Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Ikrar: Membuka Jalan Pendidikan bagi Semua
Oleh: Lisa Fitriani Rahman
Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda, sebuah ikrar bersejarah yang menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu dan berjuang demi masa depan Indonesia. Pada 1928, para pemuda menyatukan tekad untuk membangun identitas kebangsaan. Kini, hampir satu abad kemudian, semangat itu perlu kita lanjutkan melalui perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman, salah satunya dengan membuka akses pendidikan yang lebih luas dan berkeadilan.
Bagi saya, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa yang dikenang melalui upacara, pidato, atau rangkaian kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang diwariskannya harus hadir dalam tindakan nyata, termasuk bagaimana kita memperlakukan sesama, memberikan kesempatan kepada mereka yang membutuhkan, dan memastikan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi milik orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi.
Sebagai Ketua STIE Perbankan Indonesia Padang, saya meyakini bahwa pendidikan tinggi harus menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan, memperluas kesempatan, dan membangun kemandirian. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mendidik mahasiswa agar menguasai ilmu pengetahuan. Kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk membantu membuka pintu pendidikan bagi mereka yang memiliki kemauan belajar, tetapi menghadapi keterbatasan.
Sebab, masa depan seseorang tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh keadaan ekonomi keluarganya.
Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Pendidikan
Para pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 telah menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari keberanian untuk melampaui perbedaan dan memperjuangkan cita-cita bersama.
Hari ini, tantangan kita memang berbeda. Generasi muda tidak lagi menghadapi perjuangan dalam konteks yang sama dengan para pendahulunya. Namun, kita masih berhadapan dengan pekerjaan besar: meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, mengurangi kesenjangan, dan memastikan semakin banyak anak bangsa memiliki peluang untuk berkembang.
Dalam konteks tersebut, pendidikan memegang peranan penting.
Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Pendidikan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan memperbesar peluang untuk memperbaiki taraf hidup.
Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak selalu mudah bagi setiap orang. Ada karyawan yang ingin melanjutkan kuliah, tetapi harus membagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada anak yatim piatu yang memiliki semangat belajar, tetapi menghadapi keterbatasan dukungan ekonomi. Ada pula para penghafal Al-Qur’an yang ingin mengembangkan kemampuan akademik dan mempersiapkan masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang mereka pegang.
Mereka memiliki cita-cita dan potensi yang patut diberi ruang untuk tumbuh.
Karena itu, saya memandang bahwa perguruan tinggi perlu terus mencari cara agar keterbatasan ekonomi dan kondisi kehidupan tidak serta-merta menutup kesempatan seseorang untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Membuka Kesempatan Kuliah bagi Mereka yang Membutuhkan
Di STIE Perbankan Indonesia Padang, kami berupaya memberikan kesempatan kepada lebih banyak kalangan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Perhatian ini mencakup karyawan yang ingin meningkatkan kompetensi, anak yatim piatu yang membutuhkan dukungan, serta para hafiz Al-Qur’an yang ingin mengembangkan pendidikan akademiknya.
Bagi kami, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Karena itu, pendekatan dalam membuka akses pendidikan juga perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Karyawan, misalnya, sering kali harus menjalankan dua tanggung jawab sekaligus: mencari nafkah dan mempersiapkan masa depan melalui pendidikan. Mereka tidak selalu memiliki keleluasaan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengikuti perkuliahan dengan jadwal yang kaku.
Untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut, STIE Perbankan Indonesia Padang menyediakan pilihan perkuliahan secara daring. Dengan model ini, mahasiswa memiliki alternatif untuk mengikuti pembelajaran tanpa harus selalu hadir secara fisik di kampus, sesuai dengan ketentuan dan jadwal perkuliahan yang berlaku.
Kami juga memberikan kemudahan pembayaran uang kuliah melalui kesempatan mencicil selama semester yang diikuti. Skema ini diharapkan dapat membantu mahasiswa mengatur keuangan secara lebih terencana, sehingga kebutuhan pendidikan dapat diselaraskan dengan kemampuan ekonomi mereka.
Selain itu, terdapat kemudahan berupa pembebasan uang pembangunan serta kesempatan memperoleh beasiswa sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
Berbagai kemudahan tersebut merupakan bagian dari upaya kami untuk memperluas akses pendidikan. Kami memahami bahwa biaya kuliah dapat menjadi salah satu pertimbangan penting ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, semakin beragam pilihan dukungan yang tersedia, semakin terbuka pula peluang bagi calon mahasiswa untuk mempertimbangkan kuliah sesuai dengan kondisinya.
Kami ingin agar seseorang yang memiliki semangat belajar tidak langsung mengurungkan niat hanya karena melihat keterbatasan ekonomi yang sedang dihadapinya. Sebelum menyerah, ia perlu mengetahui bahwa ada pilihan dan kemungkinan yang dapat dibicarakan.
Anak Yatim Piatu Berhak Memiliki Masa Depan yang Terbuka
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak yatim piatu yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.
Kehilangan orang tua dapat menghadirkan tantangan tersendiri dalam perjalanan hidup seseorang. Selain menghadapi kondisi emosional dan sosial, sebagian dari mereka juga harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pendidikan dan mempersiapkan masa depan secara mandiri.
Dalam situasi seperti ini, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi menjadi sangat berarti. Pendidikan dapat membantu memperluas pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan membangun bekal untuk memasuki dunia kerja maupun merintis usaha.
Oleh sebab itu, di STIE Perbankan Indonesia Padang, terdapat kesempatan bagi mahasiswa dari kalangan yatim piatu untuk memperoleh beasiswa sesuai dengan kebijakan, persyaratan, dan hasil penilaian yang berlaku.
Harapan kami, dukungan beasiswa tersebut dapat membantu meringankan beban biaya pendidikan, bahkan bagi penerima yang memenuhi ketentuan beasiswa penuh, memungkinkan mereka menjalani perkuliahan tanpa harus terus dibayangi kewajiban membayar uang kuliah setiap semester.
Bagi saya, kesempatan seperti ini bukan sekadar persoalan keringanan biaya. Ini merupakan ikhtiar agar anak-anak yang menghadapi keterbatasan tetap memiliki ruang untuk belajar, berkembang, dan memperjuangkan masa depannya.
Kita tidak boleh membiarkan keadaan hari ini menjadi satu-satunya penentu bagi masa depan mereka. Dengan kesempatan, pendampingan, dan kemauan untuk berusaha, mereka juga memiliki peluang untuk tumbuh menjadi tenaga profesional, wirausahawan, maupun anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat.
Tentu, beasiswa dan berbagai kemudahan pendidikan harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang jelas. Namun, semangat yang melandasinya perlu tetap sama: memberikan kesempatan yang layak kepada mereka yang membutuhkan dan memiliki tekad untuk belajar.
Menghargai Hafiz Al-Qur’an, Mengembangkan Kompetensi Masa Depan
Saya juga memandang pentingnya membuka ruang bagi para hafiz Al-Qur’an untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Kemampuan menghafal Al-Qur’an merupakan pencapaian yang membutuhkan kesungguhan, disiplin, kesabaran, dan konsistensi. Nilai-nilai tersebut merupakan bekal positif yang dapat berjalan berdampingan dengan proses pendidikan akademik.
Para hafiz Al-Qur’an juga berhak mengembangkan kompetensi profesional, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja maupun dunia usaha.
Melalui kesempatan melanjutkan pendidikan di STIE Perbankan Indonesia Padang, kami berharap mereka dapat mengembangkan potensi secara lebih luas. Nilai-nilai keagamaan yang dijaga dapat berjalan seiring dengan pengetahuan ekonomi, perbankan, manajemen, dan kewirausahaan yang dipelajari di perguruan tinggi.
Bagi saya, pendidikan seharusnya tidak memaksa seseorang memilih antara menjaga nilai-nilai yang diyakininya dan mempersiapkan masa depan profesional. Keduanya dapat saling melengkapi selama dijalankan dengan tanggung jawab dan kesungguhan.
Karena itu, kesempatan pendidikan bagi hafiz Al-Qur’an menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia yang memiliki bekal spiritual sekaligus kompetensi akademik.
Kuliah Sambil Bekerja, Belajar Sambil Membangun Masa Depan
Saya memahami bahwa bagi sebagian karyawan, melanjutkan pendidikan bukan keputusan sederhana. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang harus dinafkahi, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat ditunda.
Namun, peningkatan pendidikan dan kompetensi dapat menjadi salah satu investasi penting bagi masa depan mereka.
Dengan kesempatan mengikuti kuliah secara daring, skema pembayaran yang dapat dicicil selama semester berjalan, pembebasan uang pembangunan, serta peluang memperoleh beasiswa, kami berupaya menghadirkan pilihan yang lebih sesuai bagi mereka yang memiliki keterbatasan tertentu.
Kemudahan tersebut tentu bukan berarti perjalanan kuliah menjadi tanpa tantangan. Mahasiswa tetap membutuhkan kedisiplinan, komitmen, dan kesungguhan untuk mengikuti proses pembelajaran hingga selesai.
Akan tetapi, ketika akses dibuat lebih terbuka, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk mengambil keputusan berdasarkan cita-cita dan kemampuannya, bukan semata-mata karena tidak menemukan pilihan yang memungkinkan.
Saya berharap semakin banyak karyawan yang berani meningkatkan pendidikan, semakin banyak anak yatim piatu yang memperoleh kesempatan mengembangkan potensinya, dan semakin banyak hafiz Al-Qur’an yang mampu memadukan nilai spiritual dengan kompetensi profesional.
Bagi saya, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari berapa banyak mahasiswa yang mengikuti perkuliahan. Keberhasilan juga perlu dilihat dari bagaimana pendidikan membantu seseorang bertumbuh, memperluas kesempatan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Perguruan Tinggi Harus Hadir bagi Masyarakat
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, kami menyadari bahwa tanggung jawab perguruan tinggi tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan akademik. Perguruan tinggi juga perlu terus memikirkan bagaimana keberadaannya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Upaya memperluas akses kuliah bagi karyawan, anak yatim piatu, dan hafiz Al-Qur’an merupakan salah satu langkah yang kami dorong untuk mendukung tujuan tersebut.
Kami ingin pendidikan tinggi menjadi ruang bagi orang-orang dengan latar belakang yang beragam. Mereka datang dengan pengalaman, kemampuan, dan kondisi ekonomi yang berbeda, tetapi memiliki kesempatan untuk belajar, meningkatkan kualitas diri, dan mempersiapkan masa depan.
Saya percaya, ketika kesempatan pendidikan terbuka lebih luas, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Keluarga dapat memperoleh harapan baru, tempat kerja berpeluang mendapatkan sumber daya manusia yang lebih kompeten, dan masyarakat dapat merasakan kontribusi orang-orang yang terus mengembangkan kemampuan dirinya.
Tentu, pendidikan bukan satu-satunya jawaban atas seluruh persoalan sosial dan ekonomi. Namun, pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk memperluas pilihan hidup dan membangun kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan.
Karena itu, saya berharap semakin banyak pihak memandang pendidikan sebagai investasi bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai dengan peran masing-masing.
Memaknai Sumpah Pemuda Melalui Tindakan Nyata
Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, tugas generasi sekarang bukan sekadar mengagumi keberanian para pendahulu. Kita perlu meneruskan semangat mereka melalui tindakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Bagi dunia pendidikan, salah satu bentuk perjuangan itu adalah membantu membuka kesempatan belajar, mendorong peningkatan kompetensi, menanamkan integritas, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. (*)
