Header Ads

  • Breaking News

    Inovasi Polisi di Payakumbuh Dilirik Kompolnas Awards 2026


    PAYAKUMBUH, SUMBARKINI.COM — Persoalan sampah sering kali berhenti pada urusan siapa yang harus mengangkut dan ke mana harus dibuang. Namun, di Jorong Koto Baru, Nagari Banda Dalam, Kecamatan Situjuh Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, persoalan itu coba dijawab dengan cara berbeda: sampah organik diolah menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat bagi masyarakat.

    Gagasan tersebut hadir melalui Rumah Kompos Sago Mandiri, sebuah inovasi yang dimotori Aiptu Mulia Raja, S.I.P., personel Polres Payakumbuh. Program ini tidak hanya berbicara tentang mengolah sampah, tetapi juga tentang bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

    Inovasi itu kini mendapat perhatian di tingkat nasional. Aiptu Mulia Raja tercatat sebagai salah satu nominator Kompolnas Awards 2026 kategori perseorangan pada indikator Planet.

    Pada Jumat (21/8/2026), Tim Kompolnas Awards 2026 turun langsung melakukan visitasi dan verifikasi lapangan di Rumah Kompos Sago Mandiri. Kedatangan tim menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana inovasi tersebut dijalankan, manfaat yang telah dihasilkan, serta sejauh mana masyarakat ikut terlibat.

    Bagi masyarakat, pengelolaan sampah mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Tetapi ketika sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan kembali, persoalannya berubah menjadi peluang.

    Di titik inilah nilai Rumah Kompos Sago Mandiri menjadi menarik.

    Program tersebut mempertemukan kepedulian lingkungan dengan aktivitas masyarakat. Kelompok tani, tokoh masyarakat, unsur pemerintahan kecamatan hingga masyarakat setempat dilibatkan dalam rangkaian kegiatan yang dikembangkan.

    Visitasi Tim Kompolnas Awards juga tidak berhenti pada pemaparan program. Tim melihat langsung lokasi pengolahan kompos, menyaksikan pemutaran video dan berdiskusi dengan masyarakat, kelompok tani, tokoh masyarakat serta unsur Forkopimca.

    Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa sebuah inovasi tidak akan memiliki arti besar jika hanya berhenti pada gagasan seseorang. Nilai sebuah program justru terlihat ketika masyarakat ikut merasakan manfaat dan memiliki ruang untuk terlibat di dalamnya.

    Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol. Susmelawati Rosya, S.S., M.Tr.A.P., mengapresiasi capaian Aiptu Mulia Raja yang telah membawa inovasi tersebut ke tingkat nasional.

    Menurutnya, pengabdian anggota Polri tidak selalu harus diwujudkan melalui tugas penegakan hukum. Di tengah masyarakat, polisi juga dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan sosial dan lingkungan.

    “Kami sangat bangga dan mengapresiasi pencapaian Aiptu Mulia Raja yang telah membawa nama baik Polda Sumatera Barat di ajang nasional Kompolnas Awards 2026,” ujar Susmelawati.

    Ia menilai inovasi pengelolaan sampah organik tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari pengabdian anggota Polri.

    Pesan yang lebih penting dari capaian tersebut adalah bagaimana keberadaan polisi dapat dirasakan bukan hanya ketika masyarakat menghadapi persoalan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan penggerak untuk menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

    Hal senada disampaikan Kapolres Payakumbuh AKBP Irwan Andeta, S.I.K., M.H. Ia menyebut visitasi Kompolnas Awards menjadi motivasi bagi jajaran Polres Payakumbuh untuk terus melahirkan inovasi yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

    “Melalui inovasi Rumah Kompos Sago Mandiri yang dimotori oleh Aiptu Mulia Raja, kami ingin memastikan kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh masyarakat,” katanya.

    Bagi Sumbarkini, cerita Rumah Kompos Sago Mandiri menarik bukan semata karena masuk dalam nominasi penghargaan nasional.

    Yang lebih penting adalah pesan yang dibawanya.

    Bahwa persoalan besar kadang dapat dimulai dari langkah kecil. Sampah yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang harus disingkirkan ternyata dapat diolah menjadi kompos. Kepedulian seorang personel dapat berkembang menjadi kegiatan bersama. Dan kehadiran seorang polisi di tengah masyarakat dapat mengambil bentuk yang lebih luas: menjadi penghubung, penggerak dan bagian dari solusi.

    Penghargaan tentu menjadi bentuk apresiasi. Namun, keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika gerakan tersebut terus hidup setelah kamera, visitasi dan penilaian berakhir.

    Sebab lingkungan yang bersih bukan hasil kerja satu orang. Ia membutuhkan kebiasaan, kesadaran dan keterlibatan banyak pihak.

    Dari Jorong Koto Baru, pesan itu kembali mengemuka: menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan petugas kebersihan, bukan pula hanya tugas pemerintah. Ketika masyarakat dan aparat bergerak bersama, sampah yang semula menjadi masalah pun dapat menemukan nilai baru.

    Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari inovasi tersebut—bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi menghadirkan manfaat yang tetap dirasakan masyarakat jauh setelah penghargaan itu selesai dinilai. (zul)

    SUMBARKINI.COM — Mengabarkan, Menginspirasi, Menggerakkan.



    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad