Ketika Ketetapan Allah Pasti Datang
Ditulis Oleh: H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu)
Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 1:
Artinya:
“Telah pasti datangnya Ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)-nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”(QS. An-Nahl ayat 1)
Ayat ini mengandung peringatan yang sangat mendalam bagi kehidupan kita. Allah SWT menegaskan bahwa ketetapan-Nya pasti datang. Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi apa yang telah Allah tetapkan.
Dalam pandangan tasawuf, ayat ini mengajak kita membersihkan hati dari kelalaian, kesombongan, dan perasaan seolah-olah kita memiliki kendali atas segala sesuatu.
Kita sering kali terlalu sibuk mengejar dunia. Kita mengejar harta, jabatan, kedudukan, dan pujian manusia. Kita merencanakan kehidupan seakan-akan kita akan hidup selamanya.
Padahal, setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan hidup. Kita tidak mengetahui kapan ajal menjemput, kapan kesempatan beramal berakhir, dan berapa lama lagi Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri.
Karena itu, orang yang mengenal Allah bukanlah orang yang hidup dalam ketakutan semata, melainkan orang yang menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran.
Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh dunia. Ia mencari rezeki, tetapi tidak melupakan Pemberi rezeki. Ia mencintai keluarga, tetapi menyadari bahwa semua yang dicintainya adalah titipan Allah SWT.
Inilah pelajaran tasawuf yang sangat berharga: jangan biarkan hati terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa kepada Allah, Zat Yang memiliki seluruh kehidupan.
Kalimat “janganlah kamu meminta agar disegerakan” juga mengajarkan kepada kita tentang adab di hadapan ketetapan Allah.
Dalam kehidupan, kita sering tidak sabar. Ketika berdoa, kita ingin segera dikabulkan. Ketika menghadapi kesulitan, kita ingin segera mendapatkan jalan keluar. Ketika diuji, kita bertanya-tanya mengapa pertolongan Allah belum datang.
Padahal, tidak semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita, dan tidak semua yang tertunda berarti ditolak oleh Allah.
Tugas kita bukan mengatur Allah sesuai keinginan kita, melainkan memperbaiki diri, berikhtiar, berdoa, dan berserah diri kepada-Nya.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal adalah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Seorang hamba yang hatinya dekat kepada Allah akan belajar berkata, “Ya Allah, aku tidak mengetahui apa yang terbaik untukku. Namun, aku percaya bahwa ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Bimbinglah aku agar mampu menerima ketetapan-Mu dan tetap istiqamah dalam ketaatan kepada-Mu.”
Ayat ini hendaknya menjadi cermin untuk bermuhasabah. Jika ketetapan Allah pasti datang, sudahkah kita mempersiapkan diri? Jika kematian pasti menghampiri, sudahkah kita memperbanyak amal saleh? Jika setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sudahkah kita menjaga lisan dari menyakiti orang lain, menjaga hati dari iri dan dengki, serta mengambil hak sesama?
Jangan sampai kita sibuk menghitung kekayaan, tetapi lupa mrnghitung dosa. Jangan sampai kita pandai menilai kesalahan orang lain, tetapi lalai memperbaiki diri sendiri.
Dalam perjalanan menuju Allah, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi kedudukan kita di mata manusia, melainkan seberapa tulus hati kita dalam beribadah kepada-Nya
Marilah kita membersihkan hati dengan taubat, menghiasinya dengan zikir, mengeuatkannya dengan sabar, dan menerangi kehidupan kita dengan amal saleh.
Jangan menunggu datangnya musibah untuk mengingat Allah. Jangan menunggu usia senja untuk bertaubat. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya nikmat yang telah di berikan.
Selagi napas masih berembus, kesempatan berbuat baik masih terbuka. Marilah kita kembali kepada Allah dengan hati yang tulus, penuh harap akan rahmat-Nya, dan takut akan akibat dari dosa-dosa kita.
Kesimpulannya, QS. An-Nahl ayat 1 mengajarkan kepada kita tiga perkara penting, yaitu meyakini kepastian ketetapan Allah, bersabar dan tidak tergesa-gesa, serta mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa sadar akan kebesaran-Nya, sabar menerima ketetapan-Nya, dan istiqamah menempuh jalan menuju rida-Nya.
Salam
LH
