Header Ads

  • Breaking News

    Satu Kata Bisa Menyelamatkan dan Bisa Menjerumuskan

    Oleh : H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH

    (Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu) 


    Pada kesempatan ini, mari kita renungkan sebuah tema sederhana tetapi sangat penting dalam kehidupkan kita, yaitu:
    "Satu Kata Bisa Menyelamatkan dan Bisa Menjerumuskan."

    Sering kali kita menganggap ucapan itu hal biasa. Padahal dalam Islam, setiap kata memiliki nilai dan tanggung jawab. Lidah memang kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an :
    "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra ayat 53)

    Ayat ini mengingatkan kita agar menjaga ucapan. Karena setan sering masuk melalui perkataan yang buruk, yang akhirnya menimbulkan pertengkaran, fitnah, dan permusuhan.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda:
    "Barangsiapa  beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

    Satu kata yang baik bisa menjadi penyelamat. Kata "maaf" dapat meredakan kemarahan. 
    Kata "terima kasih" dapat menguatkan persaudaraan. Kata "sabar" mampu menenangkan hati yang sedang gelisah.

     Bahkan kalimat Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang menyelamatkan manusia dunia akhirat.

    Namun sebaliknya, satu kata juga bisa menjerumuskan. Ucapan kasar dapat menghancurkan hubungan keluarga. Fitnah dapat memecah persaudaraan. Ejekan bisa melukai hati seseorang seumur hidup.

    Kadang seseorang berkata tanpa berpikir, lalu memyesal bertahun-tahun. Karena  luka akibat ucapan sering lebih sulit sembuh dari pada luka fisik.

    Di zaman media sosial sekarang, menjaga ucapan semakin penting. Bukan hanya apa yang keluar dari mulut kita, tetapi juga apa yang kita tulis di WhatsApp, Facebook, Instagram, atau komentar di media sosial.

    Jangan sampai jari-jari kita lebih tajam daripada lidah kita.

    Sebelum berbicara atau menulis, biasakan bertanya:
    * Apakah ini benar?
    * Apakah ini baik?
    * Apakah ini bermanfaat?

    Kalau tidak membawa manfaat, maka diam lebih baik.

    Mari kita jadikan lisan kita sebagai sumber kebaikan:
    * Memperbaiki dzikir
    * Membaca Al-Qur'an
    * Berkata lembut kepada keluarga
    * Memberi nasihat dengan santun
    * Dan menghindari ghibah serta fitnah

    Karena ucapan yang baik akan menjadi amal jariyah, sedangkan ucapan buruk bisa menjadi dosa yang terus mengalir.

    Kiranya Allah menjaga lisan dan hati kita, menjadikan ucapan kita penuh mamfaat, dan menjauhkan kita dari perkataan yang menjerumuskan.


    Salam
    LH

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad