Ketika Pesan Baik Disalahartikan
Oleh: H.Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP.,M.H (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumatera Barat, Riau , Jambi dan Bengkulu) |
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemukan keadaan di mana pesan yang baik disalahartikan. Niat yang tulus dianggap sebagai kritik, nasihat dianggap sebagai celaan, bahkan ajakan kepada kebaikan terkadang dipandang sebagai gangguan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang Mungkar."
(QS. Ali Imran ayat 104)
Ayat ini menunjukan bahwa menyampaikan kebaikan adalah perintah agama. Namun, tidak semua orang langsung menerima kebaikan yang disampaikan. Bahkan para nabi pun mengalami penolakan dan kesalahpahaman dari kaumnya.
Rasulullah SAW ketika berdakwah sering di tuduh sebagai penyair, tukang sihir, bahkan orang yang ingin memecah belah masyarakat. Padahal beliau datang membawa rahmat dan petunjuk. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran tidak selalu langsung diterima oleh semua orang.
Ketika pesan baik kita disalahartikan, jangan terburu-buru marah atau kecewa. Periksa kembali cara penyampaiannya. Bisa jadi isi pesan sudah benar, tetapi cara menyampaikan kurang tepat. Islam mengajarkan agar berdakwah dengan hikmah, kebijaksanaan, dan tutur kata yang baik.
Allah SWT berfirman:
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik."
(QS. An-Nahl ayat 125)
Selain itu, kita juga perlu berbaik sangka kepada sesama. Jangan mudah menilai buruk terhadap niat seseorang yang mengingatkan atau menasihati. Bisa jadi apa yang disampaikan adalah bentuk kasih sayang dan kepeduliannya kepada kita.
Di era media sosial saat ini, kesalahpahaman semakin mudah terjadi. Pesan yang ditulis tanpa ekspresi dan intonasi sering ditafsirkan berbeda oleh pembacanya. Oleh karena itu, sebelum bereaksi, tabayyunlah terlebih dahulu. Pahami maksud sebenarnya dan jangan mudah terprovokasi.
Mari kita menjadi pribadi yang bijak, yang mampu menyampaikan kebaikan dengan santun dan menerima nasihat dengan lapang dada. Sebab tujuan dari setiap pesan baik adalah memperbaiki, bukan menyakiti.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan menerima nasihat dengan hati terbuka.
Salam
LH