Siswa SMAN 12 Padang Berani Bersuara, Nanda Satria Dengar Langsung Keluhan Pascabencana
PADANG (SUMBARKINI.COM) – Di hadapan seorang wakil rakyat, tangan-tangan siswa SMAN 12 Padang terangkat hampir bersamaan. Mereka tidak sekadar ingin menjawab pertanyaan. Ada yang ingin menyampaikan cerita, ada yang membawa kegelisahan, dan ada pula yang berharap kondisi sekolah mereka bisa segera mendapat perhatian.
Suasana itu terjadi ketika Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Nanda Satria, S.IP., berkunjung ke SMAN 12 Padang, Kamis (20/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk menyampaikan langsung kondisi sekolah, terutama berbagai persoalan yang muncul setelah bencana banjir yang melanda kawasan tersebut secara berulang sejak November 2025.
“Pendidikan adalah kebutuhan dasar bagi generasi kita. Kita ingin mendengar langsung aspirasi mereka,” ujar Nanda di sela kunjungan.
Nanda juga membawa psikolog, Ira Yusfi untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang terdampak bencana. Langkah itu dilakukan karena pemulihan pascabencana bukan hanya menyangkut bangunan dan fasilitas, tetapi juga kondisi psikologis anak-anak yang mengalaminya.
Ketika Siswa Berani Menyampaikan Keluhan
Kesempatan berbicara yang diberikan Nanda dimanfaatkan sejumlah siswa. Hani, Fadli dan Caca termasuk di antara mereka yang menyampaikan kondisi sekolah secara langsung. Dengan bahasa mereka sendiri, para siswa menceritakan persoalan yang sehari-hari mereka hadapi.
Salah satunya mengenai keterbatasan air bersih. Kondisi tersebut dirasakan ketika siswa hendak beribadah di mushala maupun setelah mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketika mereka harus bergantian menggunakan fasilitas untuk mencuci tangan.
Persoalan toilet juga menjadi perhatian serius.
Para siswa mengungkapkan kekhawatiran menggunakan jamban sekolah yang kondisinya sudah tidak layak. Bahkan, menurut cerita yang disampaikan dalam pertemuan itu, ada siswa yang memilih menahan hajat karena merasa tidak nyaman dan khawatir menggunakan toilet yang tersedia.
Selain fasilitas sanitasi, keterbatasan ruang belajar juga menjadi persoalan. Sebagian siswa harus menggunakan ruang perpustakaan dan mushala untuk kegiatan belajar karena ruang kelas yang tersedia belum mencukupi setelah sejumlah fasilitas terdampak bencana.
Ketiadaan lapangan olahraga turut disampaikan. Kondisi tersebut membuat aktivitas olahraga siswa tidak dapat berlangsung sebagaimana mestinya.
Persoalan itu kemudian diperkuat Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 12 Padang, Almuksi.
Guru sejarah tersebut menyebutkan, SMAN 12 Padang saat ini memiliki sekitar 1.165 siswa. Dengan jumlah peserta didik yang cukup besar, keterbatasan ruang belajar dan fasilitas pendukung menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan.
“Sekarang ada siswa yang belajar di pustaka, ada juga yang belajar di mushala. Tentu kondisi ini tidak bisa dibiarkan lama,” ujarnya.
Menurut Almuksi, sejumlah toilet sekolah rusak setelah terdampak banjir dan kondisinya saat ini belum layak digunakan.
Pihak sekolah berharap ada dukungan dan fasilitasi untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami berharap dukungan dan fasilitasi dari bapak terhadap persoalan ini. Kami juga khawatir prestasi anak dan akreditasi sekolah terancam turun dari A ke B karena ketidaklengkapan ruang belajar dan ketiadaan lapangan olahraga,” ungkapnya.
Dari Aspirasi Menjadi Langkah Sementara
Mendengar berbagai keluhan tersebut, Nanda mengapresiasi keberanian siswa menyampaikan persoalan sekolah secara terbuka.
Menurutnya, kemampuan anak untuk mengutarakan pikiran, usulan dan kebutuhan merupakan bagian penting dari pendidikan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang belajar bagi anak untuk berani berbicara dan menyampaikan gagasan.
“Ini butuh keberanian untuk menyusun kata dan menyampaikannya secara terbuka,” kata Nanda.
Terkait persoalan fasilitas, Nanda menyampaikan bahwa pemerintah daerah dan DPRD Sumatera Barat terus mendorong proses rehabilitasi serta rekonstruksi kawasan yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Untuk kebutuhan toilet yang mendesak, ia menyarankan pihak sekolah berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD guna mengupayakan penggunaan toilet portabel sebagai solusi sementara.
Sementara untuk kebutuhan air bersih, Nanda meminta sekolah segera menyampaikan surat kepada PDAM Kota Padang agar dapat memperoleh bantuan pasokan air secara berkala.
“Pak Kepala Sekolah silakan bersurat kepada PDAM Kota Padang agar mengirimkan bantuan air bersih secara berkala ke sekolah ini. Kebetulan Pak Direktur PDAM baru saja membalas pesan singkat saya. Silakan sediakan toren atau tandon airnya,” ujarnya.
Langkah tersebut setidaknya diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar siswa sembari menunggu penanganan fasilitas sekolah secara lebih permanen.
Ketika Sejarah Menjadi Bagian dari Percakapan
Kunjungan Nanda tidak hanya membicarakan persoalan fasilitas sekolah. Ia juga menguji wawasan sejarah para siswa, khususnya mengenai sejarah perjuangan bangsa yang memiliki kaitan erat dengan Sumatera Barat.
Pertanyaan mengenai tokoh yang pernah memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia serta pahlawan perempuan asal Padang Panjang berhasil dijawab dengan baik oleh para siswa.
Nama Syafruddin Prawiranegara dan Rahmah El Yunusiah disebut sebagai jawaban.
Nanda mengapresiasi pengetahuan tersebut dan mengingatkan pentingnya generasi muda memahami perjalanan sejarah bangsanya.
“Ini penting. Generasi muda Indonesia harus paham sejarah bangsanya. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” tegasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, sejumlah siswa mendapat bingkisan buku karya wartawan senior Khairul Jasmi dan psikolog Ira Yusfi. Siswa yang berani menyampaikan aspirasi juga diberikan tiket menonton secara gratis.
Guru dan Siswa Merasakan Kehadiran yang Berarti
Kepala SMAN 12 Padang, Gusnaldi, M.Pd., menyambut baik kunjungan tersebut.
Menurutnya, pertemuan langsung antara siswa, guru dan wakil rakyat memberikan pengalaman sekaligus wawasan baru bagi peserta didik.
“Kami gembira dengan kedatangan Pak Nanda ke sekolah kami. Kesempatan ini sangat kami nantikan karena kami, para guru dan siswa dapat menyampaikan langsung uneg-uneg dan harapannya kepada Pak Nanda,” ujarnya.
Gusnaldi berharap dukungan dan fasilitasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi sekolah dan membantu mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi.
Di SMAN 12 Padang hari itu, suara para siswa tidak berhenti sebagai percakapan di ruang sekolah. Mereka belajar satu hal penting: menyampaikan persoalan dengan berani adalah bagian dari upaya mencari jalan keluar.
Dan bagi sekolah yang masih berbenah setelah bencana, kebutuhan mereka sederhana namun mendasar—air yang cukup, toilet yang layak, ruang belajar yang memadai, serta kesempatan untuk belajar dan tumbuh dalam lingkungan yang aman.(Zul/Daan)


