPR RI)

    Hari Pers Nasional 2018 dilaksanakan di Kota Padang. Puncaknya pada tanggal 9 Februari 2018. Kabar gembiranya, puncak peringatan itu bakal dihadiri Presiden Joko Widodo. 

    Tak mudah untuk membawa alek gadang ini ke Sumbar. Salut buat Ketua PWI Sumbar Heranof dkk.Pasti banyak agenda untuk membuatnya meriah dan penuh makna. Beberapa diantaranya penyerahan hadiah kepada media cetak, televisi dan radio. Adapula penghargaan tertinggi Adinegoro kepada wartawan maupun medianya. 

    Bahkan jauh sebelum itu, seminar dan berbagai acara diadakan untuk menjadikan HPN momen istimewa. Beragam talkshow juga digelar agar  HPN bergema.

    Semua pihak pun dihimbau untuk menyukseskannya. Gubernur triwulan pertama 2017 sudah meminta semua pihak untuk berkontribusi secara nyata terhadap kesuksesan acara yang secara lansung atau tak lansung menjadi marwah seluruh masyarakat Sumbar.

    Namun sepertinya ada yang terlupa. Di hari gembira buat para wartawan tanah air itu seolah tak terdengar gaung untuk memperjuangkan salah satu tokoh pelopor wartawan di Indonesia. Dia ikut menggelorakan semangat para pejuang.

    Dialah Rangkayo Rohana Koeddoes, wartawati pertama. Pemilik sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama, yaitu Koran Soenting Melajoe. 

    Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 (87 tahun). 

    Anak dari Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. 

    Roehana Koeddoes pun adalah sepupu H. Agus Salim. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Berkat kegigihannya dia berhak atas sebutan pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

    Alangkah bagusnya jika di Hari Pers Nasional yang dihelat di Kota Padang ini menjadi barometer bagi pengakuan terhadap Roehana Koeddoes sebagai Pahlawan Nasional. Telah lama ini diperjuangkan, namun belum bisa direalisasikan.

    Bahkan kaum perempuan di Sumbar, mendirikan organisasi Roehana Koeddoes sebagai bentuk perjuangan mereka menjadikan perempuan pendidik kaumnya itu dijadikan Pahlawan Nasional. 

    Ini penting artinya, Roehana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Dia mendapatkan ketrampilan yang dia ajarkan ke kaumnya tersebut saat sang ayah bertugas di Alahan Panjang dan bertetangga dengan atasannya orang Belanda.

    Roehana memberdayakan kaumnya. Hasil kerajinan Amai Setia menjadi basis industri rumah tangga dan dikembangkan mirip dengan koperasi simpan pinjam saat ini. Anggotanya perempuan semua. 

    Lewat lembaga ini dia memasarkan hasil kerajinan itu ke Eropa karena memenuhi syarat ekspor. Roehana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya.

    Keinginan kuat Roehana untuk memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya membaca dan menulis, membuat Roehana menerbitkan surat kabar perempuan yang diberi nama Soenting Melajoe pada tanggal 10 Juli 1912. Ini surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulis semuanya perempuan. 

    Lewat ini, Roehana memperjuangkan 'emansipasi' kaumnya. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidaklah dengan menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan menurut kodratnya untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya dengan ditunjang ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dengan caranya, Roehana menggambarkan betapa diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

    Untuk itu sekali lagi, sangat diharapkan para wartawan Sumbar baik secara individu maupun secara organisasi dapat memperjuangkan pengakuan terhadap Roehana Koeddoes ini. Minimal para wartawati daerah ini. Pemerintah daerah hingga pusat diharapkan segera menindaklanjuti dengan pengukuhan Roehana sebagai Pahlawan Nasional.

    Sebagai putra daerah yang kini menjadi Ketua KAN Koto Gadang, saya H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, sangat berharap para jurnalis di Sumbar berupaya sekuat tenaga memperjuangkan pengakuan terhadap sesepuhnya ini. Setidaknya upaya ke arah ini belum terbetik sedikitpun jelang HPN. 

    Banyak kegiatan, banyak pihak yang dilibatkan untuk kemeriahan HPN yang berkaitan langsung dengan marwah Sumbar itu mungkin masih terasa hambar jika status Rohana Koeddoes masih belum berubah.

    Mari lewat HPN ini kita kembalikan ingatan orang bahwa tanah Minangkabau di Sumatera Barat tidak hanya dikenal melahirkan banyak negarawan yang tercatat dalam sejarah emas bangsa ini. Tapi ternyata juga melahirkan pionir serta jurnalis perempuan pertama Indonesia.  

    Setidaknya di momen HPN 2018 lahir resolusi yang mendesak tokoh pers perempuan ini diakui sebagai pahlawan nasional. Hari lahirnya, 20 Desember menjadi hari khusus bagi perempuan tangguh secara nasional, minimal di lingkup Sumatera Barat.

    Selaku anggota DPD RI pun akan menggalang dukungan untuk meminta Pemerintah RI untuk segera menetapkan Roehana Koeddoes menjadi pahlawan Nasional. (*)

    Manfaakan Momen HPN Buat Pengukuhan Roehana Koeddoes Sebagai Pahlawan Nasional

    Oleh H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP, MH.
    (Anggota Komite IV DPD RI - MPR RI)

    Hari Pers Nasional 2018 dilaksanakan di Kota Padang. Puncaknya pada tanggal 9 Februari 2018. Kabar gembiranya, puncak peringatan itu bakal dihadiri Presiden Joko Widodo. 

    Tak mudah untuk membawa alek gadang ini ke Sumbar. Salut buat Ketua PWI Sumbar Heranof dkk.Pasti banyak agenda untuk membuatnya meriah dan penuh makna. Beberapa diantaranya penyerahan hadiah kepada media cetak, televisi dan radio. Adapula penghargaan tertinggi Adinegoro kepada wartawan maupun medianya. 

    Bahkan jauh sebelum itu, seminar dan berbagai acara diadakan untuk menjadikan HPN momen istimewa. Beragam talkshow juga digelar agar  HPN bergema.

    Semua pihak pun dihimbau untuk menyukseskannya. Gubernur triwulan pertama 2017 sudah meminta semua pihak untuk berkontribusi secara nyata terhadap kesuksesan acara yang secara lansung atau tak lansung menjadi marwah seluruh masyarakat Sumbar.

    Namun sepertinya ada yang terlupa. Di hari gembira buat para wartawan tanah air itu seolah tak terdengar gaung untuk memperjuangkan salah satu tokoh pelopor wartawan di Indonesia. Dia ikut menggelorakan semangat para pejuang.

    Dialah Rangkayo Rohana Koeddoes, wartawati pertama. Pemilik sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama, yaitu Koran Soenting Melajoe. 

    Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 (87 tahun). 

    Anak dari Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. 

    Roehana Koeddoes pun adalah sepupu H. Agus Salim. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Berkat kegigihannya dia berhak atas sebutan pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

    Alangkah bagusnya jika di Hari Pers Nasional yang dihelat di Kota Padang ini menjadi barometer bagi pengakuan terhadap Roehana Koeddoes sebagai Pahlawan Nasional. Telah lama ini diperjuangkan, namun belum bisa direalisasikan.

    Bahkan kaum perempuan di Sumbar, mendirikan organisasi Roehana Koeddoes sebagai bentuk perjuangan mereka menjadikan perempuan pendidik kaumnya itu dijadikan Pahlawan Nasional. 

    Ini penting artinya, Roehana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Dia mendapatkan ketrampilan yang dia ajarkan ke kaumnya tersebut saat sang ayah bertugas di Alahan Panjang dan bertetangga dengan atasannya orang Belanda.

    Roehana memberdayakan kaumnya. Hasil kerajinan Amai Setia menjadi basis industri rumah tangga dan dikembangkan mirip dengan koperasi simpan pinjam saat ini. Anggotanya perempuan semua. 

    Lewat lembaga ini dia memasarkan hasil kerajinan itu ke Eropa karena memenuhi syarat ekspor. Roehana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya.

    Keinginan kuat Roehana untuk memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya membaca dan menulis, membuat Roehana menerbitkan surat kabar perempuan yang diberi nama Soenting Melajoe pada tanggal 10 Juli 1912. Ini surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulis semuanya perempuan. 

    Lewat ini, Roehana memperjuangkan 'emansipasi' kaumnya. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidaklah dengan menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan menurut kodratnya untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya dengan ditunjang ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dengan caranya, Roehana menggambarkan betapa diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

    Untuk itu sekali lagi, sangat diharapkan para wartawan Sumbar baik secara individu maupun secara organisasi dapat memperjuangkan pengakuan terhadap Roehana Koeddoes ini. Minimal para wartawati daerah ini. Pemerintah daerah hingga pusat diharapkan segera menindaklanjuti dengan pengukuhan Roehana sebagai Pahlawan Nasional.

    Sebagai putra daerah yang kini menjadi Ketua KAN Koto Gadang, saya H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, sangat berharap para jurnalis di Sumbar berupaya sekuat tenaga memperjuangkan pengakuan terhadap sesepuhnya ini. Setidaknya upaya ke arah ini belum terbetik sedikitpun jelang HPN. 

    Banyak kegiatan, banyak pihak yang dilibatkan untuk kemeriahan HPN yang berkaitan langsung dengan marwah Sumbar itu mungkin masih terasa hambar jika status Rohana Koeddoes masih belum berubah.

    Mari lewat HPN ini kita kembalikan ingatan orang bahwa tanah Minangkabau di Sumatera Barat tidak hanya dikenal melahirkan banyak negarawan yang tercatat dalam sejarah emas bangsa ini. Tapi ternyata juga melahirkan pionir serta jurnalis perempuan pertama Indonesia.  

    Setidaknya di momen HPN 2018 lahir resolusi yang mendesak tokoh pers perempuan ini diakui sebagai pahlawan nasional. Hari lahirnya, 20 Desember menjadi hari khusus bagi perempuan tangguh secara nasional, minimal di lingkup Sumatera Barat.

    Selaku anggota DPD RI pun akan menggalang dukungan untuk meminta Pemerintah RI untuk segera menetapkan Roehana Koeddoes menjadi pahlawan Nasional. (*)

    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2