Padang Peringkat 2 Nasional Regional Sumatera, Dapat Insentif Rp1,5 Miliar
BATAM (SUMBARKINI.COM) — Upaya Pemerintah Kota Padang membangun kota yang lebih bersih dan lingkungan yang semakin asri berbuah apresiasi dari pemerintah pusat.
Dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Batch II Regional Sumatera yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Kota Batam, Rabu (12/8/2026), Pemerintah Kota Padang berhasil meraih peringkat kedua kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri.
Penghargaan tersebut menempatkan Padang di antara pemerintah daerah dengan kinerja terbaik di kawasan Regional Sumatera. Kota Sabang berada di peringkat pertama, sementara Kota Jambi menempati posisi ketiga.
Bagi Kota Padang, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan di atas kertas. Di baliknya terdapat pekerjaan panjang pemerintah daerah bersama masyarakat dalam menjaga kebersihan, mengelola sampah dan membangun kesadaran terhadap lingkungan.
Lebih jauh, prestasi itu juga membawa manfaat konkret. Atas capaian tersebut, Kota Padang mendapatkan insentif fiskal sebesar Rp1,5 miliar dari Kementerian Dalam Negeri.
Empat Bidang Jadi Ukuran Prestasi Daerah
Ajang apresiasi yang diselenggarakan Kemendagri ini tidak hanya melihat satu aspek pembangunan. Terdapat empat kategori yang menjadi fokus penilaian, yakni: Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri,
Kualitas Layanan Kesehatan, Akses Pendidikan, Dukungan Program 3 Juta Rumah
Penilaian dilakukan dengan pendekatan berbasis data dan verifikasi. Sejumlah indikator bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), kementerian terkait, Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), peninjauan lapangan, serta wawancara.
Dengan demikian, penghargaan yang diterima pemerintah daerah tidak hanya ditentukan oleh tampilan atau seremoni, tetapi melalui sejumlah indikator yang diperiksa dari berbagai sumber.
Mendagri: Apresiasi Sejalan dengan Program Prioritas Pemerintah
Menteri Dalam Negeri RI, Moh. Tito Karnavian, mengatakan apresiasi tersebut diberikan kepada pemerintah daerah yang menunjukkan prestasi dalam berbagai bidang pembangunan.
“Apresiasi ini diberikan kepada Pemerintah Daerah yang berprestasi. Kemendagri sudah melakukan 2 batch, dan akan ada 1 batch lagi di tahun ini. Kriteria yang dinilai pada setiap batch sesuai dengan arahan dan program unggulan Presiden, seperti kebersihan, layanan kesehatan, perumahan, dan beberapa kriteria lainnya.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah pusat ingin mendorong pemerintah daerah agar terus memperkuat kinerja pelayanan publik sekaligus menerjemahkan program prioritas nasional dalam kebijakan dan kerja nyata di daerah.
Bagi pemerintah daerah, kompetisi semacam ini juga menjadi ruang evaluasi. Capaian yang diperoleh dapat menjadi tolok ukur untuk melihat bagian mana yang sudah berjalan baik dan aspek mana yang masih harus diperbaiki.
Maigus Nasir: Ini Bukan Garis Akhir
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, yang hadir dalam kegiatan tersebut bersama Sekdako Padang Raju Minropa, menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur.Menurutnya, apresiasi dari Kemendagri menjadi bukti bahwa upaya meningkatkan kebersihan kota dan kualitas lingkungan mulai mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.
“Alhamdulillah. Upaya Pemko Padang untuk meningkatkan kebersihan kota dan lingkungan mendapatkan apresiasi dari Kemendagri. Ini sekaligus menjadi tambahan motivasi kita untuk kembali membawa pulang Piala Adipura.”
Namun, peringkat kedua Regional Sumatera tidak ingin dijadikan alasan untuk berhenti. Target Pemko Padang justru semakin tinggi: menjadikan Padang sebagai kota yang bersih, bukan hanya di Sumatera, tetapi juga di tingkat nasional.
“Selanjutnya kita ingin Padang menjadi yang terbersih, tidak hanya di Pulau Sumatera, tetapi secara nasional. Semoga upaya kita ini didukung semua pihak dan warga Kota Padang,” ujar Maigus.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa persoalan kebersihan kota tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Kota yang bersih membutuhkan partisipasi warganya.
Pemerintah dapat menyiapkan kebijakan, fasilitas, sistem pengelolaan sampah dan pengawasan. Namun, keberhasilan akhirnya sangat ditentukan oleh kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, menjaga lingkungan hingga ikut mengawasi kebersihan kawasan tempat tinggal.
Rp1,5 Miliar dan Tantangan yang Lebih Besar
Insentif fiskal sebesar Rp1,5 miliar yang diterima Kota Padang menjadi tambahan manfaat dari prestasi tersebut. Namun, nilai terpenting dari penghargaan ini bukan semata nominal insentif.Ada pekerjaan yang jauh lebih besar setelah penghargaan diterima: mempertahankan capaian, memperbaiki kekurangan dan mengubah kebersihan menjadi budaya bersama. Terlebih, Padang masih memiliki ambisi untuk kembali meraih Piala Adipura. Karena itu, capaian peringkat kedua Regional Sumatera dapat dibaca sebagai sebuah pijakan, bukan tujuan akhir.
Harapan tersebut juga disampaikan Maigus melalui apresiasinya kepada pemerintah pusat yang selama ini memberikan perhatian dan dukungan kepada Kota Padang.
“Terima kasih kepada Kemendagri dan pemerintah pusat yang selalu memberikan dukungan kepada Kota Padang, terlebih pada masa bencana.”
Prestasi Padang dalam kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri pada akhirnya kembali kepada satu persoalan mendasar: kebersihan bukan hanya urusan petugas kebersihan.
Ia dimulai dari rumah. Dari pasar. Dari sekolah. Dari tempat kerja. Dari jalan yang setiap hari dilewati. Dan dari keputusan sederhana setiap orang untuk membuang sampah pada tempatnya.
Jika pemerintah bergerak dan masyarakat ikut mengambil bagian, penghargaan bukan lagi sekadar target. Ia menjadi konsekuensi dari sebuah budaya hidup yang lebih tertib dan peduli terhadap lingkungan.
Padang telah mendapatkan peringkat kedua. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Padang mampu menjadi kota yang lebih bersih. Pertanyaannya: maukah seluruh warga Padang bergerak bersama untuk menjadikannya kota terbersih di Indonesia?
Sebab kota yang bersih bukan hanya wajah pemerintah. Kota yang bersih adalah cermin perilaku masyarakatnya. (*/zul)