window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'G-2BWP9LK8PX'); Hari Santri 2026: Leonardy Harmainy Dorong Santri Jadi Penjaga Persatuan dan Pemimpin Masa Depan - Sumbarkini

Header Ads

  • Breaking News

    Hari Santri 2026: Leonardy Harmainy Dorong Santri Jadi Penjaga Persatuan dan Pemimpin Masa Depan


    PADANG (SUMBARKINI.COM) — Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa membutuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, mampu menjaga persatuan, dan bersedia mengabdikan pengetahuannya bagi kepentingan masyarakat.

    Pesan tersebut sejalan dengan pandangan H. Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa, S.IP., M.H., yang dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan pesantren selama dia duduk di DPD RI (2014-2024) dan merupakan Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

    Dalam momen Hari Santri tahun ini, Leonardy menekankan pentingnya peran santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri harus menjadi garda terdepan NKRI.

    Leonardy mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi ulama dan santri. Semangat perjuangan itu, menurut pesan yang disampaikannya ketika itu, perlu diteruskan oleh generasi muda melalui pengabdian sesuai tantangan zaman.

    Kini, ketika Hari Santri Nasional kembali diperingati pada 22 Oktober 2026, dia mengajak para santri, "Renungkanlah bagaimana pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi yang bukan hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga siap menghadapi persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kebangsaan."

    Lebih jauh Leonardy mengatakan sejarah perjuangan Indonesia memperlihatkan bahwa kehidupan keagamaan dan semangat kebangsaan dapat berjalan beriringan. Salah satu tokoh yang kerap menjadi teladan ialah Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang dikenal memiliki kehidupan religius dan keteguhan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

    Keteladanan tersebut mengingatkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh jabatan atau kemampuan strategis, tetapi juga oleh integritas, kedisiplinan, keberanian, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

    Bagi kalangan santri, nilai-nilai itu dapat diwujudkan melalui tindakan sehari-hari: menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, menolak kekerasan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

    Di tengah perkembangan media sosial, tanggung jawab tersebut semakin penting. Perbedaan pandangan dapat dengan mudah berubah menjadi pertengkaran ketika disertai ujaran kebencian, fitnah, atau informasi yang menyesatkan.

    "Santri memiliki kesempatan untuk mengambil peran sebagai penyejuk. Bekal ilmu agama, apabila disertai sikap terbuka, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap sesama, dapat menjadi kekuatan untuk membangun percakapan yang sehat di tengah masyarakat," ujar pria yang akrab disapa Bang Leo, Kamis, 22 Oktober 2026.

    Menjaga NKRI, dengan demikian, tidak hanya dilakukan melalui tindakan besar. Hal itu juga tumbuh dari kebiasaan sederhana, seperti berkata jujur, tidak menyebarkan kabar bohong, membantu sesama, dan menyelesaikan perbedaan secara bermartabat.

    Pesantren Bukan Batas Cita-Cita

     Leonardy juga mendorong agar santri tidak membatasi cita-cita hanya pada satu bidang pengabdian. Ia mengajak para santri untuk terus menuntut ilmu setinggi-tingginya dan berani mengambil bagian dalam berbagai bidang kehidupan.

    Pesan itu penting karena pendidikan pesantren dan pendidikan umum tidak semestinya dipandang sebagai dua jalan yang saling bertentangan. Keduanya dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi yang memiliki kedalaman moral sekaligus kecakapan profesional.

    Santri dapat tumbuh menjadi ahli hukum yang menjunjung keadilan, ekonom yang mengutamakan kemaslahatan, pendidik yang mencerdaskan masyarakat, tenaga kesehatan yang melayani dengan empati, pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, maupun pemimpin publik yang menjaga amanah.

    "Gelar akademik dan jabatan, dalam kerangka tersebut, bukan tujuan akhir. Keduanya merupakan sarana untuk memperluas manfaat bagi orang lain," katanya lagi.

    Tantangan bagi pesantren bukan hanya mempertahankan tradisi keilmuan, tetapi juga membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, keterampilan berkomunikasi, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

    Penguatan kemampuan itu tidak harus mengurangi identitas keagamaan. Sebaliknya, nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian sosial dapat menjadi landasan ketika santri memasuki beragam profesi.

    Ilmu yang Diamalkan, Bukan Sekadar Dihafalkan

    Dalam kehidupan pesantren, belajar tidak berhenti pada penguasaan materi. Ilmu memperoleh makna ketika diterapkan dalam tindakan nyata.

    Leonardy mengingatkan pentingnya meneladani kedisiplinan, keteguhan, dan pengamalan ilmu dalam kehidupan. Pesan itu menyentuh persoalan mendasar dalam pendidikan: keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari perubahan perilaku dan manfaat yang dihasilkan.

    Santri yang memahami ajaran tentang kepedulian, misalnya, dapat menerapkannya melalui kegiatan sosial. Pemahaman tentang kebersihan dapat diwujudkan dalam lingkungan pesantren yang sehat. Sementara nilai keadilan dan kejujuran dapat menjadi pedoman ketika menghadapi persoalan di masyarakat.

    Jika nilai-nilai tersebut dipraktikkan secara konsisten, pesantren berpotensi menjadi pusat pembentukan karakter sekaligus ruang tumbuhnya kepemimpinan sosial.

    Ditegaskannya, di sinilah hubungan antara pendidikan, keteladanan, dan pengabdian menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menjelaskan kebaikan, tetapi juga mereka yang bersedia melaksanakannya.

    Hari Santri dan Tantangan Generasi Muda

    Peringatan Hari Santri Nasional 2026 berlangsung pada era ketika generasi muda menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kemajuan teknologi membuka kesempatan belajar dan berusaha, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa banjir informasi, tekanan sosial, serta perubahan kebutuhan dunia kerja.

    Dalam situasi tersebut, santri perlu memperoleh kesempatan yang memadai untuk mengembangkan potensi. Dukungan terhadap pesantren dapat diarahkan pada peningkatan mutu pembelajaran, penguatan kapasitas pendidik, akses teknologi, kesehatan lingkungan, dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Orang tua, pengelola pesantren, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat sipil juga memiliki ruang untuk berkontribusi.

    Kolaborasi diperlukan agar santri dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh keterampilan, dan memasuki dunia kerja tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupannya.

    Pada saat yang sama, keberhasilan pendidikan santri tidak seharusnya hanya diukur melalui prestasi individu. Kontribusi terhadap lingkungan, kepedulian kepada kelompok rentan, kemampuan merawat kerukunan, dan keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat juga merupakan ukuran penting.

    Menjaga Warisan Ulama dengan Menjawab Kebutuhan Zaman

    Bagi masyarakat Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya, pesantren memiliki hubungan erat dengan tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.

    Warisan itu akan tetap bermakna apabila tidak hanya dijaga sebagai kenangan, tetapi juga diteruskan melalui pendidikan, keteladanan, dan pengabdian.

    Dalam konteks ini, peran santri tidak terbatas pada kegiatan keagamaan di lingkungan pesantren. Mereka juga dapat berkontribusi dalam pendidikan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, penguatan solidaritas sosial, dan pengembangan kehidupan kebangsaan yang damai.

    Peringatan Hari Santri Nasional menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari telah hadir dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa, memberikan penekanan pada dua hal penting: menjaga keutuhan bangsa dan berani mengembangkan kemampuan diri untuk mengambil peran lebih luas.

    Dua hal tersebut tetap menjadi pekerjaan bersama. Santri membutuhkan kesempatan untuk tumbuh, sementara bangsa membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan ilmu, akhlak, dan tindakan nyata.

    Pada akhirnya, kebanggaan menjadi santri tidak cukup ditunjukkan melalui pakaian, simbol, atau seremoni peringatan. Kebanggaan itu menemukan maknanya ketika ilmu melahirkan kejujuran, agama menumbuhkan kasih sayang, dan pendidikan mendorong seseorang memberikan manfaat bagi sesama.

    Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia bukan hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang berintegritas, menghargai perbedaan, dan bersedia bekerja untuk kepentingan bersama. (Zul)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad