Header Ads

  • Breaking News

    Desa Wisata Jangan Jadi Pajangan

    Dr. Yuni Candra, S.E., M.M.

    Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang

    Desa wisata semakin mudah ditemukan dalam brosur, video pendek, dan media sosial. Sawah menghijau, rumah adat terawat, kuliner tradisional tersaji, dan keramahan warga menjadi wajah yang mengundang wisatawan datang. Desa pun tampak menjanjikan, seolah pariwisata membawa kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, keindahan yang ramai di layar belum tentu menggambarkan kehidupan masyarakat di baliknya.

    Kementerian Pariwisata (2026) mencatat sebanyak 6.161 desa wisata telah terdata dalam Sistem Informasi Desa Wisata Nasional. Angka ini memperlihatkan besarnya perhatian pemerintah menjadikan desa sebagai penggerak ekonomi lokal. Namun, pertumbuhan jumlah destinasi tidak dengan sendirinya memperbesar manfaat ekonomi bagi warga.

    Masalahnya, desa wisata kerap diposisikan sebagai objek yang dijual, bukan subjek yang memperoleh nilai tambah. Warga menjadi penjaga tradisi, penyedia jasa, atau sekadar latar bagi foto wisatawan, sementara keuntungan terbesar bisa mengalir ke luar desa.

    Di sinilah pertanyaan mendasar itu muncul: ketika desa semakin indah dipromosikan, tetapi masyarakatnya belum tentu semakin sejahtera, untuk siapa sesungguhnya desa wisata dibangun?

    Ketika Estetika Mengalahkan Makna

    Desa wisata kerap dinilai dari apa yang mudah dilihat: jalan mulus, gerbang desa wisata fotogenik, mural yang Instagrammable, atau sudut swafoto ramai dikunjungi. Ukuran semacam itu memang penting, tetapi berbahaya jika menjadikan estetika sebagai tujuan. Desa wisata akhirnya sibuk mempercantik wajahnya, sementara kehidupan masyrakat di baliknya luput dibenahi.

    Padahal, wisatawan tidak datang hanya untuk memotret destinasi. Mereka mencari pengalaman menarik untuk diceritakan, menyentuh emosi, dan sulit ditemukan di destinasi lain. Di sinilah sesungguhnya kekuatan desa wisata: pada tradisi yang hidup, keramahan warga, kuliner tradisional yang memiliki sejarah, serta interaksi wisatawan dengan warga lokal menjadikan kunjungan terasa lebih bermakna.

    UN Tourism (2005) menempatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan sebagai bagian penting pariwisata berkelanjutan. Artinya, keindahan destinasi hanyalah pintu masuk menuju nilai yang lebih besar.

    Jika pembangunan berhenti pada apa yang terlihat di kamera, desa wisata mudah menjadi ruang konsumsi visual: ramai ketika viral, sepi ketika perhatian beralih tempat. Estetika menarik wisatawan datang, tetapi maknalah yang membuat mereka ingin kembali mengunjungi.

    Belajar dari Pengalaman

    Sumatera Barat memiliki pelajaran penting tersebut: desa wisata akan hidup ketika budaya menjadi pengalaman, bukan sekadar hiasan. Desa Wisata Kubu Gadang di Padang Panjang memperlihatkan bagaimana silek, permainan rakyat, kuliner, homestay, dan wisata edukasi dirangkai menjadi pengalaman yang melibatkan masyarakat secara langsung.

    Pengalaman itu menunjukkan bahwa daya tarik saja tidak cukup. Pengembangan destinasi membutuhkan keterhubungan antara atraksi, amenitas, aksesibilitas, kelembagaan, dan kolaborasi. Di baliknya terdapat faktor yang sering luput dari perhatian: warga harus memiliki ruang untuk menentukan, mengelola, sekaligus menikmati manfaat pariwisata.

    Pelajaran serupa relevan bagi Nagari Pariangan dan kawasan Mandeh. Keindahan alam dan kekayaan budaya merupakan modal awal, tetapi belum menjadi nilai ekonomi tanpa pengelolaan yang konsisten.

    Karena itu, penguatan UMKM, ekonomi kreatif, kapasitas sumber daya manusia, dan tata kelola perlu ditempatkan dalam satu ekosistem. Desa wisata yang kuat bukan yang paling sering dipromosikan, melainkan yang mampu mengubah potensi lokal menjadi kesejahteraan yang bertahan.

    Mengukur Nilai, Bukan Jumlah Kunjungan

    Desa wisata menilai data menjadi ukuran kesuksesan: jumlah kunjungan, penghargaan, atau ramainya unggahan media sosial. Padahal, keramaian belum tentu meningkatkan kesejahteraan. Ukuran yang lebih penting ialah apakah pendapatan warga meningkat, UMKM tumbuh, wisatawan tinggal lebih lama, serta budaya dan lingkungan tetap terjaga. Di situlah nilai sesungguhnya keberhasilan destinasi.

    Perubahan ukuran kinerja perlu diikuti perubahan cara mengelola. Setiap desa wisata perlu memiliki neraca manfaat: berapa nilai ekonomi yang tinggal di desa, berapa UMKM masuk dalam rantai pasok, dan seberapa besar masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan.

    Model kolaborasi harus bergerak dari seremoni menuju kerja nyata. Pemerintah menyediakan kebijakan dan data, perguruan tinggi menghadirkan riset, pelaku usaha membuka pasar, komunitas menjaga identitas, dan media memperkuat cerita lokal. Teknologi digital semestinya digunakan untuk membaca perilaku wisatawan sekaligus memetakan manfaat ekonomi, bukan sekadar mengejar viralitas.

    Dengan cara itu, desa wisata tidak diperlakukan sebagai proyek promosi, melainkan sebagai ekosistem ekonomi lokal. Keberhasilan bukan ketika wisatawan datang dalam jumlah besar, tetapi ketika kehadiran mereka meninggalkan nilai yang lebih besar bagi masyarakat.

    Sebab, desa wisata yang baik bukan sekadar mampu mendatangkan orang, tetapi mampu membuat kesejahteraan tinggal. Ketika manfaat pariwisata menetap di desa, keindahan tidak lagi berhenti di brosur, tetapi berubah menjadi alasan bagi masyarakat untuk menjaga desa dan membangun masa depannya.

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad