• Breaking News

    Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

    SOBAT KUANTAN (STORY OF BATANG KUANTAN) Oleh: Yelmi Yuspita Rasi

     

     SOBAT KUANTAN (STORY OF BATANG KUANTAN)

    Oleh: Yelmi Yuspita Rasi

     


    SIJUNJUNG (Sumbarkini.com) - Pada zaman modern ini tidak banyak masyarakat mengetahui asal usul tempat beliau bernaung, tidak banyak dari masyarakat mengerti sejarah dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi tentang cerita-cerita sejarah. Seyogyanya sejarah harus disebar luaskan supaya generasi penerus daerah tersebut menjadi tahu dan apabila mereka tahu maka tumbuh rasa untuk menjaga nilai-nilai sejarah, zaman boleh berubah yang tidak boleh berubah adalah sejarah suatu wilayah. Sejarah dapat dibedakan berdasarkan temanya, Jika dilihat dari temanya sejarah dibedakan menjadi beberapa jenis. Salah satunya adalah sejarah geografis yang berkaitan dengan geografi. Sejarah geografi seringkali dihubungkan dengan lokasi peristiwa sejarah.

    Cerita sejarah apabila diurutkan dapat dibagi menjadi 4 masa yaitu masa hindia tradisional,  masa kolonial, masa kemerdekaan dan masa pasca kemerdekaan yang pada setiap masa memiliki corak dan identitas tersendiri. Corak atau identitas itu kemudian meninggalkan bekas sejarah berupa artefak atau pola kehidupan yang masih dijumpai pada hari ini Peninggalan sejarah yang berupa kebendaan dikenal sebagai Cagar Budaya (CB) sedangkan yang non kebendaan disebut sebagai Warisan Budaya tak benda (WBTB). Cagar Budaya itu sendiri masih dibagi atas Living Monument dan Dead Monumen. Living Monumen bermakna sebagai monument hidup yang  mengalami perubahan fungsi sesuai relevansinya dengan gaya hidup masa kini dan sebaliknya Dead Monumen berarti monument yang sejak diciptakan hingga saat ini tidak mengalami perubahan fungsi dari dulu hingga sekarang.

     

    Kabupaten Sijunjung merupakan salah satu wilayah di Sumatera Barat yang memiliki cukup banyak cerita sejarah baik sejarah terkait Minangkabau, penyebaran agama Islam dan peran sertanya dalam perjuangan dimasa kolonial. Salah satu bagian tempat yang menyimpan banyak cerita sejarah adalah kawasan di sepanjang Batang Kuantan. Batang Kuantan Terbentang melintasi sepanjang 800 km membela Pulau Sumatera dari Ombilin hingga Selat Malaka. Melintasi kota, hutan, lembah dari arah barat mengikuti kemiringan Pulau Sumatera ke arah timur dan menempatkan Batang Kuantan sebagai 10 sungai terpanjang di Indonesia, terbentuk karena pertemuan 3 aliran sungai Batang Sinamar dari Tanah Datar, Batang Ombilin dari Danau Singkarak dan Batang Palangki dari Solok. Memiliki banyak anak sungai diantaranya batang Sumpu, batang Palangki, batang Sukam, batang Kulampi, batang Paru, dan batang Binuang, sungai Kuantan, sungai Inderagiri.

     

    Konon penamaan Batang Kuantan didasari karena adanya penyerahan luhak oleh raja kepada pangulu  maka diadakanlah kenduri atau pesta besar-besaran ( oghian gadang bernama durian gadang) selama 7 hari 7 malam sampai-sampai persediaan alat dan bahan untuk memasak habis. Karena semua tamu kerajaan saat itu hadir Maka pergilah para dubalang berburu dengan tujuan untuk bertemu dengan rusa, kijang atau hewan hutan lainnya yang halal untuk dimakan, setelah melalui perjalanan yang begitu panjang bertemulah dubalang dengan seekor ular besar, ular tersebut dielo/ditarik bernama Sungai Delo ternyata jejak ular yang dielo/ditarik tersebut diketahui oleh datuk disebut Datuk Segala Tahu. sementara ular sudah dimasukkan kedalam kancah berisi santan karena tidak tega dengan semua masyarakat Nagari Durian Gadang memakan daging ular tersebut, diberitahulah oleh Datuk ke Sumando si memasak bahwa daging bahwa yang dimasak adalah daging ular. Timbul keributan antara sumando dengan dubalang dipukul-pukul kayu oleh Datuk namun tanpa disadari kayu tersebut menghasilkan bunyi, terciptalah sebuah alat musik tradisional  oleh masyarakat Durian Gadang bernama Talempong. Pertengkaran mereda Sehingga pada akhirnya, santan yang berlebih tadi dibuang ke sebuah sungai yang berada di daerah tersebut. Sungai itu dulunya berwarna hijau dan disebut dengan Batang Sinamar. Tetapi, semenjak peristiwa tadi, yaitu dibuangnya santan ke dalam sungai itu, maka sungai yang bewarna hijau itu berubah menjadi seperti santan. Sejak itu nama sungai Batang Sinamar berubah menjadi Batang Kuantan, yaitu buangan kuah santan.

    Cerita-cerita yang beredar dikalangan orang tua-tua di sepanjang aliran Batang Kuantan yang meninggalkan bekas peninggalan yang dapat dikategorikan sebagai Living Monumen adalah kisah pelancongan seorang bangsawan sekaligus merupakan  memori kolektif yang tidak bisa dilupakan apalagi kedatangan tersebut menjadi cikal bakal adanya peninggalan sejarah didaerah tersebut merupakan bukti kedatangan rombongan Kerajaan Johor (Malaysia) untuk melakukan kunjungan kepada raja Pagaruyung dalam rangka pengantaran  sebuah batu ke Sumpur Kudus. Melalui Rengat – Lubuk Jambi – Batu Bandang (salah satu wilayah Lubuk Macang) – penyebrang jalan Paru – Silukah (tepatnya di Malakau Kociak). Tersebutlah karena panas yang begitu menyengat rombongan berhenti sejenak di Silukah sekaligus melepas penat, saat mengulang perjalanan menuju Sumpur Kudus batu yang dibawa tidak bisa diangkat, saat dicoba diangkat 5 orang tidak bisa, 8 orang pun tidak bisa. Meskipun ukuran batu kecil tapi karena kuasa Allah semuanya bisa terjadi maka diundang datuk dari Sumpur Kudus, diundang datuk dari Aur lalu berkumpul di dekat batu dilakukanlah perundingan dengan datuk yang ber 6 yang ada di Silukah, menghasilkan keputusan akhir batu ditinggal di Silukah dengan membuat tempat duduk para datuk yang mana datuk yang berenam tepat berada didekat batu dan diiukuti oleh datuk lainnya atau lebih dikenal dengan nama “Batu Gadang", hingga saat ini digunakan sebagai tempat berkaul adat bentuk ungkapan rasa syukur yang diluapkan oleh masyarakat atas berkat Allah SWT atas hasil panen pertanian yang diberikan karena pada umumnya masyarakat sekitar bekerja sebagai petani. Selain kerajaan Johor,Kerajaan Majapahit konon juga melakukan kunjungan kepada kerajaan Pagaruyung.

     

    Batang Kuantan juga telah menjadi saksi bisu jatuhnya banyak korban Romusha yang terkubur didalamnya, saat itu bumi seakan menangis menyaksikan kejamnya penjajah, sebelum Jepang masuk, jalur kereta api awal mula dirintis oleh Belanda, namun setelah mengalami kekalahan mulailah kerja paksa penjajah Jepang terhadap rakyat Indonesia untuk pembuatan rel kereta api dari Muaro Sijunjung Kabupaten Sijunjung menuju provinsi Riau yang berjarak lebih kurang 220 km. Logas yang saat ini masuk dalam Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten baru di Riau. Pembangunan rel kereta api yang dibangun Jepang bertujuan agar jalur distribusi logistic dan hasil bumi  ke negeri Jepang lewat laut melalui Pelabuhan Teluk Bayur menjadi lebih cepat, dengan harapan Jepang lama berkuasa di Indonesia maka akan digunakan untuk lalu lintas suplai senjata dan hasil bumi yang ada di Riau untuk dibawa ke Sumatera Tengah. Namun kerja Romusha di Durian Gadang hanya berlangsung lebih kurang dua tahun 1943-1945, namun ketika lonceng Jepang menyerah kepada Pasukan Sekutu, maka lokomotif kereta api yang berada di Durian Gadang ditinggal begitu saja. Lokomotif ini sempat beroperasi selama 6 bulan, semenjak di tinggal Jepang digunakan untuk mengangkut para pekerja Romusha dari Logas menuju Muaro Sijunjung dan sebaliknya. Para pekerja Romusha berasal dari pulau Jawa, setelah Jepang kalah mereka menyelamatkan diri masing-masing dan bahkan ada yang menikah dengan warga setempat. Peninggalan sejarah peristiwa Romusha yang masih dapat dijumpai adalah Lokomotif Kereta Api sedangkan jalur rel nya telah berubah fungsi menjadi jalan aspal.

     

    Peristiwa lain yang terekam dalam sejarah Batang Kuantan adalah runtuhnya bukit Ompangan pada tahun 1968 menyebabkan aliran Batang Kuantan tertutup sehingga aliran air Silokek dan Durian Gadang mengecil, dan masyarakat menyaksikan fenomena ini dengan keheranan, melihat ikan-ikan  terlihat karena air sungai menjadi dangkal namun masyarakat menyadari peristiwa tak lazim ini mengandung marah bahaya, maka berlari lah masyarakat mencari tempat ketinggian guna mengantisipasi datangnya galodo yang akan menerjang kampung mereka, kesadaran masayarakat suatu saat air besar akan datang orang Durian Gadang menyelamatkan diri pergi ke tanah lapang Ranah Pinjaro Jorong Koto Mudiak, sementara di daerah mudik air Batang Kuantan merendam sebagian besar wilayah Muaro hingga konon saat itu gedung kantor bupati hanya tampak atap dan warga sekitar mengungsi ke daerah ketinggian salah satunya di Bukit Gadang tempat sekarang “Hotel Bukik Gadang”. Berdiri. Kejadian tidak berlangsung lama karena pemerintah dengan sigap mencari solusi dengan cara menembak tumpukan runtuhan dari atas helikopter, penambakan dilakukan secara bertahap agar aliran air mengalir sedikit demi sedikit sehingga Silokek Durian Gadang terhindar dari banjir bandang. Peristiwa ini terekam kuat dalam dalam memori kolektif masyarakat yang hidup disepanjang Aliran Batang Kuantan.

     

    Sejarah juga mencatat di  sungai Batang Kuantan ini  juga menjadi saksi terbaliknya perahu yang ditumpangi Geolog muda asal Belanda dalam ekpedisinya mencari sumber-sumber mineral. Peristiwa naasnya yang menimpa Willem Hendrik de Greve dengan terbaliknya perahu kayu yang ditumpanginya di arus deras Sungai Batang Kuantan menjadikan perjalanan itu menjadi perjalanan terakhirnya. Beliau dimakamkan di Jorong Koto Hilia Nagari Durian Gadang Kecamatan Sijunjung masyarakat sekitar menyebutnya kuburan Mondugh/Mandor. “Hier rust de mijn ingenieur W.H. de Greve den 22’’ october 1872 door een onggelekkig toeval alhier omgekomen R.I.P’’ ( Disini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H de Greve. Meninggal ditempat ini karena kecelakaan pada 22 oktober 1872). Demikian kalimat yang terukir di nisan de Greve yang saat ini oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung  telah ditetapkan menjadi Situs Cagar Budaya.

     

    Selain memiliki banyak peristiwa sejarah Batang Kuantan merupakan sumber penghidupan masyarakat, kekayaan sumber daya mineral dan biota air yang begitu melimpah hal ini ditandai dengan aktifitas masyarakat yang banyak dilakukan di sungai seperti menambang emas disepanjang aliran sungai dengan menggunakan alat tradisional yang terbuat dari kayu yang disebut dulang. Aktifitas keseharian masyarakat di sepanjang sungai ini melahirkan sebuah karya seni sebuah tarian bernama Tari Mandulang Ameh dari Silokek gerakannya menyerupai cara mendulang emas. Selain itu geliat kehidupan masyarakat Nagari Muaro yang mencari nafkah dengan cara menjala ikan di sungai Batang Kuantan juga diaktualisasikan melalui kesenian tradisi bernama Tari Jalo. Fungsi lain bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Batang Kuantan selain sebagai jalur transportasi juga sebagai tempat  pelaksanaan acara Turun Mandi dalam rangka upacara penyambutan lahirnya seorang bayi ke dunia serta memberi informasi kepada masyarakat sekitar telah ada anggota baru dalam keluarga tersebut dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Di arah mudiak Batang Kuantan, tepatnya di Nagari Padang Laweh terdapat juga kisah klasik yang menjadi Traktat perjanjian dikenal dengan “Sumpah Satiah” bahwa orang Padang Laweh tidak akan dimangsa oleh harimau sepanjang tidak melanggar norma kesusilaan dan adat, didasari kisah hanyutnya anak harimau di Batang Kuantan yang kemudian diselamatkan oleh Datuak Bandaro Bayang, hingga saat ini masih diwarisi dan dipercayai oleh masyarakat setempat. Seni dan tradisi yang saat ini masih dilestarikan merupakan warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh warga yang hidup dan berinteraksi dengan sungai Batang Kuantan.

     

    Secara fisik di sepanjang aliran Batang Kuantan juga memiliki kekayaan geologi, hal ini dapat dilihat tepat dibawah Jembatan Sangkiamo Nagari Silokek, terdapat hamparan batuan beku dan batuan Granit yang telah diteliti berusia 250 juta tahun. Batu Granit adalah salah satu dari jenis batuan beku dalam. Batuan granit terbentuk melalui pendinginan magma yang terjadi dalam bumi memiliki sifat asam dan tekstur kasar. Batuan granit berwarna terang seperti abu-abu, cokelat, atau kemerahan. Batu granit bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia karena kuat banyak digunakan untuk bahan konstruksi. Kekayaan Flora dan Fauna di kawasan ini seperti Bunga Anggrek hutan dengan bermacam jenisnya dijumpai bahkan Anggrek Hitam yang konon hanya dijumpai di Papua juga pernah ditemukan disini, bermacam spesies burung, kupu-kupu, primata dan hewan air mendiami kawasan di sepanjang Batang Kuantan ini

     

    Menggali kembali peristiwa sejarah pada masa lampau bukan hanya untuk menjadi pengingat namun juga mengajarkan berbagai bentuk pengalaman, sehingga mengetahui sejarah sangat penting bagi kita agar dapat mengenal akar sejarah dan kita adalah hasil dan pencapaian dari peristiwa sejarah. Penggali jejak masa lampau menjadi dasar lahirnya kebijakan dalam memberikan apresiasi dan sikap terhadap berbagai peninggalan sejarah dan budaya. Memberikan penghargaan sangat dibutuhkan karena dengan adanya sikap ini dapat meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat luas bahwa peninggalan tersebut memiliki nilai sejarah yang begitu besar, pelestarian peninggalan sejarah harus melibatkan masyarakat setempat dalam menjaga dan merawat serta keterlibatan pemerintah daerah dalam membuat undang-undang daerah tentang pelestarian peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah juga dikelola secara berkelanjutan, sehingga dapat memberikan informasi bagi pengunjung dan meninggatkan perekonomian bagi masyarakat.

     

    Batang Kuantan hari ini merupakan salah satu bagian penting dari keelokan Kawasan utama Geopark Ranah Minang Silokek, sungai yang membelah Bukit Barisan sehingga mengekpos lapisan perut bumi ditepi kiri kanan sungai, memunculkan beragam jenis bebatuan purba dan menyimpan kekayaan hayati menjadikan kawasan ini menjadi pusat kunjungan ditambah lagi Batang Kuantan juga menjadi salah satu venue tempat dilaksanakannya olahraga Arung Jeram bahkan kegiatan kompetisi tingkat Internasional yang diikuti oleh tim lokal dan mancanegara pernah diselenggarakan di arus yang deras, jeram yang curam dengan tingkat kesulitan mencapai level 5 ini.

     

    Batang Kuantan dengan segala  potensi yang terdapat didalamnya memang membutuhkan perhatian dari semua pihak. Banyaknya peninggalan sejarah dan budaya perlu dipelihara dan dilestarikan sehingga peninggalan sejarah tersebut nantinya mampu bercerita sesuai dengan perjalanan waktu. Sebagai kawasan yang memiliki banyak tinggalan sejarah membutuhkan pengayoman dan dijadikan sebagai asset daerah karena merupakan ciri  suatu daerah yang dapat dikembangka menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang dapat menunjang promosi daerah. Peninggalan sejarah tentunya bermanfaat untuk dipelajari baik dari sisi historis, nilai sosial, nilai budaya dan nilai kearifan lokal. Melestarikan dead monument dan living monument tiap-tiap bagian sejarah dan budaya yang pernah hidup perlu dilakukan dalam upaya memberikan tapak-tapak sejarah kepada generasi muda sekaligus memperkaya khazanah budaya sebagai penunjang Geopark Silokek. Dan tak kalah pentingnya mengembalikan ekosistem di sepanjang Batang Kuantan, yang rusak disebabkan penambangan emas di sepanjang hulu sungai termasuk anak-anak sungainya ditambah lagi sampah-sampah rumah tangga  yang terbawa hanyut dari seluruh daerah yang dilalui anak-anak sungainya menumpuk disepanjang aliran Batang Kuantan. Yang membuati habitat air seperti ikan tapa ,kan gariang, ikan mansai, ikan patin  yang menjadi iconnya Batang Kuantan sudah sulit didapatkan oleh pecandu mancing yang dulu sering datang dari berbagai daerah bahkan camping di sepanjang aliran sungai.

     

    Batang Kuantan tentu akan tetap mengalir dan menyaksikan cerita, tapi alirannya akan berbeda sesuai perlakuan dan cerita kita terhadapnya..

     

     

    Durian Gadang, 18 November 2022

     


    Yelmi Yuspita Rasi

     

     

     

     

     

     

     

     

    Praktisi Wisata Serentak Gelar Kolaborasi Rangkaian Peringatan Hari Air Sedunia Bersama CCAI

    Lampung Selatan - Hari Air Sedunia diperingati pada tanggal 22 Maret setiap tahunnya. Tema tahun ini yaitu,  “Valuing Water’” yang kemudian diadaptasi dalam tema Indonesia bertajuk ‘Menghargai Air, Menjaga Keberlanjutan Kehidupan’.

     

    Peringatan Hari Air Sedunia 2021 di Lampung Selatan diwarnai dengan aksi penanaman pohon dan pembuatan lubang biopori yang dipusatkan di Kebun Edukasi yang berada di Areal Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan, Rabu 31 Maret 2021 melibatkan para pemangku kepentingan dengan jumlah peserta terbatas dan tetap mematuhi pada protokol Kesehatan.

    Acara rangkaian peringatan Hari Air Sedunia diinisiasi oleh Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI) bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan merupakan wujud kolaborasi bersama dengan para praktisi dunia parawisata.

    Kegiatan virtual menanam pohon dan membuat lubang biopori digelar serentak dari berbagai tempat berbeda melibatkan berbagai kalangan dunia usaha dari beberapa industry manufaktur a.l, NPA, CCAI, sedangkan dari Industri Perhotelan ada Grand Elty Krakatoa Resort , Novotel Bandar Lampung, Sheraton Hotel, Swiss Bell, Emersia Hotel, Hotel Kurnia, Bukit Randu Hotel, Sekolah Alam Lampung, dan 7 sekolah di Desa Sukanegara

    Hadir dalam kesempatan ini Pelaksana harian (Plh) Asisten Bidang Ekobang Pemkab Lampung Selatan, Muhadi, S.Sos, MM, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Feri Bastian, Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, Bibit Purwanto, Manufacturing Manager CCAI SSO Lampung, Teguh Widodo, dan Ketua Lampung Investment and Tourism Board, Valentina Yuliana.

    Dalam sambutannya Muhadi berharap, melalui peringatan Hari Air Sedunia, dapat mengingatkan masyarakat tentang rasa tanggung jawab akan pentingnya menjaga, mengelola, dan memanfaatkan air di lingkungan sekitar dengan bijak. “Perlakukan sumber air yang kita miliki sebagai suatu kebutuhan pokok. Sehinggasumberdaya air tetap terjaga kelestariannya,” kata Muhadi.

    Yayan Sopian CA Regional Manager Coca-Cola Amatil - West Indonesia dalam keterangan persnya menyatakan, “Inilah momen yang tepat untuk mengingatkan kembali kita semua akan pentingnya menghargai dan menjaga air di bumi sebagai tempat kita menjalani kehidupan. Melalui rangkaian kegiatan ini kami mengajak kita melihat dan mulai menghargai air sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi. Rangkaian peringatan Hari Air Sedunia hari ini akan ditandai dengan penanaman 100 bibit pohon durian dan pendistribusian bor biopori sebanyak 45 batang serentak di berbagai tempat dengan lebih banyak lubang biopori yang akan dibuat oleh para volunteer atas dasar kesadaran pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan ketersediaan air di masa depan.

    Wagub Audy : Pariwisata Mentawai 3T, Terindah, Terbaik dan Ternama


    Tuapejat
    - Terkait pernyataan Bupati Kepulauan Mentawai yang menyebut Mentawai 3T sebagai Daerah Terluar, Tertinggal dan Terbelakang, namun Wagub Sumbar Audi Joinaldi punya keyakinan pariwisata Mentawai 3 (tiga) T, Terindah, Terbaik dan Ternama. Saya amat tertarik dan melihat sesuatu yang luar biasa di kepulauan Mentawai dengan potensi wisata luar biasa yang di miliki Sumatera Barat dalam menarik para wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik nusantara. 

    Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy dalam pembukaan Rakor Dispar Kabupaten/Kota se Sumbar, di Aula Bappeda Pemkab Kepulauan Mentawai, Selasa, 23 Maret 2021.

    Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua BKOW Sumbar Ny. Fitriani Audy Joinaldy, Bupati Yudas Sabagalet, Wabup Kortanius, Ketua Tim Penggerak PKK Kepulauan Mentawai Ny. Rosmaida Yudas, Forkopimda Mentawai, Kadis Pariwisata Sumbar, Novrial, Kepala BPBD Sumbar Erman Rahman, Sekdakab Mentawai, Kepala Dinas Pariwisata se Sumbar, para Asisten dan beberapa kepala OPD di lingkup Pemkab Kepulauan Mentawai.

    Lebih lanjut Wagub Sumbar mengatakan, luas wilayah Sumatera Barat 42.297,30 kilometer persegi lebih luas dari pada luas wilayah provinsi Jawa Barat yang padat penduduk dengan 35.377,76 kilometer persegi. Namun luas wilayah Sumbar lebih di dominasi dengan wilayah perairan dan ada 6.000 kilometer persegi itu kepulauan Mentawai yang tidak terpisahkan.

    "Ada penduduk kita di daerah perairan kepulauan Mentawai yang juga butuh diperhatian, pembangunan sosial, budaya dan kesejahteraan dalam kemajuan Sumatera Barat dan di sini ada sesuatu potensi wisata yang dapat memajukan perekonomian Sumatera Barat secara umum. Untuk semua itu kita semua memiliki kewajiban membangun nilai-nilai positif yang membuat orang dan siapa saja mau datang menikmati wisata, kuliner dan produk UMKM lainnya," ujar Audy.

    Audy juga katakan, ada program dan kegiatan dalam RPJMD Sumbar 2021-2024 menetapkan destinasi unggulan per kabupaten dan kota di Sumbar. Dan satu unggulan yang mampu dikembangan sebagai wisata dunia. 

    "Saya mungkin nanti akan membawa investor-investor untuk melihat potensi wisata Mentawai ini. Mana tahu ada yang nyangkut untuk memajukan pembangunan sebuah dermaga besar yang mampu kapal-kapal internasional bisa bersandar di Kepulauan Mentawai. Ini sesuatu kerja besar besama-sama membangun daya tarik wisata Mentawai agar lebih maju untuk dikunjungi para wisatawan," ujarnya. 

    Audy juga menyampaikan, Bupati bilang ada jumlah 300 an juta penduduk Indonesia saat ini, dan 250-an juta pergerakan orang berwisata domestik nusantara. Kita perlu menciptakan pergerakkan wisata domestik itu ada jatah kue kunjungan wisata nusantara ada dinikmati Mentawai.

    "Kemajuan dan keinginan orang datang berwisata tidak selalu ada hubungannya dengan infrastruktur wisata. Contoh wisata Raja Ampat, transportasi mahal dan  di lokasi malam ada kegelapan, toh orang ramai juga datang. Tentunya  perlu jadi perhatian kita bersama yang paling penting dalam pengembangan pariwisata ada 2 point kebersihan dan kemudahan pelayanan yang berkesan baik untuk kembali datang," ujarnya. 

    Untuk kemajuan pariwisata Sumbar, Audy tegaskan perlu pemikiran  bersama Kepala Dinas Pariwisata se Sumbar, pihak-pihak pelaku pengembang wisata dan lain-lain, bagaimana menciptakan suasana yang bersih, nyaman dan pelayanan memberikan kesan baik untuk orang datang kembali mengunjungi lokasi wisata tersebut.    

    "Rakor pariwisata ini menjadi sangat bermakna karena materi-materi yang dibahas sangat sejalan dengan pemikiran Gubernur dan Wakil Gubernur disaat kampanye dulu, yang tentunya akan dilaksanakan dalam periode pemerintahan ini. Saya juga mengingatkan kepada para pelaku pariwisata dan masyarakat agar selalu memberikan "positive vibes" dan "excellent services" bagi para wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat, agar meninggalkan kesan yang baik untuk memotivasi mereka kembali lagi," ujar Wagub Audy. 

    Bupati Mentawai Yudas Sabagalet dalam kesempatan itu juga menyampaikan apresiasi pelaksanaan Rakor Kepariwisataan ada di Kepulauan Mentawai. Jika perlu setiap kegiatan rakor Sumbar di bawa ke Mentawai, kami akan berikan layanan sebagai maksimal yang kami miliki. 

    "Bagi peserta rakor berharap silahkan sampaikan segala potensi keindahan, keelokan Mentawai di manapun berada, namun jika ada pelayanan atau hal-hal yang kurang cukup kita bicarakan di Mentawai ini saja. Kemajuan Mentawai juga kemajuan Sumatera Barat karena Mentawai bahagian dari Sumatera Barat," ujarnya.

    Yudas katakan dalam kondisi saat ini, Mentawai tidak seburuk tagline 3T yang dibayangkan banyak orang. Namun Mentawai saat ini telah maju menjadi daerah berkembang dengan fokus pembangunan difokuskan pada sektor Pariwisata. 

    "Kita yakin dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata Kepulauan Mentawai akan lebih cepat maju dan sejahtera. Karena kita tahu kota Sawahlunto yang hanya mengandalkan pariwisata tingkat kemiskinan hanya 2,17 persen . Ini pertama pariwisata sesuatu yang menjanjikan kemajuan sebuah daerah," ungkapnya.

    Kadispar Sumbar Novrial menjelaskan bahwa Dispar Sumbar berkomitmen untuk mengadakan Rakor bergiliran di seluruh Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat. Sepanjang tahun 2020 Dispar Sumbar telah melaksanakan empat kali  Rakor yang diselenggarakan bergiliran di Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan.

    "Untuk tahun 2021, Rakor di Mentawai ini adalah yang ke-2 (dua). Rakor pertama di tahun 2021 diadakan di Kota Pariaman beberapa waktu lalu yang khusus membahas Desa Wisata", terang Novrial.

    Novrial juga katakan saat ini salah satu fokus utama adalah bagaimana mengubah "Image" Mentawai yang selama ini terkesan sebagai destinasi wisata exclusive hanya untuk wisatawan mancanegara dan surfer/peselancar saja dan masih banyak wisatawan domestik potensial yang beranggapan belum tersedianya fasilitas yang memadai dan sulitnya transportasi dari dan ke Mentawai.

    "Materi acara Rakor Kepariwisataan biasanya hanya khusus membahas satu topik saja. Namun khusus di Rakor Mentawai kali ini dibahas kegiatan kepariwisataan Sumbar pada tiga topik yaitu Wonder Events, Roadmap Ekonomi Kreatif dan Potensi Daya Tarik Wisata Unggulan (DTWU) Provinsi Sumatera Barat," ujarnya. (*)

    Gubernur Irwan Prayitno Bersepeda Santai Nikmati Wisata Kota Padang

    Padang - Bersepeda santai si sore hari bersama keluarga, teman dan sahabat di Kota Padang sungguhlah amat menyenangkan. Kota Padang yang imdah dengan alam pantai dan kota tuanya menjadi tempat lokasi bersepeda yang nyaman.

    Begitu juga Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno bersama teman dan staf terdekat melakukan olahraga bersepeda santai di sore hari sambil melihat secara langsung kehidupan masyarakat Kota Padang dimasa pendemi Covid-19 saat ini.

    "Keindahan dan kenyaman di Kota Padang cukup membuat kita merasa senang apalagi sambil berolahraga sepeda santai dan berolahraga teratur tentunya dapat meningkatkan daya imun tubuh kita dimasa pandemi covid-19 ini," ungkap Irwan Prayitno di sela-sela olahraga bersepada santai sore hari di Kota Padang, Minggu 26 Juli 2020.

    Gubernur Sumbar sempat juga memperhatikan kegiatan aktifitas masyarakat di lokasi wisata pantai Padang dan beberapa tempat dan melihat masih ada masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan dalam antisipasi penyebaran virus corona. 

    "Kita telah melakukan berbagai sosialisasi tentang penting disiplin protokol kesehatan jika keluar rumah, namun kelihatan masyarakat kurang peduli pada dirinya jika ditanya mereka sudah tahu. Kondisi ini tentu butuh kebijakan yang mendorong masyarakat untuk melakukan dengan memberikan sanksi. Dan saat ini pemprov Sumbar bersama DPRD Sumbar sedang memproses perda tersebut bagaimana disiplin orotokol kesehatan menjadi bagian kehidupan masyarakat dimasa pandemi covid 19 ini," jelas Irwan Prayitno.

    Irwan Prayitno menegaskan virus corona ini belum akan berakhir sebelum ada obat dan vaksin yang bisa menghentikan Covid+19. Karena itu suatu keniscayaan masyarakat kita abai dengan disiplin protokol kesehatan. 

    "Saat ini kita patut bersyukur dengan pengelolaan 4 strategi, testing, tracing, isolasi dan treatment, telah mampu mengendalikan pengenyebaran Covid-19. Namun semua itu tidak akan berjalan maksimal jika masyarakat mengaabaikan disiplin protokol kesehatan. Akan ada terus tumbuh pasien yang positif, kapan daerah kita akan menjadi zona hijau yang menyenangkan?  Jika perilaku masyarakat tidak peduli protokol kesehatan," ajaknya.

    Gubernur Irwan Prayitno bersepeda santai minggu sore ini bersama rombongan, meninjau para pengunjung wisata di sepanjang pantai padang.  Dengan rute dari kediaman - Kawasan GOR H Agus Salim - Danau Cimpago- Pantai Padang- Kota Tua - Pondok - Pantai Padang - Kediaman. 

    "Bagi para wisatawan dan siapa ingin tahu betapa indah pariwisata Sumatera Barat, berolahraga sepeda santai bersama keluarga, teman dan sahabat akan terasa nikmat dan nyaman bersama keindahan alam dan enaknya kuliner yang lezat. Jika tidak percaya cobalah!" tantangnya. (zrd)

    35 Event Ramaikan Wisata Sumbar Tahun 2020


    Padang - Pembangunan kepariwisataan bagi Sumatera Barat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam memacu peningkatkan kemajuan sektor ril pembangunan ekonomi daerah dan masyarakat terutama dilokasi wisata.

    Untuk menumbuhkan aktifitas wisata tersebut pemerintah Provinsi dan Pemkab /ko se Sumatera Barat telah menetapkan 35 event wisata selama tahun 2020 yang menarik dan layak dikungjungi semua orang sekaligus juga dapat menikmati indahnya, alam, budaya dan nikmat lezatnya kuliner Sumatera Barat yang beraneka ragam dimasing-masing daerah.

    Hal ini disampaikan Kepala Dinas Periwisata Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Novrial, SE.MA.Akt, disela-sela kesibukannya hari ini,  Sabtu 11 Januari 2020.

    Lebih jauh Novrial sebutkan,  event-event yang akan menjadi fokus Dinas Pariwisata Sumbar di tahun 2020 adalah 3 event yang sudah masuk calender of event wonderful of indonesia, yaitu Tour de Singkarak (TdS) , Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCA) di Sawahlunto pada bulan September dan Pesona Minangkabau Festival di Batusangkar pada bulan Desember.

    " Selain dari itu Dispar juga akan mendukung 3 event nasional yang akan dilaksanakan di Sumbar, pertama Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke XXVIII , Penastani ke XVI dan Harganas, serta event-event kabupaten dan kota yang sudah disusun sebagai Calender of Event Sumbar 2020", ungkapnya.

    Kadispar Sumbar itu juga katakan,  target kunjungan wisatawan tentunya diharapkan meningkat. Misalnya dalam acara MTQ, Penastani dan Harganas sekiranya bisa kita kemas dengan baik, apakah bentuk promosinya dan agenda kegiatan yang jelas tentu akan berdampak orang ingin datang meramaikan.

    "Disamping itu peserta yang diperkirakan akan mencapai 100 ribuan orang, tentu juga akan berdampak luas wisatawan nusantara khususnya para perantau yang akan menikmati event - event tersebut disamping tujuan sosial melihat sanak keluarga serta menikmati objek dan atraksi wisata bisa mencapai 1 juta orang", terang Novrial.

    Novrial juga ungkapkan,  dalam kemajuan dunia kepariwisataan, jumlah kunjungan wisatawan tentunya bukan satu-satunya indikator kemajuan pariwisata, namun juga lama tinggal dalam arti menikmati objek dan atraksi, serta jumlah uang yang beredar.

    "Diharapkan meningkat uang yang beredar bisa lebih baik karena banyak orang akan belanja kuliner tradisional, fashion lokal dan cendramata/oleh-oleh berupa produk-produk ekonomi kreatif (ekraf) Sumbar yang tentu akan membuat ekonomi masyarakat akan bergairah", ujarnya.

    Novrial juga katakan, saat ini Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kab. Pessel, Kab Tanah Datar, Kab Limapuluh Kota dan Kota Sawahlunto masih menjadi destinasi favorit wisatawan, namun beberapa daerah lain juga sudah mempersiapkan diri pula secara optimal seperti Kabupaten Agam, Kota Pariaman, Kab Solok, Kab Kepulauan Mentawai dan daerah - daerah lainnya yang menjadi variasi pilihan destinasi dengan spesifikasi lokal masing-masing.

    "Masyarakat harus merasa bahwa sektor pariwisata benar-benar memberikan keuntungan secara materi kepada mereka. Apakah dari penjualan jasa hotel/ homestay, rumah makan/ restoran, pramuwisata, penjualan produk ekonomi kreatif sebagai oleh-oleh dan lain sebagainya. Oleh karena itu dari sisi Dispar, sentuhan yang akan terus diberikan adalah pelatihan / sosialisasi sadar wisata yang ditambah dengan konten komparasi apa yang dilakukan daerah seperti masyarakat di nagari-nagari wisata atau desa-desa yang sudah maju di pulau Jawa dan Bali", harapnya.

    Novrial juga tegaskan, akan selalu melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi  serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dioptimalkan demi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peluang dan manfaat ekonomi yang akan mereka dapatkan dari pariwisata.

    "Pontensi besar sektor pariwisata yang dimiliki Sumatera Barat dengan segala keindahan dan aneka ragam keunikannya, hendaknya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan masyarakat. Masyarakat diharapkan secara aktif dan partisipatif ikut serta menjaga iklim wisata yang sehat, aman dan nyaman bagi setiap orang", himbau Novrial. (zrd)

    Bupati Yuswir Arifin Serahkan Bantuan dari BCA kepada Pokdarwis Silokek


    Sijunjung (Sumbarkini.Com) - Bupati Sijunjung, Yuswir Arifin serahkan bantuan dari Bank Central Asia (BCA) kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Silokek setelah pelaksanaan Upacara Bendera dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke -90 tahun 2018, dilaksanakan di Lapangan Sepakbola Prof.M.Yamin, SH Muaro Sijunjung, Senin 29 Oktober.

    Bantuan yang diserahkan tersebut berupa 25 buah Helm, 25 buah Senter Gua dan 25 pasang sepatu bot. Hadir pada acara tersebut Wakil Bupati Sijunjung Arrival Boy, Ketua DPRD, Yusnidarti, Sekretaris Daerah, Zefnihan,AP.M.Si, Unsur Forkopimda, Ketua Pengadilan Negeri Muaro dan Ketua Pengadilan Agama Sijunjung.


    Bantuan yang diserahkan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Silokek yang terdiri dari pemuda kreatif dan inovatif ini adalah untuk memajukan wisata di Silokek dan Sijunjung pada umumnya.

    "Alat yang diserahkan tersebut nantinya akan digunakan untuk memandu wisatawan yang berkunjung dan masuk kedalam goa silokek," kata salah seorang anggota Pokdarwis Silokek, Rubis Arlando kepada media setelah menerima bantuan tersebut.


    "Perlengkapan yang di terima oleh Pokdarwis ini, nantinya akan dipakaikan bagi wisatawan, karena ini adalah salah satu perlindungan keamanan bagi wisatawan kala berkunjung ke dalam goa di Silokek nantinya," terang Rubis.


    Mahasiswa STTIND Belajar ke Silokek Agar Lulus Kuliah

    Sijunjung (sumbarkini.com) - Untuk melengkapi persyaratan lulus mata kuliah
    Geowisata Tambang, Mahasiswa / Mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Industry (STTIND) Padang melakukan perjalan geowisata tambang ke kawasan Geopark Silokek, di Kabupaten Sijunjung, Minggu (15/7/2018)

    Untuk itu, " Mahasiswa diminta untuk melakukan  identifikasi geologi seperti geomorfologi, litologi dan struktur geologi. Identifikasi GEOSITE disetiap STOP SITE yang disinggahi dan mengambil koordinatnya, mengambil dokumentasi, dan berdiskusi dengan pengelola atau warga sekitar", kata Dian Hadiyansyah melalui pesan WhatsAap nya, Kamis (19/7).

    Peserta yang berjumlah 50 orang ini datang ke Geopark Silokek didampingi oleh dosen pembimbing yaitu, Dian Hadiyansyah ST.,MT, Riam Marlina ST.,MT  dan Ahmad Fadhly ST.,MT, sambung Dian.

    Rombongan ini memulai Perjalanan menggunakan 2 bus pariwisata pukul 07.30 Wib dari Kota Padang dan sampai di Silokek pukul 10.30 Wib.

    Kenapa dipilih lokasi di Geopark Silokek ini, karena Silokek merupakan kawasan geopark yang terletak di formasi kuantan dan jalur sesar naik, formasi batuan pada umumnya adalah batuan gamping atau yang juga dikenal sebagai batu kapur dan juga terdapat batuan pasir , kata Dian Hadiyansyah.

    Dijelaskannya bahwa, Diperkirakan umur batuannya berkisar antara 265 – 360 juta tahun yang lalu. Serta di Silokek tersebut juga terdapat sungai dengan nama sungai batang kuantan, dan air tersebut mengalir sampai ke daerah Provinsi Riau.

    Geopark Silokek -Sijunjung memiliki banyak stop site yang bisa dikunjungi, antaranya adalah Ngalau Basurek, Pasir Putih, Air Terjun Batang Tae, Jembatan Sangkiamo, Ngalau Talago, Pulau Laan, Air terjun palukahan, Ngalau sipungguak, Ngalau batang lansek, Ngalau aie angek dan beberapa kawasan yang meliputi kekayaan bioherritage, culture herritage seperti kampung adat sekitar lokasi geopark silokek-sijunjung.

    Situasi dan kondisi lapangan yang cerah  membuat mahasiswa semangat berjalan menuju lokasi geopark silokek dari gerbang utama dengan menikmati sajian alam yang ditawarkan dari pesona alam silokek yang bisa disebut silokek sebagai warisan alam yang terletak di jalur patahan sumatra.

    Hal ini, membuat silokek semakin terlihat eksotis dengan keragaman alam, flora fauna sepanjang mata memandang dengan budaya yang masih kental dengan keanekaragamannya.

    Ngalau Basurek merupakan sebuah gua yang didalamnya terdapat banyak Stalaktit dan Stalakmit yang bagus sehingga membuat gua tersebut berkesan dan indah.

    Sedangkan diluarnya terdapat taman yang cantik sehingga disana dapat beristirahat dengan nyaman karena di depan gua juga terdapat aliran sungai batang kuantan yang membuat suasananya menjadi lebih tenang dan nyaman.

    Disini mahasiswa dapat beristirahat untuk Sholat, makan, mengamati dan mengambil gambar untuk dokumentasi, serta bisa berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar, terang Dian.

    Setelah selesai di ngalau basurek dan berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar, mahasiswa lanjut ke stop site berikutnya yaitu Pasir Putih, sesuai dengan namanya pasir disana memang berwarna putih.

    Disungai ini para pengunjung bisa melakukan arung jeram bagi yang suka dan ingin menguji Adrenaline-nya. Sama dengan hal sebelumnya mahasiswa diminta untuk mengamati dan mengambil gambar untuk dokumentasi, serta bisa berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar.

    Setelah selesai mengamati di pasir putih, puas bermain, dan bersantai mahasiswa bersiap untuk pulang karna waktu juga sudah sore, dengan menggunakan mobil yang disewa tadi untuk mengantarkan ke tempat bus yang digunakan sebelumnya, tambah dian.

    " Pesona alam silokek sangat membekas bagi kami semua sehingga sulit sekali meninggalkan kawasan geopark ini, Alam mengajarkan kami disaat kita merawat dan menghargai alam tersebut, alam tersebut akan memberikan hal yang tidak kita sadari dengan kekayaanya yang luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT dengan alam geopark silokek yang berdampak bagi masyarakat sekitar," ucap Dian, yang juga temasuk Tim Geopark Ranah Minang ini. (andri)

    Rayakan Kemenangan Mahyeldi-Hendri, Warga Berwisata ke Pulau Sironjong

    Padang (sumbarkini.com) - Kemenangan telak Mahyeldi-Hendri Septa pada Pemilhan Kepala Daerah 27 Juni lalu, mendatangkan kegembiraan tersendiri bagi warga Belanti Permai Indah I Padang. Mereka sempat euforia dan berencanakannya dengan menikmati wisata ke Pulau Sironjong.

    "Kami berwisata ke Pulau Sironjong sebagai wujud kegembiraan kami suksesnya pilkada di Kota Padang dan terpilihnya Mahyeldi-Hendri untuk memimpin Padang lima tahun ke depan. Terpenting dari semua itu untuk meningkatkan silaturahmi dan merekat kembali persaudaraan usai pilkada ini," ujar Ketua Rombongan Wisata Warga Belanti Permai I Belakang Transmart Padang, Syafri B. SH, Sabtu 14 Juli 2018.

    Syaiful Bahri menjelaskan, warga memutuskan untuk pergi ke Pulau Sironjong. Selain menikmati suasana, warga ingin menyalurkan hobi memancing.



    "Kami menyewa perahu dan penginapan di sana agar bisa lebih leluasa berwisata dan menyalurkan hobi," tegasnya.

    Dia pun mengakui banyak warga yang pada awalnya menyatakan diri untuk ikut ke sana. Namun lantaran kesibukan dan kegiatan mendadak yang harus dilakukan, hanya belasan orang yang akhirnya tetap memutuskan untuk pergi.

    Mereka khawatir jika ditunda juga kepergian tersebut, bisa-bisa rencana wisata itu gagal total. 

    "Bagi kami, Pak Rivolino Yakub yang biasa kami panggil Pak Ujang dan Pak Awe yang sangat pandai memasak bisa ikut, acara pasti meriah," ujar Syaiful.

    Seperti apa kegiatan mereka di sana?? Ikuti terus sumbarkini.com (zul)

    Ada Batuan Berusia 359 Juta Tahun di Silokek

    Sijunjung (sumbarkini.com) - Ternyata di Kawasan Wisata Geopark Silokek, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, terdapat batuan tua yang berumur 359 juta tahun yang lalu, yang terdiri dari Kelompok Batu Gamping (Karst), Batuan Sendimen, Batuan Metamorf dan Intrusi Granit.

    Hal ini disampaikan oleh Ahli Geologi dari Dinas ESDM Sumatera Barat yang tergabung dalam Tim Geopark Ranah Minang, Dian Hadiyansyah ST, MT, pada saat menjadi Narasumber dalam acara  Penyusunan Master Plan Geopark Silokek, di Imelda Hotel Waterpark Convention Center dari Jum'at hingga Senin 6 s/d 9 Juli 2018 beberapa waktu yang lalu.

    Di hadapan Sekretaris Daerah, Zefnihan, AP, M.Si dan Tim dari Geopark Ranah Minang lainnya terdiri dari Dr.Ir.Febrin Anas Ismail, MT,  Dr.Fauzan, ST, MSc.Eng, Prof.Dr.Ir. Abdul Hakam, MT,  Dr. Drs.Tesri Maideliza.M.Si, M.Sc,  Dr.Bayu Martanto Adji, ST.MT,   Ahmad Fadhly,ST, MT dan peserta lainnya.

    Dian menyampaikan bahwa, "Kawasan rencana pengembangan Geopark Silokek Kabupaten Sijunjung secara geologi memiliki potensi yang luar biasa karena telah melewati 3 (tiga) Era dalam Skala Waktu Geologi, yang tercermin dalam susunan batuan yang membentuk kawasan," katanya.

    Dijelaskanya bahwa batuan tertua di kawasan ini berumur 359 Juta Tahun yang lalu terdiri dari kelompok batu gamping (karst), batuan sedimen, batuan metamorf dan intrusi granit. 

    "Keanekaragaman batuan ini bisa menjadi icon untuk Silokek sehingga kawasan ini tidak kalah dengan Geopark Nasional Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah ", ucapnya.

    Potensi geologi yang tak kalah menariknya di Silokek adalah tebing vertikal karst elok (tinggi lebih 70 meter) sebagai hasil dari proses geologi patahan (tectonic fault) dengan jejak-jejak patahan yang masih terekam dengan baik menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh setiap lapisan wisatawan mulai dari masyarakat awam sampai dengan para peneliti kebumian", sambung Dian. (andri)

    SUMBARKINI

    Merupakan situs yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Pendidikan

    5/pendidikan/feat2