Terapi Ikhlas
Ditulis oleh: Zulhendri Zulkifli Imam Said
Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Allah..."(QS. Al-Bayyinah: 5)
Allah memerintahkan kita untuk beribadah dan berbuat baik. Namun seluruh amal itu harus dibangun di atas keikhlasan, yaitu mengharap ridha Allah semata.
Para ulama salaf sangat menjaga keikhlasan mereka. Dikisahkan ada seorang ulama yang sedang menulis sebuah kitab. Ketika ulama itu merasakan ada keinginan agar dipuji sebagai penulis hebat, ulama itu merobek tulisannya dan mengulanginya karena ingin amalnya benar-benar hanya untuk Allah.
Demikian pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Ketika hampir mengalahkan musuh di medan perang, musuh itu meludahinya. Ali pun menahan diri, karena khawatir jika Ali membunuh saat itu, bukan lagi karena Allah, tetapi karena emosi. Keikhlasan lebih Ali jaga daripada kemenangan.
Namun bagi kita, jangan sampai alasan "belum ikhlas" membuat kita meninggalkan salat, sedekah, atau amal saleh lainnya. Kerjakan dahulu semua amal yang Allah perintahkan, lalu mohonlah kepada Allah agar Allah menyempurnakan keikhlasan kita.
Jangan sampai kita menyesal karena tidak beramal. Lebih baik terus berbuat baik sambil memperbaiki niat, kemudian terus memohon kepada Allah agar Allah mengantarkan kita menjadi hamba yang benar-benar ikhlas.
Orang yang ikhlas adalah orang yang paling tenang di dunia dan paling beruntung di akhirat.
Ya Allah, bersihkan niat kami dari riya, sum'ah, dan keinginan dipuji manusia.
