Header Ads

  • Breaking News

    Padang 357 Tahun: Usia Bertambah, Masalah Berulang Terjadi


    Dr. Yuni Candra, S.E., M.M
    Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang

    Setiap tahun usia kota terus bertambah, tetapi kematangan kota tidak datang dengan sendirinya. Panggung boleh berdiri dan perayaan digelar untuk memeriahkannya, namun kematangan kota terlihat setelah pesta usai dilaksanakan: warga mudah bergerak, aman ketika hujan, nyaman saat di ruang publik, dan memperoleh pelayanan yang layak. Usia akhirnya menjadi cerminan kualitas hidup wrganya.

    Saat ini, Padang memasuki usia 357 tahun ketika pekerjaan rumah masih membentang. Bencana hidrometeorologi menyebabkan kerugian sekitar Rp5,5 triliun dan berdampak pada 67.563 jiwa. Kerusakan juga mencakup 74.000 meter jalan dan 13 jembatan.

    Pada saat yang sama, kota Padang mencatat 5,3 juta kunjungan wisatawan sepanjang 2025 dan menargetkan 5,7 juta pada 2026. Gastronomi didorong sebagai jalan menuju Kota Kreatif UNESCO 2027. Ambisi tersebut menjanjikan, tetapi pariwisata hanya akan kuat jika kotanya bersih, aman, nyaman, tangguh, dan mudah diakses.

    Di sinilah paradoksnya. Padang punya daya tarik yang mengundang jutaan wisatawan, tetapi masih menghadapi persoalan sehari-hari. Banjir, kemacetan, kebersihan, ruang publik, pelayanan, dan ekonomi warga menjadi cermin bahwa pembangunan belum sepenuhnya menghadirkan kota yang nyaman bagi semua.

    Karena itu, HJK ke-357 sepatutnya menjadi momentum bercermin, bukan sekadar berpesta. Padang perlu memiliki “rapor kota” yang jujur tentang banjir, transportasi, ruang publik, UMKM, kebersihan, dan pelayanan. Setelah pesta usai, sudahkah kehidupan warga benar-benar menjadi lebih baik?

    Pesta Boleh Meriah, Masalah Utama Kota Tetap di Selesaikan

    Perayaan memang diperlukan. Kota membutuhkan ruang untuk merawat ingatan, mempertemukan warga, dan menunjukkan identitasnya kepada pendatang. Persoalannya muncul ketika keberhasilan pembangunan lebih mudah diukur dari banyaknya acara daripada perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Jalan yang mulus mudah terlihat. Gedung yang baru mudah difoto. Festival yang ramai mudah dilaporkan. Sebaliknya, waktu yang hilang karena kemacetan, penderitaan yang dirasakan warga saat terjadinya banjir, dan tanah longsor ketika hujan lebat turun, atau kesulitan pelaku usaha mencari pasar jarang menjadi ukuran utama keberhasilan kota.

    Kualitas kota justru terlihat ketika hujan datang. Banjir yang terjadi di Padang pada November 2025 membawa dampak di 18 titik lokasi yang tersebar di 11 kecamatan. Karena itu, pengerukan sedimen Batang Arau untuk mengantisipasi banjir menjelang HJK patut diapresiasi, tetapi tidak cukup menjawab persoalan kota yang menyebar di banyak kawasan.

    Kota yang matang tidak sekadar bereaksi ketika air meluap. Ia membaca pola, memperkuat drainase dan kawasan resapan, serta menata sungai dan sampah sebagai satu kesatuan. Dengan begitu, anggaran tidak hanya membayar kerusakan, tetapi membangun ketahanan kota sebelum bencana itu kembali datang.

    Ruang Publik Harus Menghidupkan Kota

    Wajah sebuah kota terlihat dari ruang publik yang disediakan untuk warganya. Taman kota, trotoar, tepian sungai, dan kawasan bersejarah bukan hanya penghias kota, melainkan ruang bagi warga untuk berjalan, bertemu, dan berinteraksi. Kota yang baik bukan hanya memberi tempat bagi kendaraan, tetapi juga menyediakan ruang yang layak bagi setiap warga utuk menikmati hidup.

    Padang sudah memulai menambah ruang publik seperti itu. Dua RTH baru disediakan, Taman Rimbo Kaluang seluas 1.645 meter persegi dan Taman Aliran Kenangan seluas 2.600 m², beroperasi sejak Januari 2026. Sementara itu, penataan Kota Tua disertai pembangunan trotoar dan pelibatan pedagang di kawasan Batang Arau.

    Potensi tersebut lebih berarti jika kawasan tidak hidup hanya ketika festival berlangsung. Kota Tua dan Batang Arau dapat menjadi simpul sejarah, kuliner, wisata, dan ekonomi sepanjang tahun. UMKM pun semestinya hadir sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar pengisi stan ketika acara digelar.

    Dari sini transportasi, kebersihan, ruang publik, pariwisata, dan UMKM bertemu dalam satu ekosistem: kualitas hidup. Ketika warga mudah mencapai kawasan, nyaman tinggal lebih lama, dan menemukan aktivitas ekonomi yang sehat, ruang kota akan berubah menjadi penggerak kesejahteraan warga. Festival pun meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada perayaannya.

    Setelah 357 Tahun, Apa Nilai Rapor Padang?

    Pada akhirnya, Padang membutuhkan ukuran kemajuan yang lebih dekat dengan pengalaman warganya. Pemerintah dapat menerbitkan “Rapor kota” untuk mengukur hal yang nyata: banjir yang berkurang, perjalanan yang lebih lancar, ruang publik lebih hidup, UMKM naik kelas, dan pelayanan semakin cepat. Dengan begitu, pembangunan punya ukuran dan indikator yang jelas.

    Rapor kota bukan sekadar dokumen pemerintah. Ia bisa menjadi janji terbuka kepada warga: data disajikan apa adanya, kemajuan dapat dilihat, kekurangan diakui, dan perbaikan terus dilakukan. Dengan begitu, warga, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, dan media dapat ikut mengawal arah pembangunan kota.

    Dengan demikian, HJK ke-357 tidak berhenti sebagai pesta yang meriah. Momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi Padang untuk bercermin lebih jujur: bukan hanya menampilkan wajah kota yang indah, tetapi juga berani melihat persoalan yang masih menunggu untuk dibenahi.

    Usia panjang belum tentu menandakan kematangan. Padang tidak perlu membuktikan diri lewat pesta yang semakin meriah. Ukurannya sederhana: kota semakin nyaman, ekonomi semakin tumbuh, dan warganya merasakan bahwa setiap tahun yang berlalu membawa perubahan yang nyata. Semoga..

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad