Hidup Berkah Tanpa Ghibah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu larangan yang sering dianggap ringan, padahal dosanya sangat besar, adalah *ghibah*, yaitu membicarakan keburukan saudara kita di belakangnya, meskipun apa yang kita katakan itu benar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat ayat 12)
Perumpamaan dalam ayat tersebut sangat menggugah hati. Allah menyamakan ghibah dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Betapa kejinya perbuatan itu. Namun sering kali lisan kita begitu mudah mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Berkumpul sebentar, lalu membahas kekurangan tetangga, teman kerja, saudara, bahkan sesama pengurus masjid. Padahal setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai." Para sahabat bertanya, "Bagaimana jika apa yang saya katakan itu benar?" Rasulullah menjawab, "Jika benar, maka itulah ghibah. Jika tidak benar, maka engkau telah melakukan fitnah."
Ghibah bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menghilangkan keberkahan hidup. Orang yang gemar menggunjing akan sulit mendapatkan ketenangan hati. Persaudaraan menjadi retak, kepercayaan hilang, dan pahala amal bisa berpindah kepada orang yang dizalimi. Pada hari kiamat, bisa jadi seseorang datang dengan membawa banyak ibadah, namun pahalanya habis karena pernah menyakiti kehormatan saudaranya melalui lisan.
Sebaliknya, menjaga lisan adalah tanda keimanan. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
Oleh karena itu, marilah kita membiasakan tiga hal.
Pertama, berpikir sebelum berbicara. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ucapan ini benar, bermanfaat, dan perlu disampaikan?
Kedua, sibukkan diri memperbaiki kekurangan sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Setiap manusia memiliki aib. Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.
Ketiga, jika berada dalam majelis ghibah, usahakan menghentikannya dengan cara yang baik, mengalihkan pembicaraan kepada hal yang bermanfaat, atau meninggalkan majelis tersebut apabila tidak mampu mengubahnya.
Di zaman media sosial, ghibah semakin mudah dilakukan. Menulis komentar yang menghina, menyebarkan kabar yang mempermalukan orang lain, atau membagikan keburukan seseorang tanpa alasan yang dibenarkan, semuanya harus kita waspadai. Mari gunakan lisan dan jari-jari kita untuk menyebarkan ilmu, nasehat, doa, dan kata-kata yang membawa manfaat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga persaudaraan, sehingga hidup kita dipenuhi keberkahan.
Salam
LH
