Honda DBL 2026 Sumatera Barat: Dari Lapangan Basket, Lahir Bibit Juara dan Karakter Generasi Muda
PADANG (SUMBARKINI.COM) — Sorak penonton memenuhi GOR Prayoga Padang, Sabtu (22/8/2026), saat rangkaian Honda DBL (Developmental Basketball League) with Kopi Good Day 2026 West Sumatera resmi ditutup. Namun, lebih dari sekadar pertandingan dan perebutan gelar juara, kompetisi ini meninggalkan pesan penting tentang bagaimana olahraga dapat menjadi ruang tumbuh bagi pelajar.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Honda DBL di Sumatera Barat. Menurutnya, kompetisi basket pelajar tersebut tidak hanya menyediakan ruang bagi siswa untuk berkompetisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi lahirnya atlet-atlet potensial sekaligus membangun karakter generasi muda.
“Atas nama Pemerintah Kota Padang, kami sangat mengapresiasi pelaksanaan Honda DBL ini karena menjadi wadah lahirnya bibit-bibit atlet basket yang handal sekaligus memberikan banyak manfaat positif,” ujar Fadly Amran.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara dan pihak sponsor yang terus menghadirkan kompetisi tersebut secara rutin.
Bagi Fadly, keberlanjutan kompetisi seperti Honda DBL memiliki arti lebih luas. Di tengah tantangan yang dihadapi generasi muda, aktivitas olahraga dapat menjadi ruang positif untuk membangun keterampilan, kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas.
“Semoga kompetisi ini terus digelar secara berkelanjutan karena mampu mendorong generasi muda mencintai olahraga, membentuk keterampilan, kedisiplinan, dan sportivitas, serta menjadi sarana positif untuk menjauhkan pelajar dari berbagai perilaku negatif,” katanya.
Partisipasi Sekolah Terus Tumbuh
Besarnya antusiasme pelajar terlihat dari jumlah peserta pada penyelenggaraan tahun ini. Kategori putri diikuti 15 tim SMA sederajat dan 4 tim SMP, sedangkan kategori putra melibatkan 29 tim SMA sederajat dan 8 tim SMP.Angka tersebut menunjukkan bahwa lapangan basket semakin menjadi ruang pertemuan bagi pelajar untuk menguji kemampuan, belajar menghadapi tekanan pertandingan, sekaligus membangun pengalaman bersama sekolah dan rekan satu tim.
Honda DBL sendiri merupakan kompetisi basket pelajar yang digelar di berbagai provinsi di Indonesia. Ajang ini juga menjadi salah satu ruang bagi student athlete untuk mendapatkan kesempatan mengikuti proses seleksi menuju DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Dengan demikian, setiap pertandingan tidak berhenti pada skor akhir. Bagi sebagian pemain, kompetisi tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi di level yang lebih tinggi.
Dalam pertandingan final kategori putri mempertemukan SMA Don Bosco Padang dan Adabiah 2. Don Bosco Padang keluar sebagai juara setelah memenangkan pertandingan dengan skor 49-41.
Sementara itu, final putra menghadirkan cerita berbeda. SMAN 2 Bukittinggi, yang dikenal dengan julukan Singo Radjo, berhasil mengalahkan SMA Don Bosco Padang dengan skor 57-50.
Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri dominasi Don Bosco Padang yang sebelumnya menjadi juara selama tiga tahun berturut-turut.
Bagi para pemain SMAN 2 Bukittinggi, kemenangan itu bukan hanya tentang membawa pulang gelar. Mereka juga menunjukkan bahwa kompetisi yang sehat memberi ruang bagi setiap tim untuk berkembang, menantang dominasi, dan membuktikan kemampuan melalui kerja keras di lapangan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa sebuah pertandingan olahraga dapat menjadi ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Pemain berjuang di lapangan, sementara sekolah, pelatih, suporter, dancer, panitia dan berbagai unsur pendukung lainnya ikut menciptakan pengalaman kompetisi.
Fadly Amran menilai pelaksanaan Honda DBL juga sejalan dengan semangat Program Padang Balomba sebagai bagian dari Program Unggulan (Progul) Padang Juara.
“Pelaksanaan kegiatan ini juga sejalan dengan Program Padang Balomba sebagai aktivasi dari Program Unggulan (Progul) Padang Juara,” ujarnya.
Di balik riuh tepuk tangan dan papan skor, ada pelajaran yang jauh lebih panjang untuk dibawa pulang para pelajar: menang mengajarkan kerendahan hati, kalah mengajarkan evaluasi, sementara proses latihan mengajarkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan.
Karena itu, keberlanjutan kompetisi olahraga pelajar menjadi penting. Bukan semata untuk mencari siapa yang paling unggul hari ini, tetapi untuk memberi lebih banyak anak muda kesempatan menemukan potensi, membangun karakter, dan berani bermimpi lebih jauh.
Dari GOR Prayoga, mungkin sebuah gelar telah berakhir. Tetapi bagi para student athlete, perjalanan untuk menjadi lebih baik justru baru dimulai. (*/zul)
Sementara itu, final putra menghadirkan cerita berbeda. SMAN 2 Bukittinggi, yang dikenal dengan julukan Singo Radjo, berhasil mengalahkan SMA Don Bosco Padang dengan skor 57-50.
Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri dominasi Don Bosco Padang yang sebelumnya menjadi juara selama tiga tahun berturut-turut.
Bagi para pemain SMAN 2 Bukittinggi, kemenangan itu bukan hanya tentang membawa pulang gelar. Mereka juga menunjukkan bahwa kompetisi yang sehat memberi ruang bagi setiap tim untuk berkembang, menantang dominasi, dan membuktikan kemampuan melalui kerja keras di lapangan.
Bukan Hanya Pemain yang Berkompetisi
Semarak Honda DBL juga tidak hanya lahir dari para pemain. Setelah pertandingan final, sejumlah penghargaan diberikan kepada mereka yang turut membangun atmosfer kompetisi, mulai dari Best Management Award, Most Favorite Player Boy and Girls, Favorite Dancer, Favorite School, Most Favorite Supporter, Best Coordinator Supporter, Best Choreography, Supporter Terbaik, hingga penghargaan Best Team Putri, Best Team Putra dan Most Valuable Player (MVP).Hal tersebut memperlihatkan bahwa sebuah pertandingan olahraga dapat menjadi ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Pemain berjuang di lapangan, sementara sekolah, pelatih, suporter, dancer, panitia dan berbagai unsur pendukung lainnya ikut menciptakan pengalaman kompetisi.
Fadly Amran menilai pelaksanaan Honda DBL juga sejalan dengan semangat Program Padang Balomba sebagai bagian dari Program Unggulan (Progul) Padang Juara.
“Pelaksanaan kegiatan ini juga sejalan dengan Program Padang Balomba sebagai aktivasi dari Program Unggulan (Progul) Padang Juara,” ujarnya.
Di balik riuh tepuk tangan dan papan skor, ada pelajaran yang jauh lebih panjang untuk dibawa pulang para pelajar: menang mengajarkan kerendahan hati, kalah mengajarkan evaluasi, sementara proses latihan mengajarkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan.
Karena itu, keberlanjutan kompetisi olahraga pelajar menjadi penting. Bukan semata untuk mencari siapa yang paling unggul hari ini, tetapi untuk memberi lebih banyak anak muda kesempatan menemukan potensi, membangun karakter, dan berani bermimpi lebih jauh.
Dari GOR Prayoga, mungkin sebuah gelar telah berakhir. Tetapi bagi para student athlete, perjalanan untuk menjadi lebih baik justru baru dimulai. (*/zul)
