Header Ads

  • Breaking News

    Pin Emas Untuk Dr. Syamsul Akmal, Sang Penjaga Ratusan Santri Yatim dan Kurang Mampu


    PADANG (SUMBARKINI.COM) — Sebuah pin emas mungkin hanya berukuran kecil ketika disematkan di dada. Namun, di balik benda kecil itu bisa tersimpan perjalanan panjang, air mata, pengorbanan, doa dan kerja keras bertahun-tahun. Begitulah kira-kira makna Pin Emas yang diterima Dr. H. Syamsul Akmal, S.Ag., MM, dalam rangka Hari Jadi Kota Padang ke-357 dan dipasangkan oleh Gubernur Sumbar yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sumbar, Adib Alfikri, S.E., M.Si.

    Penghargaan tersebut diberikan kepada Syamsul Akmal sebagai tokoh masyarakat berprestasi di bidang keagamaan. Namun, bagi sosok yang selama bertahun-tahun mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan pembinaan umat itu, penghargaan tersebut justru menghadirkan rasa yang jauh lebih sederhana: haru dan syukur.

    Ia bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan penghargaan tersebut. Apalagi menjadikannya sebagai cita-cita. Sebab, selama ini ia merasa hanya menjalankan apa yang diyakininya sebagai amanah.

    “Terharu dan penuh syukur. Rupanya sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh, serius, ikhlas dan berkelanjutan, serta memberikan kebaikan kepada orang lain, apa yang dikerjakan itu juga memberikan kebaikan kepada diri sendiri,” ungkap Syamsul Akmal.

    Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi jika ditarik ke belakang, kalimat tersebut menggambarkan perjalanan panjang yang telah dilaluinya sejak 2013.

    Sebuah perjalanan yang tidak dibangun dalam sehari. Tidak pula lahir dari ambisi mengejar penghargaan.
    Melainkan dari keputusan untuk terus bekerja dan memberikan manfaat.

    Dari 2013, Menanam di Pondok Pesantren 

    Nama Syamsul Akmal tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau di bawah Yayasan Shine Al Falah. Sejak 2013, ia ikut berjuang mendirikan, membangun, membina dan memimpin lembaga pendidikan tersebut.

    Membangun pesantren tentu bukan sekadar membangun gedung. Ada manusia yang harus dibentuk.
    Ada karakter yang harus dibina. Ada orang tua yang menitipkan harapan. Ada santri yang datang dengan latar belakang berbeda. Dan ada tanggung jawab besar untuk memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak.

    Perjalanan itu juga bukan tanpa tantangan. Pesantren membutuhkan sarana dan prasarana, tenaga pendidik, biaya operasional, pembinaan berkelanjutan dan tentu saja kepemimpinan yang mampu menjaga lembaga tetap tumbuh.

    Syamsul Akmal memilih untuk berada di dalam perjalanan tersebut.

    Hari demi hari. Tahun demi tahun. Sedikit demi sedikit. Apa yang pada awalnya merupakan perjuangan membangun sebuah lembaga pendidikan kemudian berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang menaungi semakin banyak anak.

    Kini 1.036 Santri, 36 Persennya Yatim dan Kurang Mampu

    Hasil dari perjalanan panjang itu kini terlihat. Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau telah memiliki 1.036 santri. Namun, angka 1.036 sesungguhnya tidak pernah sekadar angka. 

    Di baliknya terdapat 1.036 cerita kehidupan. Ada anak-anak yang datang dengan cita-cita. Ada orang tua yang menitipkan harapan. Ada keluarga yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan agama sekaligus pendidikan umum.

    Terkait hal ini, Rektor Universitas Eka Sakti Prof. Dr. Sufyarma Marsidin yang pernah menjadi pembimbing tesisnya, pada 2018 pernah menyebutkan, "Luar biasa Pak Syamsul Amal ini, tiap hari dia harus mencarikan kebutuhan untuk ratusan orang yatim dan orang kurang mampu. Dia pun semangat untuk terus meningkatkan strata pendidikannya," tegas Sufyarma.

    Dan yang membuat perjuangan tersebut semakin memiliki dimensi sosial adalah kenyataan bahwa sekitar 36 persen santri merupakan anak yatim dan berasal dari keluarga kurang mampu. Artinya, lebih dari sepertiga santri yang berada di lingkungan pesantren tersebut berasal dari kelompok yang membutuhkan perhatian dan keberpihakan.

    Di sinilah pendidikan menjadi lebih dari sekadar proses belajar mengajar. Ia menjadi jalan untuk membuka kesempatan. 

    Bagi anak yatim, pesantren dapat menjadi rumah kedua. Bagi keluarga kurang mampu, pendidikan dapat menjadi pintu untuk memperbaiki masa depan anak. Dan bagi masyarakat, pesantren dapat menjadi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak.

    Penelitian mengenai perkembangan Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau juga menunjukkan bahwa lembaga tersebut mengalami pertumbuhan jumlah santri sejak awal berdirinya. Kajian tentang periode 2013–2020 mencatat pertumbuhan jumlah santri yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.

    Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan membangun lembaga pendidikan memang membutuhkan konsistensi panjang. Dan Syamsul Akmal memilih untuk terus berada di dalamnya.

    Perjalanan panjang Syamsul Akmal juga mendatangkan decak kagum dari Ketua Badan Kehormatan DPD RI Periode 2019-2024, H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH. Pria yang akrab disapa Bang Leo itu pada tahun 2023 pernah menyempatkan diri datang ke Pondok Pesantren Syamsul Akmal. 

    Dalam kesempatan silaturahmi itu, Leonardy diminta Syamsul Akmal untuk menyemangati siswa SMP dan SMA yang bernaung dalam Yayasan Shine Al Falah itu. "Buya Akmal telah melakukan berbagai upaya guna memuliakan anak-anak sekalian di masa depan. Balaslah dengan prestasi terbaik, lanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama meski harus ke luar negeri. Paling penting, doakan beliau," ujar Leonardy.

    Leonardy pun mengingatkan, Syamsul Akmal sudah menyediakan ladang amal. "Sangat pantas jika kita turut memanfaatkan ladang amal tersebut," tegasnya. 

    Membesarkan Lembaga, Membesarkan Harapan

    Bagi seorang pemimpin pesantren, membesarkan jumlah santri bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap santri mendapatkan pendidikan yang mampu membentuk dirinya.

    Ilmu. Akhlak. Kemandirian. Kedisiplinan. Kepercayaan diri. Serta kemampuan untuk kelak kembali memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, perjuangan Syamsul Akmal sesungguhnya tidak berhenti pada membangun institusi.

    Ia ikut membangun manusia. Dan membangun manusia selalu membutuhkan waktu. Tidak bisa instan.

    Tidak bisa hanya dengan program sesaat. Dibutuhkan pembinaan yang terus menerus. Dibutuhkan kesabaran. Dan yang paling penting, dibutuhkan konsistensi.

    Barangkali itulah alasan mengapa kata “berkelanjutan” menjadi penting ketika Syamsul Akmal berbicara mengenai pengabdiannya. Sebab pendidikan tidak mengenal garis finis.

    Tak Pernah Berharap Penghargaan

    Menariknya, di tengah besarnya perjalanan tersebut, Syamsul Akmal justru tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia mengaku tidak pernah membayangkan, apalagi bercita-cita untuk mendapatkan penghargaan.

    “Saya tak pernah membayangkan dan bercita-cita serta meminta untuk diberi penghargaan,” tuturnya.

    Baginya, pekerjaan yang dilakukan selama ini adalah bagian dari tanggung jawab. Ia menjalankannya dengan kesungguhan. Dengan keseriusan.

    Dengan keikhlasan. Dan dengan harapan agar apa yang dikerjakan memberikan manfaat. Karena itu, ketika Pemerintah Kota Padang kemudian menilai perjalanan tersebut dan memilihnya sebagai tokoh masyarakat berprestasi di bidang keagamaan, rasa yang muncul justru adalah keterkejutan bercampur syukur.

    “Rupanya Pemda melihat dan menilai apa yang saya perjuangkan selama ini, sehingga saya dipilih sebagai tokoh masyarakat berprestasi di bidang keagamaan,” katanya.

    Tetapi kalimat berikutnya justru menunjukkan sisi kerendahan hatinya. “Padahal menurut saya, apa yang saya kerjakan belumlah seberapa. Rupanya Pemda melihat sudah luar biasa, sedangkan orang-orang lain masih banyak yang hebat-hebat.”

    Pernyataan itu menunjukkan bahwa Syamsul Akmal tidak memandang penghargaan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Justru sebaliknya. Ia melihat masih banyak orang lain yang juga berjuang dan layak diapresiasi. 

    Di sinilah makna Pin Emas tersebut menjadi semakin dalam. Penghargaan tidak datang di awal perjalanan. Ia datang setelah lebih dari satu dekade pengabdian.

    Setelah pesantren tumbuh. Setelah ribuan santri melewati proses pendidikan. Setelah begitu banyak anak yatim dan keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan. Dan setelah Syamsul Akmal terus dipercaya untuk mengambil bagian dalam pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.

    Pin Emas itu Cermin

    Ia seperti tanda baca di tengah sebuah kalimat panjang yang belum selesai. Sebuah tanda bahwa apa yang dilakukan selama ini ternyata terlihat. Bahwa kerja keras yang mungkin tidak selalu masuk pemberitaan ternyata sampai juga ke meja penilaian pemerintah.

    Bahwa pengabdian yang dilakukan tanpa meminta penghargaan ternyata dapat memperoleh penghargaan dengan sendirinya. Dari Pesantren, Kepercayaan untuk Mengabdi kepada Umat

    Pengabdian Syamsul Akmal juga tidak berhenti di lingkungan Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat. Dia juga seringkali dipercaya sebagai Bendahara di organiasasi lain, Pimpinan Wilayah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Sumatera Barat periode 2020-2025, salah satu diantaranya.

    Kepercayaan tersebut memperluas ruang pengabdiannya. Jika di pesantren ia berhadapan langsung dengan dunia pendidikan dan pembinaan santri, maka di MUI ia berada dalam ruang yang lebih luas dalam kehidupan keumatan.

    Berbagai ruang pengabdian tersebut memiliki satu titik temu: amanah. Mengelola lembaga pendidikan membutuhkan amanah. Mengelola kepercayaan umat juga membutuhkan amanah. Dan amanah tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dibuktikan melalui kerja.

    Pada akhirnya, mungkin justru bukan Pin Emas yang menjadi cerita terbesar dari penghargaan tersebut.
    Cerita terbesarnya adalah perjalanan yang berada di belakangnya.

    Perjalanan membangun manusia yang tidak selalu terlihat kamera. Barangkali suatu hari nanti, ketika para santri Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau telah dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing, tidak semua dari mereka akan mengingat detail setiap bangunan yang pernah mereka tempati.

    Tidak semua akan mengingat nama setiap program yang pernah mereka ikuti. Tetapi mereka akan membawa sesuatu yang jauh lebih penting: ilmu, pengalaman, nilai agama dan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

    Rupanya Kebaikan Itu Kembali kepada Diri Sendiri

    Syamsul Akmal mungkin tidak pernah mengejar Pin Emas. Ia tidak memulai perjalanan pada 2013 dengan membayangkan suatu hari namanya akan disebut sebagai tokoh masyarakat berprestasi. Ia hanya bekerja. Serius. Sungguh-sungguh. Ikhlas. Dan berusaha berkelanjutan.

    Kini, pemerintah melihat perjalanan itu. Masyarakat merasakan manfaatnya. Ribuan santri menjadi bagian dari perjuangannya. Dan sebuah penghargaan akhirnya datang.

    Maka ucapan Syamsul Akmal di tengah rasa haru dan syukur itu menjadi penutup yang paling tepat untuk perjalanan panjang tersebut: “Rupanya sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh, serius, ikhlas dan berkelanjutan, memberikan kebaikan kepada orang lain, apa yang dikerjakan itu juga memberikan kebaikan kepada diri sendiri.”

    Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Pin Emas tersebut. Jangan bekerja hanya karena ingin dihargai. Kerjakan yang baik karena memang itu yang harus dilakukan.

    Jangan mengabdi hanya agar nama dikenang. Bangunlah manusia agar kebaikan terus dikenang.

    Dan dari perjalanan Dr. H. Syamsul Akmal bersama Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau, ada ribuan santri yang menjadi saksi bahwa sebuah pengabdian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, serius, ikhlas dan berkelanjutan, pada akhirnya memang dapat menjelma menjadi cahaya bagi banyak orang. (Zul dan Da An)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad