Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur
Oleh H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., M.H
(Penasehat Jemaah Syattariyah Sumbar Riau, Jambi dan Bengkulu)
Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah SWT. dalam QS. Saba’ ayat 15:
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’"
Dari ayat ini kita mengenal ungkapan “Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur”, yang berarti negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.
Kisah kaum Saba’ mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan yang sejahtera bukan hanya karena alam yang subur, harta yang melimpah, atau pembangunan yang maju. Negeri yang baik adalah negeri yang penduduknya bersyukur kepada Allah, menjaga amanah, berbuat baik, dan menggunakan nikmat Allah dengan benar.
Kaum Saba’ dahulu diberikan berbagai kenikmatan. Tanah mereka subur, kebun-kebun menghasilkan buah yang melimpah, dan kehidupan mereka berada dalam keadaan makmur. Allah bahkan menyebut negeri mereka sebagai baldatun tayyibatun, negeri yang baik.
Namun, ketika manusia lupa bersyukur dan berpaling dari Allah, nikmat tersebut dapat berubah menjadi ujian. Karena itu, pesan penting dari ayat ini adalah: jangan hanya menikmati nikmat Allah, tetapi bersyukurlah kepada-Nya.
Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Jika kita diberi ilmu, maka ilmu itu digunakan untuk kebaikan. Jika diberi harta, maka harta digunakan untuk membantu sesama. Jika diberi jabatan, maka jabatan digunakan untuk melayani dan bukan untuk menzalimi.
Kalimat “wa Rabbun Ghafur” juga mengingatkan kita bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Manusia tidak luput dari kesalahan. Kita mungkin pernah lalai, pernah berbuat dosa, dan pernah kurang bersyukur. Tetapi jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Selama kita mau bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada-Nya, pintu ampunan Allah selalu terbuka.
Maka, jika kita ingin membangun keluarga yang baik, masyarakat yang baik, dan negeri yang baik, mari kita mulai dari diri sendiri. Perkuat iman, biasakan bersyukur, jaga lingkungan, hormati sesama, dan tunaikan amanah.
Semoga kita semua dapat menjadi bagian dari masyarakat yang mewujudkan “baldatun tayyibatun wa Rabbun ghafur”: kehidupan yang baik, penuh keberkahan, serta senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, masyarakat kita masyarakat yang rukun, dan negeri kita negeri yang aman, makmur, penuh keberkahan, serta diridhai oleh Allah SWT.
Salam
LH
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’"
Dari ayat ini kita mengenal ungkapan “Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur”, yang berarti negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.
Kisah kaum Saba’ mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan yang sejahtera bukan hanya karena alam yang subur, harta yang melimpah, atau pembangunan yang maju. Negeri yang baik adalah negeri yang penduduknya bersyukur kepada Allah, menjaga amanah, berbuat baik, dan menggunakan nikmat Allah dengan benar.
Kaum Saba’ dahulu diberikan berbagai kenikmatan. Tanah mereka subur, kebun-kebun menghasilkan buah yang melimpah, dan kehidupan mereka berada dalam keadaan makmur. Allah bahkan menyebut negeri mereka sebagai baldatun tayyibatun, negeri yang baik.
Namun, ketika manusia lupa bersyukur dan berpaling dari Allah, nikmat tersebut dapat berubah menjadi ujian. Karena itu, pesan penting dari ayat ini adalah: jangan hanya menikmati nikmat Allah, tetapi bersyukurlah kepada-Nya.
Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Jika kita diberi ilmu, maka ilmu itu digunakan untuk kebaikan. Jika diberi harta, maka harta digunakan untuk membantu sesama. Jika diberi jabatan, maka jabatan digunakan untuk melayani dan bukan untuk menzalimi.
Kalimat “wa Rabbun Ghafur” juga mengingatkan kita bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Manusia tidak luput dari kesalahan. Kita mungkin pernah lalai, pernah berbuat dosa, dan pernah kurang bersyukur. Tetapi jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Selama kita mau bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada-Nya, pintu ampunan Allah selalu terbuka.
Maka, jika kita ingin membangun keluarga yang baik, masyarakat yang baik, dan negeri yang baik, mari kita mulai dari diri sendiri. Perkuat iman, biasakan bersyukur, jaga lingkungan, hormati sesama, dan tunaikan amanah.
Semoga kita semua dapat menjadi bagian dari masyarakat yang mewujudkan “baldatun tayyibatun wa Rabbun ghafur”: kehidupan yang baik, penuh keberkahan, serta senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, masyarakat kita masyarakat yang rukun, dan negeri kita negeri yang aman, makmur, penuh keberkahan, serta diridhai oleh Allah SWT.
Salam
LH
