Festival Tadabur Yasin dan Mars Tarbiyah Kota Padang Didorong Jadi Ajang Tingkat Nasional
PADANG — Membaca Al-Qur’an adalah awal. Memahaminya adalah perjalanan. Namun, menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari menjadi tujuan yang lebih besar.
Semangat itulah yang ingin dibangun melalui Festival Tadabur Yasin dan Mars Tarbiyah se-Kota Padang yang digelar Majelis Taklim Yasin (MTY) Kota Padang di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Rabu (22/7/2026).
Festival tersebut secara resmi dibuka Wali Kota Padang Fadly Amran dan dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Yasril, Ketua MTY Kota Padang Nurlisma, Ketua MTY Sumatera Barat Salmadanis, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357, HUT ke-81 Republik Indonesia, serta hari ulang tahun MTY Kota Padang.
Mengusung tema “Menghidupkan Semangat Cinta Al-Qur’an dan Program Smart Surau Mencetak Generasi Penerus yang Bermartabat”, festival tersebut tidak hanya menjadi ruang perlombaan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.
Dari Tadabur Menuju Pembentukan Karakter
Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan Festival Tadabur Yasin dan Mars Tarbiyah memiliki keterkaitan erat dengan Program Unggulan (Progul) Smart Surau yang dijalankan Pemerintah Kota Padang.
Melalui program tersebut, Pemko Padang mendorong penguatan kemampuan keagamaan melalui konsep 3T, yakni Tahsin, Tafsir, dan Tahfiz.
Tahsin diarahkan untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an. Tafsir mendorong pemahaman terhadap makna dan kandungan ayat. Sementara tahfiz memperkuat hafalan.
Menurut Fadly, ketiganya tidak semestinya berhenti pada kemampuan membaca, memahami, atau menghafal Al-Qur’an. Lebih jauh, nilai-nilai tersebut diharapkan hadir dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia mengajak seluruh pengurus dan anggota MTY Kota Padang untuk ikut mengambil peran dalam membina keluarga melalui semangat Smart Surau.
Bagi Fadly, keluarga merupakan ruang pertama dalam pembentukan karakter anak. Dari sanalah nilai, kebiasaan, dan cara anak memandang kehidupan mulai dibentuk.
Penguatan peran keluarga juga dinilai penting sebagai salah satu upaya mencegah berbagai bentuk kenakalan remaja.
Menyimpan Harapan yang Sama
Ketua MTY Kota Padang Nurlisma mengatakan festival tersebut diikuti perwakilan MTY dari 11 kecamatan di Kota Padang.
Masing-masing kecamatan mengirimkan delegasi untuk mengikuti berbagai perlombaan yang digelar dalam festival tersebut.
“Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan MTY dari 11 kecamatan di Kota Padang. Masing-masing kecamatan mengirimkan delegasinya untuk mengikuti perlombaan,” ujar Nurlisma.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi MTY dalam mendukung visi dan misi Pemerintah Kota Padang untuk mewujudkan kota yang maju, cerdas, serta tetap berlandaskan agama dan budaya.
Dengan demikian, festival ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat bersama dalam membangun generasi yang berkarakter.
Bukan Sekadar Lomba
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Yasril berharap Festival Tadabur Yasin dan Mars Tarbiyah tidak berhenti sebagai ajang kompetisi.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari siapa yang menjadi juara, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an dapat diamalkan oleh peserta dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi juga menjadi sarana untuk mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena semangat tadabur pada dasarnya tidak berhenti pada membaca ayat. Tadabur mengajak seseorang untuk merenungkan makna, mengambil pelajaran, lalu menghadirkannya dalam sikap dan tindakan.
Didorong Menjadi Festival yang Lebih Besar
Fadly Amran berharap Festival Tadabur Yasin dan Mars Tarbiyah dapat terus berkembang pada tahun-tahun mendatang.
Ia mendorong agar jumlah peserta diperluas hingga melibatkan seluruh kelurahan di Kota Padang. Bahkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat berkembang ke tingkat Provinsi Sumatera Barat hingga nasional. Harapan itu menunjukkan bahwa festival tersebut memiliki potensi lebih besar dari sekadar kegiatan internal organisasi.
Di tengah tantangan perkembangan zaman dan perubahan perilaku generasi muda, upaya menghidupkan nilai agama, memperkuat peran keluarga, serta menghidupkan kembali fungsi surau menjadi pekerjaan bersama. Sebab, generasi yang bermartabat tidak lahir hanya dari ruang kelas.
Ia tumbuh dari keluarga yang membimbing, lingkungan yang peduli, pendidikan yang menguatkan, dan nilai-nilai agama yang tidak hanya dibaca, tetapi juga diamalkan. Dan dari sebuah festival, harapan itu kembali dihidupkan. (zul)
