window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Hati Yang Bersih, Lisan Yang Menyejukkan - Sumbarkini

Header Ads

  • Breaking News

    Hati Yang Bersih, Lisan Yang Menyejukkan

    Oleh: H. Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa, S.IP., M.H
    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar Riau Jambi dan Bengkulu)


    Ada dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kita lupakan: hati dan lisan.

    Hati adalah tempat tumbuhnya niat, sedangkan lisan adalah jalan keluarnya apa yang ada di dalam hati. Karena itu, ketika hati bersih, biasanya lisan pun menjadi bersih. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi iri, dengki, sombong, marah dan buruk sangka, maka tanpa sadar semua itu dapat keluar melalui ucapan.


    Allah SWT berfirman:

    "(yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

    (QS. Asy-Syu'ara ayat 88–89)

    Dalam pandangan tasawuf, hati yang bersih bukan berarti hati yang tidak pernah sedih, tidak pernah marah, atau tidak pernah kecewa.

    Hati yang bersih adalah hati yang segera kembali kepada Allah ketika terluka, segera memohon ampun ketika khilaf, dan segera memaafkan ketika disakiti.

    Hati yang bersih tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, karena ia terlalu sibuk melihat kekurangan dirinya sendiri.

    Hati yang bersih juga tidak merasa tinggi ketika dipuji dan tidak hancur ketika dicela, karena ia tahu bahwa penilaian manusia tidak menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah.

    Dari hati yang bersih akan lahir lisan yang menyejukkan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)


    Betapa indah ajaran Rasulullah.

    Tidak semua yang kita pikirkan harus kita ucapkan. Tidak semua yang kita dengar harus kita sebarkan. Dan tidak semua kesalahan orang lain harus kita ceritakan.

    Kadang-kadang diam adalah ibadah.

    Kadang-kadang memaafkan adalah kemenangan.

    Dan kadang-kadang menahan satu kalimat yang menyakitkan jauh lebih mulia daripada mengucapkan seribu nasihat.

    Allah SWT juga mengingatkan:

    "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra ayat 53)

    Dalam perjalanan menuju Allah, kita tidak hanya diminta memperbanyak ibadah lahiriah, tetapi juga membersihkan batin.

    Jangan sampai tangan kita rajin bersedekah, tetapi llisan kita melukai.

    Jangan sampai kita rajin membaca Al-Qur'an, tetapi hati kita masih dipenuhi kebencian.

    Jangan sampai kita banyak berzikir kepada Allah, tetapi kita masih senang merendahkan hamba-Nya.

    Tasawuf mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan kepada Allah adalah perjalanan membersihkan hati.

    Bersihkan hati dari riya dengan ikhlas.

    Bersihkan hati dari iri dengan syukur.

    Bersihkan hati dari dendam dengan memaafkan.

    Bersihkan hati dari kesombongan dengan tawadhu.

    Dan bersihkan lisan dengan memperbanyak zikir, doa, nasihat yang baik, serta perkataan yang membawa kedamaian.

    Marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

    Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman?

    Apakah ucapan kita membuat orang lain semakin dekat kepada Allah?

    Ataukah justru ada hati yang terluka karena perkataan kita?

    Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan permusuhan. Jangan biarkan lisan kita menjadi sebab jauhnya seseorang dari kita. Jadikanlah lisan sebagai jembatan silaturahmi, bukan sebagai senjata untuk melukai.

    Semoga Allah membarikan kepada kita *qalbun salim*, hati yang bersih, lisan yang lembut, ucapan yang benar, dan akhlak yang menyejukkan.

    Karena sesungguhnya, *orang yang dekat dengan Allah bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadahnya, tetapi juga dari seberapa banyak orang lain merasa aman, damai, dan nyaman berada di dekatnya.*


    Salam

    LH

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad