Obat Hati, Jujur dan Tidak Menyakiti
Oleh: Zulhendri Zulkifli Imam Said
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."(QS. Al-Ahzab: 70)
Allah memerintahkan kita untuk berkata yang baik, berkata benar, dan melarang kita berdusta. Rasulullah ï·º juga bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perintah dan larangan ini sesungguhnya bukan untuk kepentingan Allah, tetapi demi kebahagiaan hidup kita sendiri.
Ketika kita tidak berbohong dan tidak menyakiti orang lain, hati kita menjadi tenang. Kita tidak dihantui rasa bersalah, tidak gelisah karena harus menutupi kebohongan, dan tidak takut kehilangan kepercayaan orang lain.
Kejujuran dan kelembutan lisan juga menghadirkan penghormatan dari orang-orang di sekitar kita. Pasangan akan semakin percaya, anak-anak semakin hormat, orang tua dan mertua semakin sayang, tetangga merasa nyaman, karyawan bekerja dengan senang hati, dan pimpinan pun akan memberikan kepercayaan.
Seorang pedagang akan sukses apabila ia tidak membohongi pelanggannya dan tidak menyakiti mereka. Seorang pemimpin akan dicintai apabila ia jujur dan tidak melukai bawahannya. Demikian pula dalam setiap profesi, kejujuran dan akhlak yang baik adalah kunci keberkahan.
Marilah kita belajar menjadi pribadi yang jujur, menjaga lisan, tidak berdusta, dan tidak menyakiti siapa pun. Inilah obat bagi hati, penyejuk kehidupan di dunia, dan bekal keselamatan di akhirat.
Ya Allah, bersihkan hati dan lisan kami dari kebohongan dan perkataan yang menyakiti. Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang selalu berkata benar, menjaga perasaan sesama, serta memperoleh ketenangan, keberkahan, dan ridha-Mu di dunia maupun di akhirat.
