Jangan Jadi Penjajah, Jangan Mau Dijajah
Ditulis oleh: Zulhendri Zulkifli Imam Said
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”(QS. Al-Baqarah: 208)
Sekali merdeka, tetap merdeka. Namun kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, mari bertanya: sudahkah jiwa kita benar-benar merdeka?
Jangan orang tua menjajah anak dengan kesewenangan. Jangan anak menjajah orang tua dengan tuntutan. Jangan guru menzalimi murid, jangan murid merendahkan guru. Jangan pejabat mempersulit rakyat, dan jangan pula pejabat menjadi tawanan hawa nafsu dan kepentingan.
Kita juga harus berjuang agar tidak dijajah oleh judi online, game yang melalaikan, riba, syahwat, gaya hidup, dan berbagai kecanduan yang merampas waktu, harta, serta masa depan.
Jika ada kebijakan yang memberatkan atau tidak adil, sampaikan kritik dengan benar, santun, dan bertanggung jawab. Mencintai negeri bukan berarti harus selalu diam, dan mengkritik bukan berarti harus membuat kerusakan.
Kemerdekaan sejati adalah ketika kita tidak menzalimi dan tidak rela diperbudak hawa nafsu. Merdekakan diri dengan ketaatan kepada Allah.
Di hari kemerdekaan ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita sudah merdeka?
Ataukah kita sedang menjajah orang lain—atau justru masih dijajah oleh hawa nafsu kita sendiri?
Ya Allah, jadikan negeri kami negeri yang aman, adil, dan diberkahi. Jauhkan kami dari kezaliman, bebaskan jiwa kami dari penjajahan hawa nafsu, dan jadikan kemerdekaan ini jalan untuk semakin taat kepada-Mu