Tauhid Dalam Keseharian
Ketika mendengar kata _tauhid_, sering kali yang terbayang adalah pembahasan tentang akidah atau ilmu yang dipelajari di majelis.
Padahal, tauhid bukan hanya untuk dihafal, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Allah berfirman:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama..." (QS. Al-Bayyinah ayat 5)
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh aktivitas seorang mukmin harus dilandasi keikhlasan hanya karena Allah.
Tauhid dalam keseharian tampak dalam hal-hal sederhana.
Pertama, bekerja dengan jujur karena Allah. bukan hanya karena takut kepada atasan atau hukum.
Seorang pedagang tidak mengurangi timbangan, seorang pegawai tidak menyalahgunakan amanah, dan seorang pemimpin tidak berbuat zalim, karena ia yakin Allah selalu mengawasi.
Allah berfirman:
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.* *Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid ayat 4)
Kedua, *bertawakal setelah berikhtiar*. Seorang mukmin berusaha sekuat tenaga, tetapi hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada jabatan, harta, atau manusia.
Allah berfirman:
*"Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah."* (QS. Ali 'Imran ayat 159)
Ketiga, *bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat ujian*. Orang yang bertauhid memahami bahwa semua yang terjadi adalah atas izin Allah. Nikmat tidak membuatnya sombong, dan musibah tidak membuatnya putus asa.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat nikmad ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itupun baik baginya." (HR. Muslim)
Di zaman sekarang tauhid banyak ujiannya.
Jangan sampai kita lebih mencari pujian manusia daripada ridha Allah. Amal yang baik hendaknya dilakukan dengan ikhlas, bukan demi popularitas atau sanjungan.
Tauhid mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah penilaian manusia, tetapi penilaian Allah.
Marilah kita jadikan tauhid sebagai ruh dalam setiap langkah: dalam ibadah, pekerjaan, keluarga, bermasyarakat, bahkan ketika menggunakan lisan dan menggunakan lisan dan media sosial.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas tauhid yang benar, menjauhkan kita dari syirik, riya', dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya.
Salam
LH
