window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Republik Pernah Hampir Kehilangan Pemerintahan, PDRI Menjaganya Tetap Ada, Semangatnya Kita Hidupkan Lewat Fun Run Bela Negara - Sumbarkini

Header Ads

  • Breaking News

    Republik Pernah Hampir Kehilangan Pemerintahan, PDRI Menjaganya Tetap Ada, Semangatnya Kita Hidupkan Lewat Fun Run Bela Negara


    PADANG (SUMBARKINI.COM) – Ada masa ketika Republik Indonesia benar-benar berada dalam situasi genting. Pemerintahan pusat lumpuh, ibu kota Yogyakarta diduduki Belanda, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, sementara dunia internasional dibuat percaya bahwa Republik Indonesia telah berakhir.

    Namun sejarah mencatat sesuatu yang berbeda. Dari Sumatera Barat, tepatnya melalui rangkaian perjuangan yang berpusat di Bukittinggi dan kemudian bergerak ke sejumlah daerah di pedalaman, pemerintahan Republik tetap dipertahankan.

    Peristiwa itulah yang kemudian dikenal sebagai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)—sebuah episode penting yang menunjukkan bahwa ketika negara berada di titik paling kritis, keberanian, kepemimpinan dan kesetiaan terhadap Republik dapat menjadi penentu keberlangsungan sebuah bangsa.

    PDRI lahir dalam situasi Agresi Militer Belanda II. Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpin Republik ditangkap. Sebelum penangkapan, Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat apabila pemerintahan pusat tidak lagi dapat menjalankan tugasnya.

    Di Sumatera Barat, Sjafruddin bersama sejumlah tokoh Republik kemudian mengambil langkah menentukan.

    Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, pada 22 Desember 1948, para tokoh Republik yang berkumpul di Halaban mengambil keputusan membentuk PDRI. Pemerintahan tersebut kemudian menjadi mata rantai penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia hingga akhirnya pemerintahan kembali diserahkan kepada pemerintah pusat pada Juli 1949.

    Kota Bukittinggi sendiri memiliki posisi penting dalam episode itu. Pemerintah Kota Bukittinggi mencatat kota itu pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pada periode Desember 1948 hingga Juni 1949.

    Ketika Republik Dikabarkan Telah Berakhir

    Yang membuat kisah PDRI begitu penting bukan hanya tempat kejadiannya, tetapi keadaan yang melatarbelakanginya.Belanda ketika itu berusaha membangun kesan kepada dunia bahwa Republik Indonesia telah bubar. Para pem impinnya ditangkap dan pusat pemerintahan dikuasai.

    Dalam situasi seperti itu, keberadaan PDRI menjadi penegasan bahwa Republik belum berakhir. Pemerintah Republik tetap ada. Perlawanan tetap berlangsung. Jalur pemerintahan tetap dijaga.

    Sekretariat Kabinet Republik Indonesia mencatat Kabinet Darurat yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara berlangsung pada 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 dan dibentuk dalam konteks serangan Belanda terhadap Republik.

    Karena itulah, ketika berbicara mengenai bela negara, sejarah PDRI semestinya tidak berhenti sebagai hafalan tanggal, nama tokoh, atau cerita masa lalu.

    Ada yang jauh lebih besar. Bela negara adalah kesediaan menjaga keberlangsungan bangsa ketika negara menghadapi ancaman. Dan bentuknya dapat berubah sesuai zaman. Kini di 2026, Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) berupaya menjaganya lewat BelanegaraFunRun.

    Pengurus DPD IKAL Provinsi Sumatera Barat mengingatkan bahwa bela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata. Bagi pelajar, bela negara dapat diwujudkan dengan belajar sungguh-sungguh dan menjaga integritas.

    Bagi mahasiswa, dapat diwujudkan melalui ilmu, prestasi, literasi digital dan karya yang bermanfaat. Bagi aparatur negara, bela negara tercermin dari pelayanan publik yang jujur dan bertanggung jawab.

    Bagi masyarakat, bela negara dapat hadir melalui kepedulian sosial, menjaga persatuan, menaati hukum dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum teruji. Bahkan di ruang digital, cara seseorang menyebarkan informasi juga menjadi bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

    Dan di Hari Bela Negaara tahun 2026 ini, semua diajak berkumpul, berolahraga bersama, bergembira dalam kegiatan Bela Negara Fun Run. Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Gubernur Sumbar ini bertajuk "Berlari Mengenang, Berlari Membela".

    Hal ini diungkapkan Prof. Dr. Ir. Nasfryzal Carlo, M.Sc., CSP., IPU., APEC Eng., Ketua DPD IKAL Lemhannas Sumatera Barat, yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, integritas dan pengabdian kepada bangsa.

    Prof Carlo terus menggelorakan semangat bela negara ini. Bahkan dalam materi kebangsaan yang menyambut mahasiswa baru Universitas Bung Hatta pada September 2026, Carlo menekankan bahwa konsep bela negara perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain melalui kejujuran akademik, kompetensi, kecerdasan bermedia, menjaga persatuan, kepedulian kepada masyarakat serta menghasilkan karya.

    Bahkan dalam memimpin IKAL Lemhannas Sumbar, ia juga memasukkan pemantapan nilai-nilai kebangsaan dan pengembangan Museum Bela Negara sebagai bagian dari program prioritas organisasi.

    Prof Carlo mengajak semua elemen masyarakat untuk meramaikan kegiatan ini. "Ayo kita dukung. Ayo kita ajak keluarga. Ayo kita gerakkan komunitas. Ayo kita ajak sekolah, kampus, perusahaan, instansi dan seluruh masyarakat Sumatera Barat untuk turut serta," harapnya.

    Dia menegaskan, ini bukan event milik segelintir orang. Ini iven kita, iven Sumatera Barat bahkan iven Indonesia. 

    Segera daftarkan diri Anda segera. Peserta hanya dibatasi 2.000 orang.

    Link pendaftaran: https://eztix.id/bela-negara-fun-run?ref=9Q22KYA7

     





    Mengapa PDRI Perlu Terus Diingat?

    Ada alasan kuat mengapa memori sejarah PDRI penting terus diwariskan.

    Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang mendirikan negara, tetapi juga oleh generasi yang mampu menjaga ingatan tentang bagaimana negara tersebut pernah dipertahankan.

    Pada 19 Desember 2006, pemerintah menetapkan 19 Desember sebagai Hari Bela Negara melalui Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006. Penetapan itu berkaitan erat dengan peristiwa berdirinya PDRI dalam situasi ketika Republik menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungannya.

    Dengan demikian, Hari Bela Negara bukan sekadar agenda seremonial.

    Tanggal tersebut merupakan pengingat bahwa Republik Indonesia pernah berada pada keadaan yang sangat genting.

    Dan ketika pusat pemerintahan jatuh, para pemimpin bangsa di Sumatera Barat tidak memilih menyerah.

    Mereka mempertahankan keberadaan Republik.

    Sumatera Barat dan Ingatan Kebangsaan

    Bagi Sumatera Barat, kisah PDRI memiliki makna khusus.

    Bukittinggi, Halaban, Koto Tinggi, Bidar Alam dan sejumlah daerah lainnya bukan sekadar nama tempat dalam buku sejarah. Kawasan-kawasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan mempertahankan Republik ketika keadaan nasional berada dalam tekanan berat.

    Karena itu, merawat sejarah PDRI bukan semata-mata soal kebanggaan daerah.

    Lebih jauh, ia merupakan bagian dari merawat memori nasional.

    Dalam konteks itu, agenda DPD IKAL Lemhannas Sumbar pada 2026 yang mengangkat semangat PDRI melalui Rakerda dan Bela Negara Fun Run menjadi salah satu upaya menghubungkan sejarah perjuangan masa lalu dengan tantangan kebangsaan masa kini. Program organisasi tersebut juga mencakup pendidikan nilai kebangsaan, pembekalan ketahanan nasional bagi pelajar, literasi digital kebangsaan, serta pengembangan Museum Bela Negara Koto Tinggi.

    Pesannya sederhana, tetapi penting:

    Jangan sampai generasi hari ini menikmati Indonesia tanpa mengetahui betapa mahalnya perjuangan untuk mempertahankannya.

    PDRI mengajarkan bahwa ketika sebuah bangsa menghadapi situasi paling sulit, selalu ada orang-orang yang memilih bertahan.

    Kini tantangannya berbeda.

    Tidak selalu ada suara tembakan. Tidak selalu ada tentara asing di depan mata.

    Namun persatuan bisa terkikis oleh kebencian, keutuhan bangsa dapat diganggu oleh informasi palsu, dan masa depan negara dapat dipengaruhi oleh sikap apatis masyarakatnya sendiri.

    Maka mengenang PDRI bukan berarti hidup dalam masa lalu.

    Justru sebaliknya.

    Sejarah PDRI adalah cermin untuk bertanya: jika Republik pernah diselamatkan oleh keberanian generasi terdahulu, apa yang dapat kita lakukan untuk menjaganya hari ini?

    Pertanyaan itulah yang membuat bela negara tetap relevan—dari Bukittinggi untuk Indonesia.

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad