Agam (sumbarkini.com) - Di hunian sementara (huntara), kebutuhannya bukan lagi sekadar nasi bungkus atau selimut kering yang dibutuhkan penyintas bencana di Palembayan. Mereka butuh berdiri di atas kaki sendiri guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setelah ladang, sawah, toko, warung atau bengkel mereka hanyut ditelan galodo (banjir bandang), modal untuk menata hidup kembali adalah segalanya. Hal ini didasarkan hasil asesmen relawan tim Naajiya Peduli di lapangan. Makanya, pada Sabtu (31/1/2026) Yayasan An Naajiya, melalui program "Naajiya Peduli", memberikan bantuan berupa uang tunai sebanyak 150 paket. Ini satu bentuk suntikan semangat yang sangat dinanti penyintas.
DR. Desman, MA, Ketua Yayasan An Naajiya, menjelaskan bahwa keputusan menyalurkan bantuan galodo Palembayan dalam bentuk uang tunai ini diambil setelah asesmen mendalam. Uang tunai dianggap lebih fleksibel, terutama untuk kebutuhan operasional sehari-hari dan biaya kontrol kesehatan.
“Ini adalah titipan dari donatur untuk penyintas bencana galodo. Semoga bisa sedikit membantu untuk membeli kebutuhan dan bagi penyintas di rumah singgah bisa untuk biaya perawatan dan kontrol kesehatan,” ujar Desman.
Dikatakan Desman bahwa bantuan ini adalah jembatan menuju pemulihan. Bagi penghuni huntara, bantuan ini ibarat memberikan oksigen agar penyintas bisa sedikit bernafas lega.
Menyambut penyampan itu, Tomas Libra, salah seorang perwakilan warga huntara, mengakui bantuan pangan dan papan memang sudah cukup. Namun, untuk bangkit, mereka butuh lebih dari itu. Mereka butuh modal untuk memulai lagi.
“Kami tidak mungkin selamanya seperti ini. Kami butuh suppor untuk bisa menata kehidupan dan usaha,” kata Tomas dengan suara tercekat.
Ia pun mengungkapkan kenyataan pahit, sekitar 80 persen penghuni huntara kehilangan rumah sekaligus lahan usaha. Sawah, ladang, bengkel—semua hanyut. "Hilang sudah semua," ujarnya terbata.
Di lain kesempatan, tepatnya di Rumah Singgah Lubuk Basung, fokus pemulihan sedikit berbeda. Aryati, Pengelola rumah singgah, mengatakan bahwa selain kebutuhan fisik, penyintas menghadapi pertarungan batin. Sebagian masih menjalani rawat jalan, tetapi trauma psikologis jauh lebih mengancam.
“Sebagian penyintas masih banyak yang mengalami trauma. Mengenai kebutuhan bantuan pangan, alhamdulillah sudah cukup memadai, tapi yang lebih penting adalah bagaimana membantu mereka dalam hal mental dan trauma, begitu juga untuk kelanjutan kehidupan mereka karena rumah dan sawah mereka kebanyakan hanyut dibawa galodo,” tutur Aryati.
Dia sangat mengharapkan dukungan mental dan ekonomi berkelanjutan dari pemerintah atau lembaga lainnya. Naajiya Peduli menyadari betul bahwa rekonstruksi pasca-bencana adalah maraton, bukan lari cepat. Bantuan uang tunai ini diharapkan menjadi momentum bagi para penyintas untuk menguatkan mental, membiayai pengobatan, dan perlahan menanam benih harapan baru di tengah puing-puing sisa bencana galodo Palembayan. (Jimi)





Social Media Icons