Header Ads

  • Breaking News

    40 Tahun Berlalu, Ikasmantri 86 Kembali Pulang: Dari Kawan Sekolah Menjadi Badunsanak Salamonyo


    MANDEH, SUMBAR (SUMBARKINI.COM) — Empat puluh tahun setelah meninggalkan bangku SMA, kehidupan telah membawa para alumni SMA Negeri 3 Padang Angkatan 1986 ke berbagai jalan.

    Ada yang berkarier di berbagai bidang, menjalani profesi masing-masing, mengemban jabatan, membangun keluarga, hingga menetap di daerah berbeda. Namun, ketika kembali dipertemukan dalam Reuni Akbar Ikasmantri 86, sekat-sekat perjalanan hidup itu seolah ditinggalkan sejenak. Yang tersisa adalah kenangan, tawa, persahabatan dan rasa persaudaraan.

    Ikatan Keluarga Alumni SMA Negeri 3 Padang (Ikasmantri) Angkatan 86 menggelar Reuni Akbar Ikasmantri 86 sekaligus Musyawarah Besar (Mubes) selama dua hari, 22–23 Agustus 2026, di Kulik Kayu Resort Mandeh.

    Mengusung tema “Kembali ke Masa Sekolah, Eratkan Persaudaraan 40 Tahun”, kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 112 alumni Angkatan 86.

    Bukan hanya alumni yang berdomisili di Sumatera Barat, reuni juga mempertemukan para alumni yang kini tinggal di luar daerah, di antaranya dari Pekanbaru dan Jakarta.

    Pertemuan setelah empat dekade itu berlangsung dalam suasana penuh keakraban, kebahagiaan dan nostalgia. 


    Membawa Pulang Suasana Masa Sekolah

    Reuni Akbar Ikasmantri 86 sengaja dikemas dengan nuansa era 1980-an. Mulai dari pengaturan tempat hingga berbagai aktivitas selama kegiatan dirancang untuk menghadirkan kembali atmosfer masa sekolah. Para alumni diajak sejenak meninggalkan rutinitas dan berbagai identitas yang melekat dalam kehidupan mereka selama ini.

    Games, senam pagi, hiburan hingga penampilan Band Patroli 86 turut menghidupkan suasana. Band tersebut bukan sekadar menjadi pengisi acara. Bagi para alumni, Band Patroli 86 juga membawa cerita tersendiri karena grup musik itu pernah meraih prestasi sebagai juara festival band se-Sumatera Barat ketika masih berada di bangku sekolah.

    Kenangan lama pun kembali hadir melalui musik dan kebersamaan. Bagi para alumni, empat puluh tahun ternyata bukan penghapus kenangan. Justru waktu membuat pertemuan kembali terasa semakin berarti.
    Dari Pertemanan Menjadi Persaudaraan

    Ketua Pelaksana Reuni Akbar Ikasmantri 86, Chairianto, mengatakan reuni kali ini tidak dimaksudkan hanya sebagai pertemuan setelah 40 tahun berpisah.

    Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mengubah hubungan pertemanan yang dibangun sejak sekolah menjadi ikatan persaudaraan yang semakin kuat.

    “Setelah 40 tahun lulus SMA, kita tidak hanya ingin kembali merasakan indahnya pertemanan masa sekolah, tetapi menjadikannya sebagai rasa badunsanak. Karena itu, tema yang kami usung adalah ‘Kawan Dulu, Kawan Kini, Badunsanak Salamonyo’,” ujar Chairianto.

    Semangat tersebut terasa dalam konsep reuni yang berusaha menempatkan seluruh alumni dalam suasana yang setara dan dekat.

    Wakil Ketua Pelaksana, Yanveryson, yang akrab disapa Papi Very, mengatakan reuni menjadi kesempatan bagi para alumni untuk sejenak kembali menjadi siswa seperti empat dekade lalu.

    Menurutnya, berbagai status sosial, jabatan maupun profesi yang melekat dalam kehidupan masing-masing tidak menjadi pembeda dalam pertemuan tersebut.

    “Reuni ini kami buat sebagai titik balik ke masa sekolah. Di sini kita meninggalkan sementara status sosial, jabatan dan profesi masing-masing. Semua melebur menjadi satu dalam suasana kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan. Dari pertemanan menjadi persaudaraan,” ungkap Yanveryson.

    Pesan tersebut menjadi salah satu nilai penting dari reuni: bahwa perjalanan hidup boleh membawa seseorang ke tempat yang berbeda, tetapi persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tetap memiliki ruang untuk dipertahankan.

    Kesuksesan pelaksanaan Reuni Akbar Ikasmantri 86 tidak terlepas dari dukungan para alumni, baik secara moril maupun materil. Kepedulian dan semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

    Panitia yang diketuai Chairianto, bersama Wakil Ketua Pelaksana Yanveryson, Bendahara Yuhelmi dan Bendri, serta Sekretaris Irma Suryani dan Hamdi, bekerja bersama dengan seluruh jajaran panitia untuk mempersiapkan kegiatan tersebut.

    Dukungan dari para alumni menunjukkan bahwa reuni bukan hanya tentang keinginan untuk bertemu, tetapi juga tentang kemauan untuk mengambil bagian agar sebuah kebersamaan dapat diwujudkan.

    Mubes, Adrian Nur Kembali Dipercaya

    Di tengah rangkaian reuni, Ikasmantri 86 juga menggelar Musyawarah Besar (Mubes) untuk menentukan kepengurusan periode 2026–2030. Proses Mubes dipimpin oleh Darmawan dan berlangsung secara demokratis.

    Dalam musyawarah tersebut, Adrian Nur kembali dipercaya secara aklamasi sebagai Ketua Ikasmantri 86 untuk periode ketiga. Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi amanah baru untuk membawa organisasi alumni tersebut terus berkembang dan tetap menjadi ruang silaturahmi bagi para anggotanya.

    Susunan kepengurusan Ikasmantri 86 periode 2026–2030 yang terpilih yakni: Ketua: Adrian Nur, Wakil Ketua: Fajri Usman, Sekretaris: Nita Apedisnita, Bendahara: Eva Suryani, Ketua Perwakilan Jakarta dan Sekitarnya: Erlina Panitri

    Usai kembali dipercaya memimpin, Adrian Nur menyampaikan komitmennya untuk membuat Ikasmantri 86 semakin aktif, solid dan memberikan manfaat bagi para alumni.

    “Kami siap memajukan Ikasmantri 86 bersama seluruh kawan-kawan alumni. Ke depan, kami akan berupaya menghadirkan berbagai program yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh alumni,” kata Adrian.
    Reuni yang Tidak Berhenti pada Nostalgia

    Empat puluh tahun perjalanan membuat banyak hal berubah. Para alumni telah menjalani kehidupan dengan pengalaman, profesi, keluarga dan tempat tinggal yang berbeda. Sebagian bahkan telah bertahun-tahun tidak bertemu.

    Namun Reuni Akbar Ikasmantri 86 memperlihatkan bahwa sebuah hubungan yang dibangun sejak masa sekolah masih dapat dirawat ketika ada kemauan untuk kembali membuka ruang pertemuan. Karena itu, makna reuni tidak berhenti pada foto bersama, nostalgia atau cerita tentang masa lalu.

    Ada harapan agar komunikasi antarkawan yang tersebar di berbagai daerah kembali terhubung. Ada pula semangat untuk menjaga kepedulian dan menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi sesama alumni.

    Pada akhirnya, 40 tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa persahabatan memiliki daya tahan ketika dirawat dengan kepedulian.

    Dari bangku sekolah, mereka pernah menjadi kawan. Empat dekade kemudian, mereka kembali bertemu sebagai keluarga besar.

    Kawan dulu. Kawan kini. Badunsanak salamonyo. (Zul/Anto)

    SUMBARKINI

    Website yang menampilkan informasi dan perkembangan terkini di Sumatera Barat dan mereka yang mau berjuang untuk kebangkitan ranah minang.

    Post Bottom Ad