Masyarakat Kurao dan Surau Gadang Menyampaikan Keluhan: Dari Drainase, Banjir, Sampah hingga Bantuan Sosial Pada Yosrizal Effendi
PADANG (SUMBARKINI.COM) — Bagi masyarakat, pembangunan tidak selalu berhenti pada jalan yang sudah dibeton atau fasilitas yang terlihat secara kasatmata. Di balik infrastruktur yang mulai membaik, masih ada persoalan yang setiap hari dirasakan warga: air yang menggerus badan jalan, drainase yang belum tersedia, sedimen sungai yang menumpuk, keterbatasan peralatan evakuasi hingga persoalan pengelolaan sampah.
Persoalan-persoalan itu mengemuka dalam kegiatan Reses Tahun 2026/2027 yang dihadiri masyarakat Kurao Pagang dan Surau Gadang di Kurao, Kamis 3 September 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Ir. Yosrizal Effendi menegaskan, "Masyarakat yang mengalami dampak paling parah akibat bencana harus menjadi prioritas dalam upaya penanganan dan bantuan. Upaya untuk meminimalisir bencana pun kita kedepankan."
Ia meminta perangkat kelurahan bersama tokoh masyarakat, alim ulama, niniak mamak, bundo kanduang serta tokoh pemuda untuk ikut menyuarakan kebutuhan warga agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat memperoleh bantuan sesuai hak dan ketentuan yang berlaku.
“Jika perlu bantuan pokir saya, silakan diajukan. Lengkapi dengan perencanaannya. Kita akan bantu kawal,” ujarnya.
Menurut Yosrizal, masih tersedia waktu baginya untuk memperjuangkan berbagai aspirasi masyarakat hingga masa pengabdiannya berakhir pada 2029. Namun, ia menekankan bahwa aspirasi tersebut perlu disertai perencanaan dan proposal yang lengkap agar dapat diperjuangkan melalui mekanisme yang tersedia.
Baginya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat tetap merasakan bahwa pemerintah hadir ketika persoalan mereka disampaikan.
“Masyarakat tetap merasa memiliki pemerintah, merasakan hadirnya pemerintah,” menjadi salah satu semangat yang ditekankan dalam pertemuan tersebut.
![]() |
Meninjau lokasi betonisasi yang perlu drainase. |
Jalan sudah bagus, tetapi air menjadi ancaman
Zulnirman, pengurus mushala sekaligus tokoh masyarakat setempat, menyampaikan bahwa sejumlah ruas jalan di Kurao Pagang telah dibetonisasi dan kondisinya kini jauh lebih baik.
Namun, menurutnya, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah jalan belum dilengkapi drainase yang memadai. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat badan jalan kembali mengalami kerusakan akibat aliran air, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Air yang turun dari kawasan perbukitan atau gunung bertemu dengan kawasan permukiman yang tidak memiliki drainase. Ketika saluran tidak mampu menampung atau mengalirkannya dengan baik, air kemudian dapat menggerus badan jalan.
Karena itu, warga berharap pengerukan dan penanganan aliran air dilakukan secara berkala, bukan baru dilakukan setelah terjadi bencana.
Di RT 03/RW 03, persoalan sedimentasi juga masih terlihat. Sedimen yang terbawa banjir pada 26–27 November 2025 disebut masih menyisakan persoalan hingga kini.
Selain normalisasi saluran, warga juga mengungkapkan kebutuhan terhadap sarana evakuasi. Keterbatasan perahu karet menjadi salah satu kendala yang dirasakan ketika banjir terjadi. Warga RT 03, RT 02 dan RT 05 disebut pernah kewalahan ketika harus melakukan evakuasi.
Persoalan lain adalah penerangan. Saat banjir dan kondisi lingkungan membutuhkan mobilitas warga, penerangan juga menjadi perhatian. Di kawasan tersebut, jumlah lampu penerangan jalan umum yang tersedia disebut masih terbatas, hanya sekitar tujuh tiang.
Drainase jalan utama dan Batang Guo ikut disorot
Ketua RT 02/RW 02 Kelurahan Kurao Pagang, Marlianson, menyampaikan persoalan drainase di jalur utama dari kantor lurah hingga kawasan Aciak Mart.
Menurutnya, jalur tersebut merupakan salah satu akses utama masyarakat, tetapi belum memiliki drainase secara menyeluruh. “Kami sangat berharap drainase di jalur utama itu ada semuanya,” katanya.
Selain drainase, warga juga meminta normalisasi dan pengerukan Batang Guo. Sedimentasi yang semakin banyak dinilai perlu mendapat perhatian. Kondisi tepian sungai yang tidak lagi beraturan juga menjadi kekhawatiran karena berdekatan dengan kawasan permukiman.
Permintaan warga pada dasarnya sederhana: penanganan dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Sampah: dimulai dari tingkat RT
Persoalan lingkungan tidak hanya datang dari air. Dedi, yang mewakili warga Kelurahan Surau Gadang, menyampaikan kebutuhan pembinaan pengelolaan sampah, khususnya pemilahan sampah dari tingkat dasawisma dan RT.
RT 5 disebut sedang mencoba mempelopori upaya penanganan sampah dengan sistem pemilahan. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan berupa tempat sampah terpilah, sarana pengangkutan seperti becak motor, serta pembinaan agar sistem tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Yosrizal menilai pemilahan sampah dari tingkat RT merupakan langkah yang baik dan dapat menjadi contoh bagi RT lainnya.
Ia bahkan menyampaikan adanya peluang dukungan sekitar Rp15 juta untuk bak sampah terpilah pada setiap RT, dengan tetap mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku. “Ini PR kita bersama,” ujarnya.
Ia juga menyebut koordinasi dengan pemerintah kota dapat dilakukan apabila diperlukan untuk membahas berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.
Ada warga yang bertahun-tahun menunggu bantuan
Di tengah pembahasan pembangunan fisik, muncul pula persoalan yang menyentuh sisi kehidupan warga secara langsung. Seorang warga menyampaikan pengalamannya terkait bantuan sosial.
Ia mengaku sudah lama mengurus bantuan, tetapi belum mendapatkannya. Sebagai seorang yang telah lama menjanda, ia mempertanyakan alasan dirinya belum memperoleh bantuan sementara ada warga lain yang mendapatkannya.
Ia juga menyebut alasan yang pernah disampaikan kepadanya berkaitan dengan istilah desil.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan bantuan sosial bukan hanya mengenai ada atau tidaknya program, tetapi juga tentang pemahaman masyarakat mengenai kriteria penerima dan bagaimana memastikan warga yang memenuhi kriteria dapat terdata dengan benar.
Dalam situasi seperti ini, pendampingan dan penjelasan dari pihak terkait menjadi penting agar masyarakat memahami proses pendataan serta mekanisme pengusulan bantuan. Dalam hal ini, Yosrizal dibantu penjelasan oleh Sekretaris Lurah Kurao Pagang, Popy Anggrainy.
Popy menjelaskan tentang Desil dan pentingnya warga memberikan keterangan yang benar dan akurat ketika petugas datang. Salah memberikan data atau jawaban atau saat petugas sensus ekonomi dari BPS atau dari petugas dinas sosial dan lainnya, maka hasilnya akan berbeda.
"Bapak dan ibu dipersilakan untuk menyanggahnya lewat aplikasi atau lewat petugas," ujarnya.
Petani meminta mesin pompa dan bajak
Aspirasi juga datang dari sektor pertanian. Perwakilan kelompok tani yang tergabung dalam KTNA menyampaikan kebutuhan berupa mesin pompa air dan mesin bajak.
Disebutkan terdapat tiga kelompok tani dengan luas lahan sekitar 100 hektare. Produktivitas lahan diperkirakan berada pada kisaran 3,5–4 ton per hektare.
Dukungan terhadap sarana produksi dan pengelolaan lahan diharapkan dapat membantu aktivitas petani sekaligus menjaga produktivitas pertanian masyarakat.
Dijawab Yosrizal, "Kita mungkin terlambat ketemu pak. Sudah dua kelompok yang mengajukan usulan dan sedang kita perjuangkan. Namun usulan bapak bisa untuk perubahan 2027 atau tahun 2028 nanti."
Penyandang disabilitas menunggu bantuan sejak 2025
Persoalan lain disampaikan perwakilan masyarakat penyandang disabilitas. Ketua Yayasan Jaya Perkasa Peduli Sumbar Yunalzi mempertanyakan perkembangan permohonan bantuan yang telah diajukan sejak 2025.
Bantuan yang diharapkan antara lain tongkat, kursi roda dan kaki palsu untuk membantu aktivitas warga penyandang disabilitas.
"Kami sudah memasukkan permohonan sejak sebagaimana yang bapak anjurkan pada pertemuan sebelumnya. Sudah kami ajukan pada 2025 dan tentu saja warga disabilitas bertanya kepada saya pak bagaimana realisasinya," ujar pria yang akrab disapa Ucok ini.
Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan, drainase dan fasilitas umum. Akses terhadap alat bantu juga berkaitan langsung dengan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
![]() |
| Foto bersama masyarakat. |
Reses bukan sekadar bertemu, tetapi mengawal aspirasi
Yosrizal kembali menekankan bahwa kegiatan reses merupakan momentum bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan sekaligus mendiskusikan persoalan pembangunan di lingkungan mereka.
Menurutnya, tidak seluruh persoalan dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran. Karena itu, diperlukan perencanaan dan pengawalan secara bertahap.
Ia menyebut pembahasan anggaran untuk 2027 telah memasuki tahap tertentu, sehingga sejumlah aspirasi kemungkinan masih dapat diupayakan melalui pembahasan perubahan maupun tahapan anggaran berikutnya.
“Tidak bisa selesai satu tahun anggaran, kita selesaikan hingga selesai masa pengabdian saya,” ujarnya.
Namun, ia kembali mengingatkan pentingnya kelengkapan perencanaan dan proposal. Pesannya kepada masyarakat jelas: aspirasi perlu disampaikan, tetapi juga harus disiapkan dengan data, perencanaan dan dokumen yang memadai agar memiliki dasar untuk diperjuangkan.
Ketua LPM Kecamatan Nanggalo, Zurman, yang turut hadir, mengajak masyarakat memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi, bertanya dan menyampaikan kebutuhan pembangunan di Kurao Pagang maupun Surau Gadang.
Menurutnya, sejumlah hasil pembangunan di wilayah tersebut telah terlihat. Karena itu, aspirasi baru yang muncul diharapkan dapat terus dikomunikasikan dan dikawal.
Pada akhirnya, reses bukan hanya tentang siapa yang datang dan siapa yang berbicara. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk mempertemukan keluhan warga, data lapangan, perencanaan pembangunan dan tanggung jawab pemerintah.
Sebab bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, jalan yang baik akan lebih berarti jika air tidak kembali merusaknya. Bagi keluarga yang kesulitan mengakses bantuan, penjelasan yang terang sama pentingnya dengan program itu sendiri. Bagi penyandang disabilitas, sebuah kursi roda atau alat bantu dapat berarti kesempatan untuk bergerak lebih mandiri.
Dan bagi petani, sebuah mesin dapat menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas lahan. Aspirasi akhirnya bukan sekadar suara yang disampaikan. Ia harus menemukan jalan menuju perencanaan, penganggaran dan tindak lanjut. (Zul/Daan/Anto)


